
Saras merasakan lelah di sekujur tubuhnya, pertemuan hari ini membuat pikiran dan hatinya semrawut. Dengan cepat wanita itu membersihkan diri. Kali ini Saras tidak ingin berlama-lama melakukan ritual mandinya, janda baru itu sudah merindukan kasur kecilnya yang hanya muat untuk dirinya seorang.
Perutnya lapar tapi selera makannya hilang seketika saat mengingat kejadian tadi siang bertemu dengan Surya.Hati wanita itu benar-benar sangat gelisah. Bagaimana mungkin selama ini dirinya seolah-olah lupa dengan sosok lelaki yang bernama Surya yang dulu pernah membuat janji dengannya tentang meraih cita-cita dan kembali bertemu di dalam cinta.
“Aagghh!” Rasanya wanita itu kembali menjadi remaja muda yang puber dan sedang mengalami gelisah dan risau dengan sibuk membolak balikkan badan, tapi mata wanita cantik itu tak kunjung mau terpejam. Sepertinya dia sangat membutuhkan teman saat ini, sesaat yang terlintas di dalam pikirannya adalah Sari. Sekretaris merangkap sahabat, dimana mereka berdua saling melengkapi satu sama lain.
Dengan cepat tangannya mencari nama Sari di dalam buku telepon ponsel pintarnya. Berharap sepenuh hati mudah-mudahan saja sekretarisnya yang sedikit centil itu masih terjaga dan bisa diajaknya bercanda ria, atau mungkin sekedar bercerita. Entah bibirnya bisa mengatakan apa yang sebenarnya, ataukah dia hanya akan memberikan teka-teki saja Dengan cara perumpamaan kejadian yang sedang dialaminya sekarang dialami juga oleh orang lain. Tentu saja semua itu dilakukannya untuk tetap menjaga image-nya agar tidak terdengar sebagai wanita yang tidak setia dengan masalahnya.
“Ya Tuhan, apa yang harus ku katakan padanya padahal sekarang panggilanku pun sudah tersambung?” Risau sendiri Setelah turun dari tempat tidur, mondar-mandir sembari terlihat sangat berpikir apa yang harus dikatakannya terhadap Sari. Tidak mungkin kan kalau dirinya mengatakan jika baru saja bertemu dengan seorang mantan? Saraswati rasanya ingin menjerit tapi wajahnya terasa memanas ketika melihat saraf mata seorang Surya ketika mereka bertemu di kafe tadi.
Apa Sarah sudah lupa dengan sosok Ravii yang selama ini selalu dikatainya sebagai tuan muda manja? Tentu saja jawabannya tidak, tapi di dalam Islam sebagai agama yang dianutnya, tidak ada kesalahan sebelum Janur Kuning itu benar-benar melambai ditiup angin di depan rumahnya. Dasar Saraswati, sekarang ingin sekali menjadi sosok perempuan jahat, ralat … bukan perempuan jahat tetapi dirinya ingin menjadi seorang janda yang baik hati untuk mendapatkan kembali seseorang yang benar-benar pasti lelaki sejati yang bertanggung jawab untuk masa depannya.
Tidak tega dengan benda pipih yang ada di genggamannya, wanita yang sudah memiliki gelar sebagai seorang janda itu pun, akhirnya kembali mengulang panggilan telepon untuk Sari.
[Assalamualaikum bu, tumben telpon saya, kangen ya bu? Hahaha] Sahut Sari dengan nada ceria dan pertanyaannya yang mampu membuatnya tertawa renyah. Jangan lupakan, sekretaris itu tertawa renyah terdengar di telinga sarang hingga membuat aura yang tadinya dirasakan sangat bingung, langsung berubah menjadi bahagia.
"Iya Ri, kita jalan yuk, mumpung malam minggu ini lho, haliling-haliling kayaknya bisa bikin batin sehat deh!" ajak Saras yang sudah mengaktifkan mode santai nya, karena ini diluar jam kerja.
