Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 7. Merebut Istri Orang


__ADS_3

Pov Nugroho 


Huff … perfecto pemirsa.  


“Sofie, you are the best wife in the world, terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku, aku akan lakukan yang terbaik demi cinta kita.” jawabku kembali menggombal dan tentu saja itu berhasil, dengan cepat tubuh rampingnya masuk ke dalam pelukanku. 


‘Dengan begini aku akan kembali meraih Sarasku!’ lanjutku di dalam hati. Tentu saja aku takkan pernah melupakan tujuan utamaku dalam emnikahinya!


“Jangan khawatir, aku yakin kamu mampu menjalankan perusahaan itu, aku akan selalu ada untuk setiap masalahmu sayang,” ucapnya begitu lembut sayangnya aku hanya bisa menjadi teman raganya bukan teman sehati untuknya.


Sofie jika dalam keadaan seperti ini, mirip sekali bagai malaikat penolongku, tapi jika sudah kembali pada wujud asli nya maka semua akan terasa menyeramkan di mataku. 


“Iya Sofie, all to be done, i’m promise,” jawabku.


Sekali lagi aku berusaha meyakinkannya. Aku tidak akan membiarkan dia menjelajahi pikiranku dan akhirnya mengetahui kalau masih ada nama Saraswati yang tertancap kuat di inti otakku. 


*****

__ADS_1


Pov Nugroho


“Rasanya aku kembali jadi muda lagi kalau seperti ini, aku akan berjuang untuk mendapatkan hatinya, walau usia kita terpaut jauh, aku rasa dia tidak akan menolakku. Apa yang kurang dari ku. Bukankah aku pria yang sangat matang, kaya, tampan dan masih kuat lahir batin. Mau berapa kali putaran Gelora Bung Karno? Keciiiil itu mah, demi adek tercinta apa sih yang nggak!” 


Sejak aku tau kabar gembira yang kemarin disampaikan Cokro, aku merasa ada harapan untuk hidup lebih lama lagi, mendadak kesehatanku mengalami peningkatan. 


Hari minggu aku berniat untuk menemui pujaan hatiku yang sudah terbebas dari jeratan mantan suaminya. Celana jeans belel, dengan harga yang sudah tentu mahal, melekat tampan di kakiku yang panjang, kaos berkerah dan bermerek kelas dunia tak kalah membuat penampilanku keren. 


Tongkat kepala naga hari ini sudah pensiun mendampingiku, ahh entahlah … ini puber yang keberapa, tapi yang jelas wanita itu mampu membuat darah mudaku kembali mengalir deras dan menggantikan darah tua ku yang kemarin terkontaminasi dengan kolesterol dan trigliserida. 


“Weiiss Kakek! Tumben rapi banget, mau kemana nih? Ajee gileee nggak salah liat ni? Waduh, gawat ini, gawat dan super gawat! Jangan bilang Kakek sedang mengalami puber jenis ubanan hahaha, mau cari nenek baru ya, Kek?” tanya Ravi mencemoohku.


“Kakek mau kencan. Emangnya hanya anak muda yang boleh bersenang-senang? Lagian kamu ngapain tumbenan banget datang ke rumah kakek?” tanyaku berusaha menyembunyikan siapa yang bakal jadi incaranku. 


Dasar Ravi sungguh membuatku merasa susah hati dan juga susah untuk melakukan rencanaku mendekati si pujaan hati, yang ada aku bakal dibuat rempeyek remuk sama bocah tengil ini, dan kalau dia sudah di rumah, alamat aku tidak bisa kemanapun. 


“Hahahaha, Kakek … Kakek! Inget umur sono, masa lupa sama liang lahat yang udah menganga hahaha! Kenapa Kakek udah tua bukannya banyak ibadah tapi malah berubah jadi ge^nit begini sih? Ehh, bentar-bentar, itu uban pada ngungsi kemana kek? Kok warnanya udah jadi hitam lagi?” Dengan gaya cemooh super, cucuku ini membuat mental yang tadi begitu semangat langsung down.

__ADS_1


Cucu kesayanganku ini selalu rusuh kalau dateng ke rumah ini, mau ngusir juga gak mungkin, mau bertahan itu si gebetan pasti udah nggak di rumah lagi. Dilema juga dibuatnya.


“Isshh kamu ini, sana pulang! Kakek bisa telat nih.” Aku dengan sengaja merajuk? Biasanya jurus itu aku pakai dan berharap akan berhasil, tapi sejurus kemudian malah dia mengajakku mendengarkan curhatannya.  


“Kek … kencannya di tunda dulu ya, Ravi mau curhat nih,” potongnya cepat.


Laahh busyeett … fix aku bakal gagal kencan, padahal kedatangan ku kali ini mau memberikan kejutan, tapi cucu kesayanganku yang dur^jana ini membuat semuanya amburadul. 


“Mana bisa begitu, curhatmu aja yang ditunda pas malam jumat ya?” ucapku bernegosiasi, entah apa hasilnya yang penting kan aku berusaha dulu. Ohh sayang kamu sabar ya, abang akan datang! 


“Mana mau Ravi diganti jadwalnya, kakek itu sebenarnya sayang nggak sih sama Ravi? Aku kan cucumu satu-satunya Kek. emangnya Kakek lupa kalau kemaren nyuruh aku cepat menikah, laah sekarang kakek malah mau enak-enakan sama mantan bini orang di atas penderitaanku yang sekarang sudah berdarah-darah ini. Lagian masa aku di suruh nunggu malam jum’at? Emang mau baca surat Al-Kahfi bareng aku? Emang mata Kakek masih bisa baca Al Qur'an?” 


Isshh, inilah yang aku tidak suka darinya, selalu saja dia minta hatiku secara paksa, dan mana bisa aku melihat cucu pewaris tahta ku ini bersedih hati, mana mengaitkan segala lagi dengan kitab suci kami. Sudah pasti aku harus kembali mengalah demi cucu kesayangan ini. Aku memang kakek tauladan, aku tidak mungkin bersenang-senang di atas deritanya. 


“Huff oke sekarang kita ke taman belakang saja,” tuuh kan wajahnya langsung sumringah, dan bagaimana dengan wajahku yang tadi seperti om-om senang? Sekarang berubah kisut lagi. Dengan sigap cucuku ini melesat menuju taman belakang, sebelumnya dia meminta mbok Mi membuatkan minuman kesukaannya dan cemilan untuk bekal curhat. 


“Katakan cepat, sebenarnya apa yang mau kamu ceritakan sama kakek?” tanyaku memerintah dengan rasa tidak sabar.

__ADS_1


 Aku melihat Ravi yang sedari tadi sedikit bingung, entah apa yang bocah ini bingungkan, padahal aku sudah siap untuk menjadi pendengar yang baik untuknya.  


“Kek, aku mau merebut istri orang!” 


__ADS_2