
POV Cokro.
Persiapan sudah sangat matang, tidak lupa sekuntum mawar merah telah aku siapkan untuk meluluhkan hati sang janda yang baru saja resmi disandang Saras. Bahkan aku kembali memeriksa apa lagi kira-kira yang kurang. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Kira-kira nanti cara ngomong yang bakal membuat Saras terpesona, gimana ya? Apa aku perlu latihan? Hmm kayaknya aku harus menelpon si Ravi nih, dia kan dewa judi yang banyak dikelilingi wanita seksi, pastinya kan bisa juga mengajarkan cara untuk meluluhkan hati wanita kayak yang ada di film-film itu.
Aku pun mulai mencari ponsel yang tadi ku letakkan entah dimana, dan ternyata ponsel itu tak kemana-mana malah bersembunyi di dalam saku celanaku. Memang kalau lagi jatuh cinta ternyata mampu membuat orang suka lupa segalanya hahaha.
Tuut!
Tuut!
Tuut!
__ADS_1
[Heyy Bro, tumbenan lo nelpon gue, kenapa nih? Ngomong yang cepet, soalnya gue lagi gak ada waktu buat ngelayanin elo!] sahut Ravi dari tempat yang berbeda, terdengar kesal dengan nada ketus. Entah apa salahku.
“Jiiaahh, galak amat lo, bro. Sahutan lo udah kayak emak-emak komplek yang lagi ribut harga minyak naik tau, gak?”
Aku sedikit heran karena tumben sekali anak band ini seperti orang yang sedang galau meracau kayak kerbau kehilangan kubangan.
[Ada apa sih lo ngubungin gue, urusan pribadi apa urusan negara?] tanya Ravi dengan nada yang masih sama, kecut dan kesal.
“Bro, bantuin gue dong! Rencananya gue mau ngajakin Saras buat makan malem romantis berdua, terus gue mau jadikan dia calon ibu dari anak-anak gue. Tapi gue bingung mau ngomongnya gimana, tolongin dong bro bos,” rayu seperti anak kecil karena memang selama ini belum pernah merasakan hal sebegitu antusiasnya dalam mendapatkan seorang wanita.
Aku sangat gugup dengan acara malam ini, hingga panggilan ke Ravi pun terasa aneh di telingaku sendiri, brobos apa bosbro, peduli amat lah, yang penting aku bisa terbantu.
__ADS_1
[Eh lo ya, baek-baek kalo ngomong, lo kata gue kentuuut, bosbro apa brobos! tae lo] teriak Ravi membuatku sedikit menjauhkan benda pipih dari telinga biar tak pecah saat mendengarnya, seperti nada suaranya mencapai sembilan oktaf membuat telingaku berdenging.
“Waah bahaya nih, lo lagi PMS? Tumben galak amat!” sindirku.
Aku merasa semakin tidak sabar dengan lambatnya dia memberikan jawaban atas pertanyaanku.
[Lo tinggal bilang aja sama dia. Saras … maukah kau menjadi istriku, akan aku berikan seluruh hidupku untukmu seorang, abis tu lo liat reaksinya, kalo positif ya rejeki lo, kalo negatif ya derita loe]
Klik!
Yaaah dimatiin, astaga ini penyakit baru Ravi kali, ya? Soalnya tumbenan banget dia nggak seramah biasanya. Saran Ravi tadi kenapa malah bikin bulu kuduk ini sedikit merinding ya? Mana pake acara positif negatif kayak lagi nungguin hasil hamil apa tidaknya seorang wanita saja. Yah, mau gimana lagi, akan tetap kucoba saja, siapa tau aku bisa berhasil mendapatkan hati Saras. Aku tak bisa membayangkan betapa bahagianya bisa hidup bersama seorang wanita mandiri seperti dirinya.
__ADS_1
Sebelum melangkah aku berdo’a semoga Tuhan mengabulkan harapan yang sudah kutanam di dalam hati ini. Saras, tunggulah pernyataan cinta dariku!