
“Matilah kalian semua! Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan kesusahan, tapi kalian dengan santainya bermain di atas bara api neraka!” Seringaian mengerikan terpapar jelas dari bibirnya.
Dor!
Dor!
Dor!
Bugh!
Gubrak!
“Aaww! Issh sakitnya,” erang Saras.
Saras terjatuh dari tempat tidur dan langsung mengusap bo^^kongnya yang terasa nyeri akibat mendarat bebas di lantai keramik berwarna putih. Dasar sialan memang, Saras benar-benar masuk ke dalam khayalan gara-gara menonton barusan! Wanita itu sampai mimpi menjadi seorang agen mata-mata keren yang hebat.
“Astaghfirullah aku bermimpi ternyata, tapi kok kayak nyata ya? Kayaknya aku keren banget deh tadi itu, hehehe.” Saras menertawai dirinya sendiri. Sungguh dirinya sama sekali tidak pernah menyangka jika apa yang begitu terlalu dipikirkan oleh kepalanya tentang kemisteriusan seorang Ravi, hampir saja membuat otaknya menjadi error sampai masuk ke dalam mimpi. Benar-benar tidak masuk akal walaupun dirinya merasa senang sekali bermimpi menjadi orang hebat dengan ilmu bela diri yang mumpuni serta kepintarannya saat memegang pistol canggih.
__ADS_1
Laptop yang dijadikannya sebagai alat untuk menonton film ternyata masih menyala, dan film pun sudah berakhir hanya menyisakan credit title nya saja dan soundtrack yang masih merdu bernyanyi.
Saras ke luar dari kamar untuk mengambil air minum, duduk di kursi dekat meja makan sambil membuka-buka lagi ponselnya. Terlihat beberapa foto yang tadi sempat diambilnya. foto itu terus saja dia perhatikan, dahinya berkerut seakan mengingat akan sesuatu.
“Kenapa aku sepertinya pernah ngeliat logo kayak begini sebelumnya ya? Tapi dimana? Ya Tuhan, kenapa giliran isi kepala ini dibutuhkan daya ingatku malah sangat kabur dan bikin kesal!” gumam Saras dengan terus menatap beberapa foto yang membuatnya semakin tertarik. Bayangan lukisan naga membuat matanya tidak ingin beralih ke benda yang lain.
Mini disk yang tadi diambilnya dari ruangan Ravi, buru-buru diraih dengan laptopnya. Wanita itu sungguh sangat keras berpikir malam ini, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Sempat ketiduran dan bermimpi jadi wanita jagoan, membuat matanya kini kembali segar.
Untuk kali ini film kartun yang beberapa kali beradegan konyol itu di tonton sampai habis oleh Saras, beberapa adegan yang nilainya menarik, ditonton ulang. Wanita itu baru saja menyadari kalau ternyata di dalam film itu seperti ada menampilkan kode-kode yang tersamarkan. Saras dengan cepat mengambil kertas dan pulpen, lebih fokus dan teliti saat film itu diputar secara berulang, wanita itu menulis huruf dan angka yang bertebaran sepanjang film berlangsung.
Di pertengahan film berlangsung di tunjukkan orang-orang yang sedang membawa kartu poker dengan ruangan berwarna merah beserta meja-meja bundar. Seekor naga melingkar terlihat jelas di atas singgasana emas, Saras seperti melihat itu semua berada dalam dunia nyata. Tiba-tiba saja bulu romanya seakan berdiri saat itu juga.
Dengan rasa penasaran yang semakin tinggi, Saras terus saja menonton dan tangannya tidak berhenti menulis simbol, huruf atau angka yang terdapat dalam film berdurasi empat puluh menit itu.
“Ravi … sepertinya aku menemukanmu, dan jika semuanya terbongkar, apa yang akan kamu katakan kepada kakek yang sangat menyayangimu? Manusia macam apa kamu yang tega memakan cinta kasih orang tua demi mementingkan kebahagiaanmu? Benar kata Surya, kaum bawah tanah tidak akan peduli siapa yang mereka makan hari ke hari, kasian tuan besar Nugroho.”