Saraswati sudah sangat yakin 1000% jika sekretarisnya itu pasti akan tertarik, apalagi kalau nanti sedikit dia menolak maka Saras pasti akan menggunakan senjata ampuh yang selalu mampu membuat Sari tergoda, apalagi kalau bukan yang namanya traktiran. Semua orang memang selalu gila dengan kata yang namanya traktiran, karena memang ditraktir seseorang itu untuk belanja ataupun sekedar mengisi Sumatera Tengah yang bernama perut benar-benar sangat menyenangkan!
"Wahhh pucuk di cinta ulam pun tiba deh kayaknya, saya juga lagi galau risau seperti danau, Buuu. Aku ingin menggila juga rasanya. Yuk lah cus kita berangkat, saya yang jemput ibu atau ibu yang jemput saya, nih?" Memberikan opsi dengan wajah sedikit geli karena memang dirinya sudah bisa membayangkan beberapa traktiran dari sang atasan akan membuat perutnya kenyang dan juga membawa beberapa paper berpulang. Dasar sekretaris yang materi tetapi juga sangat baik hati! Itulah kira-kira pandangan Saras terhadap sekretarisnya sendiri, menyenangkan dan sekali-kali juga sangat menyebalkan.
Sari ternyata juga sedang membutuhkan teman untuk menghilangkan kegalauannya. Saras berfikir ingin menginap di apartemen Sari, karena di kos nya tidak ada televisi, jadi dia berpikir setelah jalan-jalan mereka akan nonton film di tempat Sari. Sungguh rencana yang sempurna. Wanita yang sudah digilai sang cucu mahkota itu bukannya pelit dan tidak terlalu irit, hanya saja gaji yang diterimanya memang sengaja di tabung sedemikian rupa hematnya, agar nanti bisa membahagiakan keluarganya.
Respon tidak segan-segan mengatakan rencananya terhadap sang sekretaris dan sudah bisa dipastikan Sari senangnya tidak ketulungan. Mereka pun menyudahi obrolan di telepon dan bersiap untuk menjalankan rencana yang sudah disepakati bersama tadi.
Sari memang berasal dari keluarga berada, tapi keinginan mandirinya membuat kedua orang tua Sari tidak bisa memaksakan keinginannya. Apartemen itu diberikan orang tua Sari sebagai hadiah kelulusan kuliahnya. Nilai yang bagus dan wajah yang cantik dengan fashion yang selalu dikenakannya membuat mata orang-orang jadi terpanah, membuat sari dengan mudah mendapatkan kerja di tepi sayang hubungan percintaan rumah tangganya kandas di tengah jalan dan begitu menyesakkan.
Perbedaan strata ekonomi tidaklah membuat Sari sombong, Saras dari keluarga sederhana tapi memiliki kedudukan dan otak yang cerdas, itulah yang membuat mereka berdua bisa saling melengkapi.
Sari menjemput Saras dengan motor matic nya, sebenarnya Saras sudah mendapatkan fasilitas mobil dinas yang bisa dibawa pulang, tapi Saras tidak mau mengambil fasilitas itu. Mobil kantor di letakkan di kantor dan akan dia pakai hanya untuk urusan pekerjaan, pulang dan pergi ke kantor gadis itu tetap menggunakan motor matic kesayangannya.
__ADS_1
Hal inilah yang membuat tuan besar Nugroho tidak bisa meremehkan Saras, dan membuat dia takut ketika di interogasi Saras ketika dia menggunakan anggaran perusahaan saat perjalan dinas.
“Sudah siap, Bu Bos?” tanya Sari dengan kelakarnya.
“Kau ini! Pastinya aku sudah siap dong, liat nih!” Tidak mau kalah, Saras pun bergaya dengan sedikit berputar di depan sekretarisnya, memperlihatkan wajah sumringah ceria yang mampu membuat Sari merasa curiga.
