
"Ravi, jika bukan kamu, memangnya siapa yang akan meneruskan perusahaan Jamoe Jitoe itu?" tanya Nugroho tanpa sedikitpun terpancing emosi. Ravi menatap sang kakek, saat ini pikiran pemuda itu sangat kacau, kemana arah pemikiran sang kakek saat ini.
“Ya jelas aku lah kek, tapi aku juga ingin memiliki kebanggaan sendiri, dimana keberhasilan itu aku raih dengan tangan dan keringatku sendiri. Kakek tidak akan mengerti dengan apa yang aku lakukan secara diam-diam itu walau mungkin kakek nggak bakalan pernah merasa bangga karena aku punya prestasi di dunia gelap,” jawab Ravi panjang lebar, emosinya perlahan mulai turun, pikirannya mulai mencari tahu apa yang sudah kakeknya lakukan selama dia pergi dan apa yang dia lewatkan.
“Ravi, apakah Saraswati bisa menerima pencapaian yang kamu banggakan itu? Apakah Saraswati bangga dengan tahtamu sebagai raja haram? Maksud kakek, apa Saras akan bangga memiliki seorang kekasih yang ternyata menghasilkan uang dan banyak harta dengan cara haram? Pernahkah kamu bertanya kepadanya apa yang dia inginkan untuk masa depan kalian jika sampai ke jenjang pernikahan nanti? Ingatlah, kalau hidup bersama itu tidak cukup bicara tentang sebesar apa kita mencintai pasangan, seberapa percaya kita dengan kejujuran masing-masing diri. Hidup bersama itu tentang apa yang akan kita capai sampai akhir hayat nanti, pahami itu agar kamu tidak tersesat dalam cinta dan mencintai. Kehilangan cinta bisa membuat orang menjadi gila, tetapi kehilangan kepercayaan akan membuat dunia kita runtuh dan tenggelam seketika,” nasehat Nugroho dengan tangan menepuk pundak cucunya pelan.
__ADS_1
Ravi tertegun dengan semua kalimat yang menghujam pikiran dan hatinya. Pria itu berpikir lagi dan lagi, bayangan Saraswati berkelebat di matanya setelah apa yang diucapkan sang kakek. Apa kabar wanitanya sekarang? Bahkan sejak pertengkaran salah paham antar mereka waktu itu, Ravi sama sekali tidak pernah menghubungi Saras untuk sekedar menjelaskan, dia hanya sibuk dan larut dalam kesibukan dunia bawah tanahnya.
“Kek, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Saras?” tanya Ravi mulai tenang.
“Saras sudah mengetahui semuanya, tapi dia wanita yang hebat tanpa menghakimimu yang selama ini telah membohonginya. Seperti itulah yang kakek kenal selama ini, kakek tidak mengkhawatirkannya. Sayangnya kakek tua ini malah justru mengkhawatirkanmu anak bo^doh. Saras sama sekali tidak menangis atau terlihat rapuh saat mengetahui kenyataan tentang dirimu yang menyebalkan! Aahh dia memang jagoan dan selalu membuat kakek merasa bangga seperti punya cucu perempuan kandung saja. Wanita yang bernama Saraswati itu hanya memiliki sedikit toleransi, kan kakek sudah pernah mengatakannya padamu. Jadi kau sudah bisa menebak keputusan seperti apa yang bakal diambilnya untuk hubungan kalian.” Nugroho meraih air mineral dan menyesapnya dengan santai.
__ADS_1
Ravi merasakan sesak di dadanya, bagaimana mungkin dirinya sempat melupakan sosok yang telah mengubah dirinya walau hanya sesaat. Dia tidak siap jika harus kehilangan Saras, tapi dia sendiri merasa takut untuk berhadapan dengan janda muda itu. Harus marah ataukah dirinya harus bersujud meminta maaf pada kekasihnya? Ravi benar-benar sedang berada di persimpangan jalan penuh rasa ragu.
“Kakek, aku ingin bertemu Saras, apakah kira-kira dia bersedia untuk bertemu denganku?” tanya Ravi kecut, dia tidak pernah mundur saat di tantang oleh musuh judinya, tapi untuk bertemu dengan seorang Saras, entah kemana semua keberanian yang dia miliki selama ini.
Dirinya merasa malu dan terlalu kecil sekedar mengakui kesalahannya yang tega berdusta dan pergi begitu saja tanpa berita. Mampukan dirinya menghadapi wanita bersifat dingin dan irit bicara ketika mode killernya tiba? Astaga, rasanya Ravi seperti anak remaja saat akan berhadapan dengan guru BK setelah ketahuan berbuat salah melanggar peraturan sekolah saja.
__ADS_1