Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 59. Apa Kakek Sudah Tau?


__ADS_3

Saraswati sudah sampai di rumah kontrakannya. Surya ikut turun dan menemani Saras masuk ke dalam rumahnya. Waktu sudah larut, namun pria itu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersama wanita pujaan.


"Saras, aku ingin segera melamarmu secara resmi kepada orang tua mu, apakah kamu bersedia?" tanya Surya to the point, Saras yang mendapat serangan pertanyaan mendadak tentu saja merasa terkejut dengan pernyataan Surya.


Bagaiaman mungkin lelaki itu dengan mudahnya melamar seorang perempuan yang masih memiliki hubungan menggantung dengan pria lain? Saras tidak mungkin bisa menerima nya tanpa memutuskan dengan pasti hubungan dengan Ravi.


"Surya, aku secara pribadi tidak keberatan, tapi tolong beri aku waktu untuk membicarakan semuanya dengan keluarga ku, dan menyelesaikan urusanku yang belum selesai dengan tuan muda Ravi. Apakah kamu masih bisa menunggu?" tanya Saras tak kalah tegas dalam bersikap.


Wanita cerdas yang tidak memiliki banyak toleransi itu pun tidak ingin bertele-tele dengan hubungan ini, Saras sudah menetapkan pilihan sejak dia mengetahui Ravi dengan kehidupan dunia bawah tanahnya serta tidak lagi pernah menganggapnya ada, hanya saja Saras bukan tipikal wanita yang dengan gampang beralih ke lain hati secepat membalikkan telapak tangan.


"Berapa lama kamu membutuhkan waktu menyelesaikan semua masalahmu dengan tuan Ravi dan membicarakan semuanya dengan keluargamu?" tanya Surya lembut, “aku butuh kepastian,” lanjutnya menghela napas dengan berat.


Surya merupakan sosok yang sangat disukai Saras dengan sifat loyalnya yang tinggi, karena jika sudah berjanji maka oria itu pantang untuk mengingkari, kecuali ada hal yang sifatnya tidak bisa dimaafkan barulah dia akan memutuskan ikatan perjanjian.


Dua manusia dengan ketegasan dan loyalitas yang sama, sungguh pasangan ideal. Beberapa saat mereka berdua berbincang dan tibalah saatnya Surya berpamitan. Saras pun masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, setelah memastikan wanita tersayangnya masuk dan mengunci pintu dari dalam, barulah pria tampan itu pergi meninggalkan rumah kontrakan kecil itu.

__ADS_1


Waktu berjalan maju, tidak satu pun manusia yang mampu menghentikan sedikit pun putarannya. Ravi kini sudah menjejakkan kakinya di rumah besar milik sang kakek, tadinya dia ingin kerumahnya, tapi perasaan pria itu sangat tidak enak dan ingin segera menemui kakek yang terkadang seperti teman baginya.


"Kek, gimana kabar Kakek?" tanya pria tampan yang langsung memeluk pria tua yang sedang berjalan di taman belakang, pagi ini cerah namun tidak secerah hati yang sudah menua itu.


Tuan Nugroho yang sebenarnya sudah mengetahui siapa sosok sang cucu yang sebenarnya, hanya bisa mengulas senyum di bibir dengan sangat terpaksa.


"Heyy kau masih ingat pulang juga ternyata? Aku sehat saja, tapi aku benar-benar sedang tidak happy," jawab pria itu melerai pelukan tubuh kekar milik sang cucu. Ravi yang mendengar kalimat tajam bernada lembut itu mengerutkan keningnya.Tidak mengerti apa maksud sang kakek bicara begitu.


"Kakek kenapa? Kok gitu banget bahasanya?" tanya Ravi dengan kewaspadaan tinggi, pria itu mendaratkan tubuhnya untuk duduk di kursi taman.


"Ravi, apa ada yang ingin kamu ceritakan sama kakek sebelum ajal mengambil nyawa ini?" tanya Nugroho dengan tatapan sendu, pria itu tidak ingin menunda waktu lagi.


Ravi nampak terkejut, sepertinya ada yang sudah dilewatkannya. Kenapa sang kakek bicara seolah esok merupakan hari kematiannya? Sejak pertarungan melawan nyonya Yo, pikiran Ravi begitu kacau.


Raja mana yang rela jika harus kehilangan tahtanya, perang dulu sampai tetes darah penghabisan baru bisa menguasai tahta sang naga. Ravi merasa gamang, di satu sisi ada keluarga yang dia cintai dan juga janda kembang pemilik separuh hatinya. Namun di sisi lain dirinya belum sanggup kehilangan gelar tinggi sebagai Dewa Judi.

__ADS_1


"Apa yang kakek ingin tau dariku? Hidupku hanya seperti ini aja kek, toh Kakek juga melihat hobiku dari dulu. Kenapa Kakek tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Ravi, alih-alih menjawab pertanyaan sang kakek, pria itu malah balik bertanya dan berusaha sembunyi dari perbuatannya.


"Dengar ya, Ravi … manusia itu ada dua jenis, baik dan buruk, jika ada di tengah-tengah berarti dia tergolong mahluk abu-abu. Kakek sudah cukup mendidik kamu sejak kecil bahkan kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama pria tua ini daripada dengan orang tuanmu. Sekarang kamu sudah memiliki dunia dan pilihan hidup sendiri. Pesan kakek, nakal itu boleh hanya untuk sebuah cerita untuk anak cucu, tetapi jangan dijadikan legenda yang nantinya akan mempermalukan keluargamu sendiri!" Tuan Nugroho meraih minuman yang ada di atas meja lalu menyesapnya.


Ravi tercenung dengan kalimat panjang yang diutarakan sang kakek, banyak makna yang tersirat dalam ucapannya. Perjalanan sang kakek yang sudah sangat panjang, asam garam kehidupan tidak sedikit yang di cicipinya. Ravi tersadar akan satu hal, sang kakek sudah mengetahui sepak terjangnya selama ini.


"Kakek, apakah kakek sudah tau semua tentang ku?" tanya pria itu cemas untuk meyakinkan. Duduknya yang tadi santai kini berubah tegak dan menghadap miring ke arah sang kakek.


Nugroho terkekeh, cucu yang cerdas, tidak perlu mengatakan apapun karena dia sudah sadar bahwa kini dirinya sudah tidak bisa lagi sembunyi dengan topeng yang selama ini dikenakannya.


"Aahh kakek, ya ok, aku salah. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar Kakek mau memaafkan aku?" tanya Ravi dengan mengacak kasar rambutnya.


Pria itu merasa frustasi dengan tingkah sang kakek sepagi ini.


"Lepaskan Saraswati!”

__ADS_1


__ADS_2