‘Ada apa dengan ibu Saras ya? Kenapa wajahnya ceria bangeeet? Aduuuh apa jangan-jangan dia dilamar sam tuan Ravi?’ batinnya bertanya kepo. Maklum, selama ini sekretaris itu selalu saja gigit jari melihat besarnya cinta seorang tuan muda Ravi untuk atasannya dan itu semua masih tersimpan dengan nama ‘cinta rahasia’. Tau kenapa, karena memang belum ada satu orang pun yang tau tentang hubungan sepasang kekasih itu di perusahaan.
Sari sudah datang menjemput Saras, janda-janda segar itu bergegas menuju tempat yang mereka rencanakan tadi. Angkringan Mas Pono, itulah tempat nongkrong favorit kedua janda itu.
"Selamat malam neng-neng cantik, wah sudah sangat lama ya nggak datang ke sini," sapa mas Pomo dengan senyum khas yang dipermanis kumis tebal melintang di atas bibir seksinya.
Dua wanita cantik yang memang dibalut dengan pakaian tertutup itu pun, langsung saja mencari tempat duduk yang pas untuk mereka.
"Ya mas Pomo, biasaaa lagi pada diet Mas," jawab Sari asal, dan di sambut tawa renyah pemilik angkringan yang selalu ramai itu.
"Mas aku mau nasi kucing yang kayak biasa ya, gorengan, trus wedang jahe," ucap Sari melanjutkan ucapannya tadi.
"Neng Saras mau makan apa?" tanya mas Pomo ke Saras yang sedari tadi sibuk melihat-lihat makanan yang semuanya terlihat begitu enak dan menggugah selera, hingga janda itu sampai merasa kebingungan untuk memilihnya.
"Aku mau nasi kucingnya dua bungkus, sate telor puyuh tiga, ceker bakar lima, tahu goreng dua, tempe goreng dua, cireng dua, wedang jahe nya satu, udah itu aja, Mas." Saras dengan wajah kalem menyebutkan semua makanan yang diinginkan.
Mas Pomo dan Sari sama-sama menoleh ke arah Saras, mereka melongo dengan porsi makan janda baru itu. Apa Atasannya itu sedikit mengalami stres setelah menjadi seorang janda? Oh tidak, itu tidak mungkin terjadi pada seorang Saraswati karena Sari begitu percaya, jika wanita yang sering kali membuatnya merasa beruntung tidak akan mungkin menjadi terpuruk setelah ketuk palu hakim dari mantannya yang sudah nikah itu!
"Neng katanya diet?" tanya mas Pomo yang sudah kembali tersadar dari rasa takjub nya kepada Saras. Tangannya yang sudah terlatih dengan cepat mengambil apa saja yang tadi sudah Saras sebutkan
"Hari ini malam minggu mas Pomo, jadi dietnya libur, senen lanjut lagi. Jadi ini diet sesuai hari kerja pemerintah, senen sampai jumat, sabtu minggu merdeka, hahaha!" Mereka bertiga tertawa lepas, dengan cepat duo janda itu kembali ke tempat duduk lesehan yang sudah biasa mereka tempati.
Mas Pomo hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua tingkah wanita yang seringkali mendatangi angkringannya dengan selalu bercanda dan tertawa seolah-olah tidak pernah merasakan kehidupan penuh beban.
“Monggo neng, ini wedang jahenya, nanti kalo mau nambah tinggal teriak aja ya, Neng! Mas Pomo akan langsung dataang!” tawar mas Pomo dengan gaya khasnya yang meniru gerakan flash.
__ADS_1
Sari dan Saras langsung terbahak melihat kekonyolan mas Pomo. Hiburan yang murah meriah dan mengenyangkan bagi mereka berdua cukup nongkrong di angkringan yang sekarang mulai viral itu. Di sini Saras tidak perlu menampakan wajah datarnya karena memang tidak ada karyawan perusahaannya yang suka datang ke tempat makanan murah meriah tetapi begitu viral dan juga sangat menyenangkan hahaha.
Untuk sesaat mereka terdiam dan menikmati makan malam sederhana dengan nikmat dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Nasi kucing sudah ludes dalam sekejap, kini giliran cemilannya yang akan mereka habiskan dengan santai sambil ngobrol.
