Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 22. Kebanggaan Kakek


__ADS_3

Pov Author


Dokter yang menangani Saras langsung dengan segera memeriksa keadaan wanita yang baru saja membuka mata. Sementara Ravi dan Tuan Nugroho sedikit beralih untuk memberikan ruang gerak kepada paramedis dalam melakukan tugas mereka. Saraswati masih belum bersuara, hanya matanya yang terbuka dan berkedip memindai ruangan yang saat ini ditempatinya. Dokter mengarahkan senter untuk memeriksa mata dan memberikan beberapa rangsangan untuk memastikan, apakah syaraf yang tadinya tidur kini sudah kembali berfungsi.


"Kakek belajar dari mana sih membangunkan orang koma dengan memaki-maki Saras kayak begitu? Kejam banget jadi orang, untung aja kakek sendiri kalau orang lain udah tak libas! Tapi aku asli penasaran, dari mana kakek dapat ilmu magnet kayak gituan?" tanya Ravi dengan wajah bersungut-sungut.

__ADS_1


‘Kalau aku tahu Saraswati bisa terbangun dengan Hanya mengingatkan tentang seabrek pekerjaan yang harus jadi tanggung jawabnya, sudah dari kemarin-kemarin aku kerjakan! Ya Tuhan ntar aku mah Kenapa Saraswati harus terbang mendengar suara cempreng kakekku?’ gerutu Ravi merasa iri dengan perbuatan kakeknya walau pria itu jauh lebih bahagia setelah Sarasnya jadi terbangun sekarang.


Pria tampan itu sengaja memelankan suaranya agar tidak mengganggu konsentrasi tim dokter yang memeriksa Saras. Disatu sisi dia senang melihat Saraswati bangun tapi disisi lain dia kesal karena wanitanya dibilang makan gaji buta.


"Spontan saja sih. Satu hal yang paling penting dari diri seorang Saras itu paling kakek ingat, dia merupakan wanita yang sangat perhitungan untuk soal uang dan kedisiplinan. Kakek saja rasanya hampir berhenti detak jantung ini saat disuruh untuk mengganti uang yang kakek pake, laah sekarang gantian dong dia yang kakek paksa bangun, biar nggak merugikan perusahaan kita, impas kan, hehehe," jawab tuan Nugroho dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun.

__ADS_1


"Kakek! Isshh bisa-bisa nya kakek balas dendam dengan cara kek gini?!" geram Ravi dengan ulah kakeknya. Jika tidak ingat dosa, ingin sekali rasanya Ravi menyuntikkan obat bius kepada kakeknya biar si tuan bang ka itu segera pergi ke alam baqa. Ya … Ravi emang cucu si jahara.


“Inilah yang disukai sama Saraswati. Dia ini seperti wanita yang terdidik di camp militer, disiplin dan loyal pada janji seorang ksatria. Kamu lihat aja tadi kan, bagaimana tubuh, otaknya dan semua panca inderanya yang langsung merespon ketika kakek menyinggung hal paling prinsip di dalam hidupnya. Kamu dengar ya, Ravi … jika kamu ingin menjadi pendampingnya maka kamu harus berpikir seratus kali lipat sebelum mengajaknya ke jenjang yang jauh lebih serius lagi, karena dia bukan tipe wanita yang punya stok maaf lebih dari satu kesempatan.”


Tuan Nugroho berkata panjang kali lebar saat menjawab pertanyaan kecil dari cucunya yang diakhiri dengan nasehat berarti hingga membuat Ravi tergugu, merenungi dan membenarkan apa yang kakeknya katakan. Sungguh, Ravi benar-benar masih sangat jauh dari kata bijaksana dalam menyikapi tindakan seseorang hingga dirinya langsung memvonis salah terhadap apa yang baru saja dilakukan kakeknya.

__ADS_1


“Kek, apakah Saras tidak pernah melakukan kesalahan selama bekerja? Kok kayaknya Kakek bangga banget sama dia?”


__ADS_2