Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 58. Jaga Cucu Saya


__ADS_3

"Hubungan dengan Surya biasa saja, Tuan. Dia masih teman yang baik," jawab Saras sekenanya.


Tuan besar Nugroho senang dengan latar belakang Surya yang pekerja keras dan juga merupakan orang setia akan janjinya, zaman seperti sekarang sudah sangat sulit menemui orang yang seperti Surya.


Walaupun Surya adalah pesaing bisnisnya, tapi pria itu bersaing sehat tanpa sedikitpun bermain curang. Tidak lama setelah mereka bicara panjang lebar, Surya pun sampai di kediaman tuan besar Nugroho. Pria itu langsung dipersilahkan masuk oleh asisten rumah tangga yang menyambut pria itu di pintu depan.


“Panjang umur juga kamu ternyata! Padahal baru saja kami membicarakan tentang siapa kamu dan kisah kalian bersama cucu angkatku ini. Alhamdulillah, ternyata Tuhan dengan cepat mempertemukan kita, ayo Surya silahkan duduk dulu!” ucap sang empunya rumah dengan ramah mempersilakan lelaki itu untuk bergabung.


Surya menjabat tangan dan tidak lupa mencium punggung tangan sang pria tua dengan banyak pengalaman begitu takzim, tanpa merasa risih apalagi malu.


Untuk sesaat Nugroho merasakan kehangatan pada hatinya, saat mendapati aliran darah yang naik ke atas memenuhi pori-pori kulitnya merasa kebahagiaan yang sudah lama tak pernah dirasakan selama ini. Pria tua itu teringat akan sosok sang cucu yang setelah menginjak usia dewasa tak pernah sekalipun memperlakukannya seperti apa yang barusan dilakukan Surya terhadapnya.


Sebagai seorang pengusaha yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, Nugroho pandai membaca orang lain dari bahasa tubuh sampai mimik wajah dan sorot mata. Jatuh bangun saat membangun perusahaan Jamoe Jitoe menjadikan pria berusia senja itu dengan mudah menilai karakter Surya. Pria yang tenang, menandakan kematangan berfikir dan tempaan perjalanan yang akhirnya membentuk seorang Surya menjadi sosok yang berwibawa dan berkharisma kuat.


“Gimana perkembangan bisnismu, Surya?” tanya Nugroho setelah panjang berbincang untuk pengenalan. Surya yang dengan cepat beradaptasi mampu mengatasi rasa canggung nya karena pria itu saat ini sedang berhadapan dengan pengusaha kawakan dengan jam terbang tinggi.


“Alhamdulillah berkat doa anda dan banyak orang, Tuhan memberikan banyak kemudahan, tapi saya masih harus banyak belajar lagi, Tuan. Sebuah takdir yang luar biasa untuk saya hari ini karena bisa bertemu dengan tuan besar Nugroho, sehingga membuat saya yang anak bau kencur ini bisa langsung belajar untuk menjadi sukses dari anda. Semoga anda berkenan,” jawab Surya dengan panjang lebar, Pria itu tampak tulus saat mengucapkan kalimat yang terdengar merendah di telinga Nugroho.


“Kamu bisa saja, surya. Kau merupakan pengusaha muda yang sangat hebat, teruslah berusaha tapi pesan saya hanya satu. Jadilah pengusaha yang tidak hanya bisa membesarkan perusahaan, tetapi juga bisa membesarkan hati, agar kamu tidak sendiri,” pesan Tuan Nugroho penuh arti.


“Saya akan selalu mengingat pesan Anda, Tuan dan terima kasih atas nasehatnya,” jawab Surya tanpa merasa tersinggung.


Surya dan Saras menyimak kalimat penuh makna itu, tampak sekali kematangan berfikir Nugroho di usianya sekarang, pria sepuh itu selalu saja menyematkan nasehat tersirat saat sedang bersama dengan orang yang membuka diri untuk dirinya.

__ADS_1


Surya tidak menanyakan apa makna yang diucapkan oleh orang yang seumuran dengan kakeknya itu. Pria tampan berprestasi itu menyimpan kalimat filosofi dengan sarat makna itu dalam hati dan pikirannya, dia akan selalu mengingat nasehat mahal itu.


“Iya tuan, saya akan mengingat dan menganalisa apa yang barusan anda ajarkan, Doakan saya mampu menerapkannya dalam kehidupan hari ini dan seterusnya.”


Setelah mereka berbincang-bincang dengan sangat hangat, tibalah waktunya Saras dan Surya berpamitan untuk pulang. Apalagi malam semakin larut.


Nugroho merasakan kebahagiaan dan kehangatan keluarga, ternyata inilah manfaat silaturahmi walau mereka tidak memiliki hubungan darah.


‘Cucu kandungku sedang asik dengan dunianya sendiri, tetapi dengan cara yang luar biasa unik, ternyata Tuhan menggantikan dengan dua orang yang bisa membuatnya merasa bahagia. Terimakasih ya Allah … Engkau memang paling Maha Mengetahu apa dibutuh hamba Mu,’ batin tuan Nugroho.