“Ibu kenapa tumben ngajak saya haliling?” tanya Sari dengan bahasa gaul ala mereka berdua healing menjadi haliling.
Saras sedari tadi juga sebenarnya sudah tidak sabar ingin memulai sesi curhat ini. Namun, semua terhalang dengan hidangan yang begitu menggoda seleranya hingga membuat semua cacing-cacing yang ada di dalam perut Saraswati, berjoget ria dan memperdengungkan protes mereka untuk segera diisi dan diberi gizi.
“Ri, kamu pernah nggak punya cinta di masa lalu, masa SMA gitu?” tanya Saras dengan wajah serius tapi jika diperhatikan raut wajah janda baru itu sudah mulai memerah.
‘Aaaa, Ibu Saras sedang merona apa jangan-jangan dia kembali jatuh cinta dan bertemu dengan mantan di masa lalunya?’ Bertanya sendiri di dalam hati dan menjerit begitu gilanya tetapi tidak berani mengeluarkan suara, sehari benar-benar ajaib.
“Ada sih bu, tapi waktu itu saya yang cinta sama dia sementara dia cinta sama sepupu saya. Bahkan kami waktu itu sekolah di tempat yang sama, nyesek nggak sih buk kalo kasusnya kayak gitu? Jangan bilang Ibu saat ini sedang mengalaminya, itu benar-benar membuat hati yang ada di sini terasa begitu Lara, benar-benar meninggoy perasaanku. Ibu lagi ngalamin ya?” Sari menjawab panjang lebar dengan diselingi tanya, inilah kebiasaan Sari belum jatuh giliran dia curhat malah dianya yang duluan, dan tentu saja membuat Saras menjadi gemas dengan sahabatnya itu.
“Yaahh dia mah ditanya malah curhat duluan. Eh tapi cinta sebelah tangan mu itu pernah ketemu nggak di abad ini, Ri?” tanya Saras kepo setelah menyempatkan diri untuk protes dengan kebiasaan Sari yang hanya dijawab dengan nyengir kuda.
“Jauh banget ya buk kayaknya kalo sampe cinta SMA saya di abad yang lalu, hahaha. Memangnya saya sudah tua itu kah hahaha? Tapi saya bersyukur sejak kuliah kami nggak pernah lagi ketemu, dan saya sih berharapnya nggak pernah ketemu. Kalau saja sampai ketemu di saat saya sudah sendiri begini, ibuk bisa bayangin dong gimana hati saya yang lama kering ini ingin disiram dengan cinta tulus dan suci. Aku juga sudah move on tuh dari mantan suami yang sudah nikah lagi!” cerocos Sari saat menjawab pertanyaan Saras.
“Ibu lagi ketemu sama cinta masa lalu ya? ciee ciee yang lagi mengenang cinta kadal, hahaha!” Sari kembali bertanya dan lebih tepatnya menebak apa yang sedang Saras hadapi. Sontak pipi mulus gadis itu memerah.
“Ho’oh Ri, dan gawatnya aku punya janji sama dia Ri, kirain nggak bakalan ketemu lagi, eee tau nya dia datang disaat aku baru saja menjanda, pusing pala barbie,” jawab Saras dengan sendu.
“Mas Pomo, STMJ nya satu ya, sama gorengan seperti biasa!” teriak salah satu pelanggan, pria tampan dengan garis wajah tegas menggunakan kostum santai, celana pendek di bawah dengkul dan baju kaos warna putih dengan sandal jepit.
Walau sederhana penampilan pria itu sudah mampu membuat dirinya menjadi pusat perhatian kaum hawa yang lagi nangkring di angkringan nya mas Pomo.
Pria yang bersuara lantang tersebut tentu membuat kedua janda itu menoleh dan Saras membulatkan matanya lalu mengerjapnya beberapa kali untuk bisa memastikan apa yang dia lihat.
‘Oh my God Kenapa orang yang baru saja aku ceritakan sama Sari malah ada di sini?’
“Surya …!”
__ADS_1