Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 17. Masuk UGD


__ADS_3

Pov Ravi


Aku memang sengaja ingin merusak suasana dinner di Cokro dengan Saras kekasih hatiku, tetapi hatiku begitu sangat senang saat mendapatkan kalau ternyata Saras mengirimi aku pesan dan mengatakan jika dirinya baru saja keluar dari restoran setelah merayakan keberhasilan Cokro menangani gugatan cerainya wanita itu sedang bersiap untuk kembali ke kantor.


Sepertinya aku baru saja mendengar ada yang minta tolong, coba aku liat, mending sekalian aja bawa mobil biar bisa sekalian pulang. Saras tega ya kamu, kencan sama sahabatku sendiri, mana ngasih kabar udah selesai makan lagi. Dimana ya tadi arah suaranya?


“Aaakkkhh!”


Ya Allah itu siapa? Aku mempercepat laju mobilku mengarah ke pintu masuk, dan dari kejauhan aku melihat beberapa orang berkerumun. Ku parkir mobil mewahku di dekat kejadian. Seseorang yang berusaha menopang tubuh seorang gadis, karena panik aku tidak terlalu memperhatikan siapa gadis yang sudah bersimbah darah itu, darah segar keluar dari perutnya.


Sepertinya itu korban dari sebuah tusukan pisau atau bisa saja celurit karena memang terkadang ada geng motor yang beraksi pada malam hari tanpa tahu waktu dan tanpa ada rasa takut.


“Panggil ambulan, cepat!” perintah seorang bapak dengan berteriak. Bapak itu sepertinya mulai tidak kuat karena tubuhnya yang juga sangat kurus sekali. Sepertinya dia merasa keberatan menopang tubuh korban. Dengan langkah terburu, aku berusaha menangkap tubuh ramping gadis itu agar tidak menyentuh aspal.


Tap!

__ADS_1


Aku berhasil menangkap tubuh itu, sungguh aku terkejut melihat siapa yang menjadi korban.


“Saras!” seruku Reflek menyebut nama orang yang begitu sangat kucintai ternyata malah menjadi korban dan ini membuatku merasa sangat bersalah karena tak bisa menjaganya.


Seharusnya aku datang lebih awal karena memang sudah mengetahui semua rencana Cokro sebelumnya yang ingin mengajak Saraswati dinner malam ini, tapi karena hatiku merasa sedikit kesal sebab Saras sama sekali tidak mengabari ku, membuatku sedikit terlambat datang kemari.


Suaraku benar-benar seakan tercekat, melihat wajah yang pucat pasi bagai mayat yang sudah tak punya darah. Aku merasa kehilangan akal. Tapi dengan sigap aku mengatakan kepada bapak yang tadi menolongnya.


“Tolong bawa ke mobil saya saja Pak, saya sangat mengenal wanita ini!” ucapku lantang.


Setelah aku rasa cukup nyaman, mobil aku jalankan dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata agar tidak terlambat. Pikiranku kacau melihat Saras yang hanya diam saja, apakah dia pingsan? Dasar otak punya sedikit govlok, tentu saja wanita itu sedang tak sadarkan diri dan semoga hanya pingsan sesaat saja, “bertahanlah sayang kamu akan selamat.”


Tidak ada yang mengeluarkan suara, si bapak yang aku belum sempat menanyakan siapa namanya pun hanya terdiam, dan ku dengar pria paruh baya dengan dandanan sederhana itu terus saja berdzikir.


Sampai di rumah sakit aku memarkirkan mobil dengan asal di depan UGD dan memanggil paramedis dengan teriakan yang entah bagaimana kerasnya, aku tidak peduli. Dengan cepat mereka mengeluarkan tubuh Saras dari dalam mobil dan menaikkannya ke atas brankar.

__ADS_1


“Dokter, tolong berikan penanganan terbaik untuk Saraswati!” pinta ku dengan memohon kepada dokter yang bersiap menutup pintu UGD.


“Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik demi kebaikan pasien, Pak. Sebaiknya anda teruslah berdoa dan tolong selesaikan administrasinya!”


Perawat segera menutup rapat pintu ruang UGD dan aku sama sekali belum bisa beranjak dari depan pintu itu karena memikirkan keadaan syarat yang jelas tidak baik-baik saja. Aku menoleh pada bapak tua yang terlihat begitu ringkih dengan satu tasbih tetap berputar di bagian jari jemarinya.


“Maaf, nama Bapak siapa ya, tadi saya tidak sempat menanyakan nya?” Aku menatap wajah teduh pak tua itu yang malah melengkungkan bibirnya dengan penuh kehangatan, lalu telapak tangan kecilnya menepuk pelan pundakku yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya.


“Serahkan semuanya sama Allah subhanahu wa ta'ala, karena apapun yang terjadi sama istri anda merupakan takdir yang memang sudah ditulis di Lauhul Mahfudz maka percayalah bahwa setiap musibah yang anda terima pasti ada hikmah dibaliknya! Nama saya Muhammad Lutfi, Kebetulan saja Tadi saya lewat di depan restoran karena sebenarnya ingin beli makanan untuk anak dan istri saya di rumah! Begitulah Allah mempertemukan seseorang hingga saya bisa membantu istri anda, pada hal sudah ada beberapa restoran yang saya lewati, hanya karena kaki saya memang sudah digerakkan Tuhan untuk bertemu dengan istri ada!”


Ravi mematung, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan kelu karena tidak tahu mengapa bapak tersebut berulang kali menganggap Saras adalah istrinya. Bahkan tanpa Ravi sadari, ternyata bapak Muhammad Lutfi telah pergi meninggalkannya sebelum pria itu sempat mengucapkan terima kasih padanya.


Pada saat pria itu tersadar, ternyata laki-laki tua itu sudah tak bisa ditemukan yang lagi Hingga membuat pria itu merasa sedikit bersalah karena tak sempat berbincang lebih lanjut dengan orang baik hati seperti pria tua tadi.


Dengan cepat Ravi akhirnya berjalan gegas ke arah resepsionis untuk mengurus segala administrasi pembiayaan rumah sakit untuk Saraswati. Pria itu langsung memesan kamar terbaik untuk wanita pujaan hatinya karena memang Ravi merasa sungguh sangat menyesal dengan kebo^dohan yang tadi sempat telah dilakukan hingga saat ini yang terbersit di dalam pikirannya hanya satu orang, Cokro! Pria itu harus diberi pelajaran karena gara-gara menemuinya, cara menjadi korban penusukan benda tajam.

__ADS_1


__ADS_2