Saat di teras, tidak lupa Nugroho mengusap kepala Saras dengan sayang dan menepuk pundak Surya dengan lembut.


“Jika kalian berdua sudah saling merasa nyaman, kakek merestui hubungan kalian. Surya nikahilah cucu angkatku ini dengan baik, ayolah kalian berdua jangan jadikan orang tua ini menjadi asing di antara kalian, anggaplah aku ini sebagai kakek kalian. Tidak ada bantahan, hahaha apa lagi Saras sebentar lagi yang akan ahh, sudah lah! Malam makin larut, kalian tidak bagus berduaan terlalu lama!”


Tuan Nugroho hampir saja keceplosan mengatakan kalau dirinya telah menjadikan Saras sebagai penerus perusahaan dan juga akan menjadikan wanita bergelar janda muda itu sebagai pimpinan semua yayasan yang didirikannya.


Saras dan Surya yang mendapatkan kalimat tak terduga itu saling melihat satu sama lain. Surya pun mengangguk kecil. Saras tersenyum bahagia, hatinya terus saja bersyukur, Allah memberikan perjalanan yang berliku tajam dan sedkit membingungkan, tapi Allah juga memberikan kebahagiaan setelahnya. Akan ada pelangi setelah bumi di guyur hujan, seperti itulah yang sering kita dengar dan hal itu saat ini terjadi pada diri Saras.


“Terima kasih banyak, Kakek, Saras akan memanggil anda dengan panggilan kakek sesuai keinginanmu dari sekarang. Saras juga akan menuruti semua nasehat dari Kakek yang penting sekarang kakek merasa bahagia,” ucap Saras sengaja mengabulkan satu permintaan tuan Nugroho yang selama ini teramat berat untuk diucapkannya.


Mendengar uncapan dari Saras, membuat kedua pelupuk mata lelaki yang dipanggil kakek itu langsung saja berkaca-kaca. Pertemuan yang sangat tidak disangka-sangka itu, membuat hati Surya sangat bahagia. Apalagi melihat raut wajah tuan Nugroho yang memancarkan kasih sayang tulus pada wanita yang dicintainya, walau hubungannya dengan Saras masih dalam status belum jelas.


“Kalau begitu, kami pamit dulu, Tuan. Saya akan mengantar Saras pulang ke kontrakannya,” pamit Surya menyalami sang empunya rumah.

__ADS_1


"Tolong jaga cucu perempuan saya ini!" katanya menepuk pelan bahu Surya.


"In syaa Allah, Tuan!" sahut Surya pelan.


“Aku pulang dulu, Kek,” timpal Saras ikut menyalami dan mencium punggung tangan tuan Nugorho dengan penuh rasa harus.


“Kalian berdua, hati-hati di jalan!” pesannya lagi.


“In syaa Allah, Kek,” sahut Saras.


“In syaa Allah, Tuan.”


“Assalamu’alaikum,” cakap mereka serempak dengan melambaikan tangan. Keduanya masuk ke dalam mobil.


Setelah keduanya berada di dalam mobil Surya, lelaki itu menoleh sesaat ke samping, memastikan jika Saras telah mengenakan seatbeltnya. Ternyata Saras setelah duduk di atas mobil, bukannya langsung memakai sabuk pengaman tetapi malah kembali memikirkan apa yang telah diucapkan Tuan Nugroho — sang pemilik perusahaan.


Sepertinya wanita itu belum mau menceritakan amanah yang baru saja diterimanya dari tuan Nugroho yang harus dikerjakannya dengan sangat hati-hati dan penuh pertanggungjawaban. Namun, di dalam hati sudah terbersit jika dirinya akan meminta pendapat dari Surya tentang semua yang telah disampaikan Tuan Nugroho padanya. Tidak akan mungkin Saras bisa melewatinya sendirian, apalagi setelah mengetahui tentang siapa sosok Ravi yang sesungguhnya.


“Eh!” Wanita itu terbelalak saat mengetahui wajah Surya telah berada di dekat pipinya, hanya sekitar sejengkal dari wajahnya sendiri membuat Saras langsung merasa kaget.


“Apa yang kamu lakukan, Surya?” tanya wanita itu dengan wajah tegang dan jantung berdegup kencang, Saras mengalihkan wajahnya ke samping kiri.


“Aku hanya membantumu memasangkan sabuk pengaman, jangan bilang kalau barusan kamu memikirkan sesuatu yang jorrok, hem?” goda Surya dengan sengaja mencubit lembut hidung Saraswati.

__ADS_1


‘Astagfirullah, ternyata aku salah paham. Padahal tadi aku benar-benar memikirkan kalau Surya akan memberikan kiss untukku.’ Saras menghela napas nya dengan lega. Membuang pandangan kembali ke luar kaca mobil untuk menghilangkan rona malu atas pikirannya sendiri terhadap laki-laki yang berada di balik kemudi.


‘Ya Allah … sepertinya otakku harus dibersihkan.’


__ADS_2