Kegelisahan Saras hanya mampu didengarnya sendiri, di dalam rumah kontrakan yang kecil itu, dirinya membayang kan kedua pria beda generasi sedang bercanda ria dan saling menjahili, sampai pada keadaan dimana sang kakek lengah, ternyata Ravi berusaha menikamnya dari belakang.
__ADS_1
“Apa jangan-jangan kata cinta dan juga sayang yang sering dia lontarkan padaku hanyalah semata-mata untuk mengalihkan perhatian tentang siapa jati dirinya? Ya Allah, kalau itu beneran terjadi, berarti selama ini aku hanya sedang dipermainkan seorang raja judi yang sama sekali tak pernah mencintaiku tetapi malah menjadikan sebuah hubungan sebagai permainan dan juga pengalihan perhatian dari kakeknya! Jadi selama ini aku hanya bertepuk sebelah tangan?”
Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di dalam kepala Saraswati saat ini. Namun semua itu tak dapat jawabannya sama sekali karena tidak akan ada orang yang bisa memberikannya klarifikasi, kecuali dirinya mencari sendiri tentang siapa Ravi yang sebenarnya.
Wanita itu meraih lagi air mineral karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering memikirkan semua kejanggalan ini, lalu berjalan ke sana kemari dengan sekali-kali menggigit kuku jari telunjuknya, memikirkan entah apa lagi cara yang harus dilakukannya dalam menyikapi kasus yang sedang dihadapinya. Dirinya masih berada dalam kebingungan, mungkin sebaiknya dia harus sesegera mungkin menceritakan apa yang sudah didapatkannya kepada lelaki bernama John.
Tidak mau membuang waktu dengan sia-sia, wanita itu tanpa melihat waktu langsung saja meraih ponsel yang diletakkannya secara asal di atas meja makan. Lumayan lama Saras baru mau membuka sandi benda pipih berwarna hitam miliknya itu karena berpikir apa memang sebaiknya dia menghubungi seorang lelaki pada jam jelang pagi begini.
“Ah … kenapa aku merasa dilema begini sih? Telpon gak, telpon gak.” Kata telpon gak itu diulangnya berkali-kali untuk menghalau rasa ragu yang timbul di kepalanya.
Akhirnya Saras tetap menyalakan ponselnya dan mencari nomor kontak John sang Intel yang diperkenalkan oleh Tuan Nugroho dengannya waktu itu, melakukan panggilan telepon untuk membicarakan tentang isi film yang baru saja ditontonnya hingga berulang-ulang kali agar bisa mendapatkan informasi dan juga bukti dalam mencari fakta.
Satu hal yang membuat Saraswati merasa bingung, kenapa suasana yang ada dan juga terdapat di dalam film kartun tadi benar-benar ditemukannya lewat mimpi? Apa sebenarnya hubungan mimpi dengan film kartun yang ditontonnya? Saras benar-benar tidak mengerti sama sekali dan dirinya kembali dilanda oleh rasa kebingungan yang begitu tinggi hingga panggilan telepon itu sudah tersambung dengan John.
[Halo Saras, apa ada sesuatu yang kau temukan?]
Suara John sudah terdengar di ujung telepon sana tapi entah kenapa, sisi hatinya terasa berdenyut ketika ingin menceritakan tentang apa yang ditemukannya barusan karena semua itu bersangkutan dengan lelaki yang pernah masuk sesaat ke ruang kosong yang ada di dalam jiwanya. Mampukah Saras untuk menceritakan seluruh apa yang dilihatnya dan juga seluruh fakta yang ditemukannya terhadap John?
__ADS_1
[Halo Saras. Apa kamu masih di sana?]
Suara itu kembali terdengar seperti gendang, memberikan sedikit rasa ragu sebelum dirinya benar-benar menceritakan yang sesungguhnya. Dasar sialan, kenapa di saat saras mulai merasa jatuh cinta pada sosok seorang Ravi tetapi semua itu hanya terlihat sebagai salah satu fatamorgana di dalam hidupnya? Dirinya merasa dipermainkan, baru juga menjadi seorang janda karena perselingkuhan … sekarang dirinya malah ditipu pria taipan tampan. Kapan dirinya akan bahagia dengan pasangan? Kenapa juga setiap lelaki berubah jadi buaya saat bersamanya?