
Malam ini Saras dan John diundang makan oleh tuan besar Nugroho. Namun tanda , hanya sadar yang bisa hadir malam ini di rumah tuan besar Nugroho karena John masih melakukan penyelidikan terhadap seseorang yang masih saja belum sempurna dalam mendapatkan faktanya. Lelaki intel itu bahkan sudah memberikan semua informasi yang dia dapatkan, dan itu semua valid serta bisa di pertanggung jawabkan.
[Begitulah cerita tentang cucu Anda, Tuan. Saya harap Tuan bisa memahami apa yang sudah saya lakukan bersama ibu Saras selama ini. Saya hanya bisa Ikut mendoakan anda, semoga Tuan Ravi bisa segera kembali menjadi orang yang jauh lebih baik lagi!] pungkas John setelah menceritakan seluruh apa yang diketahuinya serta bukti dan fakta yang telah diberikan lewat panggilan VC.
Tuan besar itu nampak terpukul dengan kenyataan yang dia terima. Malam ini John tidak bisa datang karena masih sibuk memantau Ravi, Saraswati tidak bisa mengikutinya karena dia sendiri banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih besar di perusahaan Jamoe Jitoe.
“Lanjutkan penyelidikanmu! Saya sebenarnya masih sangat berharap jika semua ini hanyalah sebuah mimpi bukan kenyataan yang sebenarnya telah dilakukan cucu saya sendiri! Selamat bekerja John!” Pria yang sudah mulai menjelang usia senja itu meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap wajah Saras dengan rasa putus asa, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Tuan Nugroho memiliki harapan yang begitu tinggi terhadap sang cucu.
Selesai makan malam, tuan besar Nugroho mengajak Saras untuk duduk di ruang keluarga. Setelah meminum obat jantung yang rutin di konsumsinya, Pria tua itu menarik nafasnya dalam-dalam. Sebelum menyampaikan sesuatu terhadap wanita yang juga sudah diungkapnya sebagai cucu sendiri dan juga telah begitu banyak berjasa pada perusahaan miliknya.
“Saras, saya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan sama Ravi, ingin tidak percaya tapi ini semua kenyataan. Dia cucu kesayangan saya, yang saya harapkan bisa menggantikan posisi untuk memegang tampuk kepemimpinan perusahaan ini. Papanya sudah tidak pernah lagi menginjakkan kaki dirumah ini, karena sesuatu dan lain hal. Padahal perusahaan jamu yang dulu hanya kecil sekarang telah berkembang dan berubah menjadi perusahaan raksasa dengan ribuan karyawan.”
__ADS_1
Uhuk! Uhuk!
Nugroho membuka pembicaraan dengan suara berat dan saat terbatuk Saras dengan cepat mengambil air yang sudah tersedia di atas meja. Menyodorkan pada Seorang pria yang juga sudah dianggapnya sebagai kakeknya sendiri, walau mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
“Tuan, anda jangan terlalu banyak berpikir, saya tidak mau melihat anda jatuh sakit. Tolong, Tuan Besar, mari saya antar untuk beristirahat,” ajak Saras yang merasa pilu melihat raut kecewa di wajah tua milik sang tuan besar yang selama ini selalu menyayanginya.
Hati siapa yang tidak akan merasa hancur ketika mengharapkan sang cucu yang selalu dicinta dan juga dimanja untuk menjadi ahli waris satu-satunya, ternyata malah sangat mengecewakan. Bahkan jika sampai perusahaan miliknya diserahkan total terhadap sang cucu, bisa saja perusahaan itu akan ikut hancur dalam waktu sekejap mata di atas meja judi di cucunya. Bagaimana mungkin Tuan Nugroho tidak menjadi stress dan kepikiran ketika mendapati kenyataan cucu yang diharapkan malah bisa sebagai musuh yang akan menghancurkan!
Lalu bagaimana dengan nasib ribuan karyawan yang berpegang di bawah atap perusahaan miliknya selama ini? Entah apa yang harus dilakukan Tuan Nugroho sekarang, sementara umurnya semakin bertambah tua yang berarti kematian akan segera tiba.
Tuan Nugroho bicara dengan begitu perlahan, menyampaikan satu persatu tentang kekecewaannya terhadap Ravi dan juga harapannya terhadap Saraswati yang memang sudah diprediksikannya akan menggantikan posisi yang selama ini didudukinya. Tidak ada gunanya hubungan darah yang mengalir di tubuh Sang cucu jika nanti hanya akan membuat ribuan karyawannya menjadi pengangguran secara mendadak, jadi tuan Nugroho memutuskan akan mengalihkan kedudukan sebagai jabatan tertinggi di perusahaan terhadap wanita muda yang baru saja mendapatkan gelar seorang janda.
__ADS_1
Saras mendengarkan semuanya dengan wajah tidak percaya, wanita cantik itu menggeleng kecil tanda tidak setuju. Apa kata dunia jika sampai dia yang bukan siapa-siapa memegang tampuk yang seharusnya dipegang oleh sang cucu mahkota.
“Tapi Tuan besar, seperti saya gak mung —” belum selesai Saras berbicara, wanita itu terdiam karena melihat tangan tuan Nugroho yang terangkat tanda meminta Saras untuk tidak melanjutkan kalimatnya.
Pria tua itu kembali menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, dia sangat berusaha mengendalikan emosi dan kecewa yang menghantam dirinya secara bersamaan.
“Saras dengarkan saya, mungkin umur saya tidak akan lama lagi, bahkan wasiat pun sudah saya persiapkan. Nanti Cokro akan mengurus semuanya jadi kamu harus tau Saras, perusahaan Jamoe Jitoe yang kita bangun bersama ribuan karyawan itu harus terus berjalan dan tetap menjadi nomor satu, sebab semua itu bukan untuk kenaikan saya sendiri,” terangnya dengan wajah sayu.
Mendengar apa yang dituturkan oleh sang pemilik perusahaan Jamu Jotoe, Saraswati menatap sepasang netra yang sudah terlihat letih itu. Saraswati masih belum berani mengeluarkan suara, walaupun banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya. Gadis itu merasa bingung sendiri harus bersikap dan menanggapi seperti apa tentang permintaan Tuan Nugroho barusan.
Dirinya hanya memikirkan kesehatan Tuan Nugroho yang terlihat begitu terpukul dengan kenyataan tentang siapa Ravi sesungguhnya. Saras sangat takut kalau di usianya yang menjelang senja akan tak mampu lagi berpikir terlalu berat tentang kondisi cucunya.
__ADS_1
“Saras … sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri untuk menerima keadaan seburuk apa pun! Saya sadar kalau kita tidak boleh menggantungkan harapan sekecil apapun kepada manusia. Ravi memang cucu kandung saya, tapi bukan berarti secara otomatis dia akan menguasai apa yang sudah ada saat ini. Saya hanya ingin kamu yang menggantikan posisi Ravi,” paparnya menjeda kalimat sesaat.
“Sebenarnya saya telah menyampaikan pada pengacara perusahaan untuk melakukan sesuatu yang mungkin saja akan membuat Ravi menyesal seumur hidupnya! Saya akan mendirikan beberapa panti sosial untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu. Jadi mulai besok, Cokro akan mengurus pendirian sebuah yayasan non profit, saya sudah menyiapkan sejumlah dana yang saya tabung selama ini untuk membuat sekolah gratis bagi anak tidak mampu, panti asuhan, dan juga panti jompo. Jika saya menemui ajal nanti, semua keuntungan yang menjadi bagian saya tolong kamu atur dan berikan kepada yayasan itu!” pungkasnya dengan senyuman yang semakin terlihat menua.