
Di tempat lain, Ravi tampak sudah rapi, dia tidak memiliki agenda apa pun malam minggu ini dengan Saras, ya Pria tampan itu sengaja menghindari Saras hari ini, karena ada tantangan yang harus dia hadapi. Tantangan untuk mengalahkan Golu, dewa judi dari tanah seberang yang kabarnya belum pernah ada yang mampu mengalahkannya, kini dia akan menghadapi pria tambun berkulit gelap itu demi merebut gelar sang lawan sebagai dewa judi. Ravi ingin hanya dirinya yang dikenal sebagai dewa judi terbaik di dunia, hingga obsesi itu kembali datang menyapa dan mampu menghilangkan wajah Saras dalam sesaat.
Bagi seorang Ravi, jika ditantang untuk menghabiskan harta lawan buatnya pantang mengatakan tidak, pundi-pundi kekayaan, popularitas, dan kehormatan di komunitas para penjudi dunia sudah dikantonginya. Gelar dewa judi bukan lah sembarang gelar yang bisa didapatkan dengan mudah, karena gelar itu hanya untuk orang-orang yang sangat ahli dalam berjudi dan selalu menang ketika di atas meja perjudian. Entah sudah berapa banyak harta para pemain di berbagai negara berpindah tangan menjadi miliknya, hal ini sedikit pun tidak pernah diketahui oleh keluarga besarnya, bahkan Ravi masih saja merasa belum puas setiap ada penantang baru yang ingin mencoba kemampuannya.
Kakek Nugroho hanya mengetahui cucunya yang berhasil memimpin perusahaan Jamoe Jitoe, di bawah bimbingan Saras dan sekarang perusahaan itu semakin berkembang pesat. Namun, kakek tua itu sama sekali tidak pernah lagi menyelidiki sang cucu, sejak Saras berhasil menjadikan cucunya kesayangannya menjadi seorang yang jauh lebih baik dan berguna. Mengenai harta kekayaan Ravi yang sudah menggunung tidak pernah di ketahui oleh pengusaha senior itu. Seperti itulah Ravi mengemas dirinya begitu rapi agar tidak pernah terendus oleh keluarga besar atau orang-orang terdekatnya.Karena memang sepak terjangnya di dunia perjudian hanya boleh diketahui oleh komunitas bawah tanah saja, seperti itulah dia mengibaratkan dua dunia yang dia geluti selama ini. Ibarat kertas terkadang Ravi berada pada kertas putih yang suci selalu dipuji dan terkadang pria itu kembali ke asalnya pada kertas hitam penuh dosa tetapi juga begitu ditakuti. Ternyata melakukan perbuatan dosa itu jauh lebih membuatnya merasa senang daripada menjadi orang yang baik hati karena memang menjadi manusia baik itu sama sekali tidak membuatnya puas.
Dan kini tantangan itu kembali diterima nya, maka sepenting apa pun urusan yang ada baik itu menyangkut dalam keluarga atau pun urusan sang kekasih, maka beribu alasan akan digunakan nya demi bisa bertanding di meja haram itu. Ravi bukan pria cassanova, tapi dia tidak bisa menghindar ketika godaan untuk berjudi melambai di depan matanya. Dirinya akan merasa terhina apabila ada penantang yang merasa menang apalagi kalau sampai tau jika dirinya sudah berubah menjadi orang baik.
‘Aku pasti bisa menang karena belum ada satu orang pun yang mampu mengalahkanku! Peduli setan sama Saras kalau suatu saat dia tau yang penting gelar dewa judi masih berada di dalam genggaman tanganku!’ pikirnya bertekad tidak akan mau mengalah dan kalah hanya karena statusnya sekarang yang sudah memiliki seorang kekasih.
‘Hanya saja wanita itu sangat unik dan juga sangat baik jadi kalau sampai dia ku abaikan … apa dia akan meninggalkanku?’ Bertanya sendiri di dalam hati, sejenak pria itu memikirkan apakah keputusannya untuk menerima tantangan dari lawan memang yang terbaik atau kah akan membuatnya menjadi kehilangan seorang Saras. Mendapatkan perempuan sebaik dan juga sehebat Saras bukanlah perkara mudah dan mungkin wanita seperti Saras hanya ada satu di antara seribu.
kebanyakan wanita yang ditemui oleh Ravi hanyalah tipe-tipe perempuan penggoda, materi dan juga penuh kepura-puraan. Sementara Saras adalah wanita mandiri dan juga sama sekali tidak tertarik dengan harta yang ditawarkan beberapa kali oleh Ravi padanya, contoh kecil saja Ravi menawarkan sebuah apartemen untuk kekasihnya itu dan juga ingin memberikannya hadiah-hadiah branded seperti wanita-wanita sosialita pada umumnya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu apa adanya dan juga tak ada syarat sama sekali! Aku hanya membutuhkan perhatian darimu saja, aku juga tak butuh benda-benda berharga yang ingin kau berikan sebagai hadiah untukku, karena buatku hadiah terindah itu adalah kehadiranmu di dalam kehidupanku.”
Kalimat yang pernah dilontarkan saras mungkin sampai mati takkan pernah terlupakan oleh seorang Ravi, bagaimana kekasihnya itu menyikapi sebuah hubungan dengan begitu bijak dan terdengar sangat manis. Sebagai lelaki yang memiliki segalanya, terkadang Ravi tidak pernah mendengarkan apapun yang dikatakan Saras dengan tetap membawakan hadiah-hadiah mahal walaupun setelah itu dirinya akan mendapatkan omelan dari sang kekasih.
Sayangnya kebiasaan buruk seorang Ravi mungkin saja akan membuat semuanya akan berubah atau malah mereka bisa saja berpisah karena ulah seorang yang doyan berjudi. Apalagi selama ini di mata Saras. Ravi hanyalah seorang cucu manja yang kurang mendapatkan perhatian dari keluarganya hingga sampai menjadi anak band segala dengan menyamar sebagai Ram.
Padahal sesungguhnya, Ravi hanya ingin mencoba sesuatu yang baru untuk membuktikan apa yang pernah dikatakan sang kakek, kalau dunia di luar sana itu sangat kejam, ditambah ulah Ravi yang doyan bermabuk-mabukan. Clubbing dan juga foya-foya dengan teman sesama judinya. Uang judi terkadang hanya habis kembali di meja judi.
Setelah mematut diri di cermin, pria itu mencoba untuk menelpon sang kekasih hati sebelum pergi menemui Golu — dewa judi yang lumayan mumpuni.
[Halo, Assalamu’alaikum, By]
Suara merdu itu masih bisa didengar begitu manis di telinganya tapi kenapa pria itu masih saja mengabaikan wanita yang awalnya begitu gigih dikejar sebelum didapatkan? Apakah rasa bosan karena tertantang begitu cepat dia rasakan setelah menaklukkan hati janda itu? Entahlah, yang jelas Ravi mulai merasakan kalau hubungan mereka mulai terasa hambar sejak janda itu kembali bekerja dan sembuh dari sakitnya, tepatnya sakit karena kecelakaan waktu itu.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam, lagi di mana? Kok kedengarannya rame? Apa kamu ke luar malam minggu sendiri tanpa memberitahuku?” berondong Ravi dengan berbagai pertanyaan.
Ada rasa kesal menjalar di dalam hatinya saat mengetahui kalau ternyata Saras tetap pergi ke luar tanpa izin darinya. Padahal dia sendiri yang sebelumnya berbohong dengan mengatakan ada pekerjaan mendadak yang harus dilakukannya malam ini, makanya dia tak bisa menemani Saras menghabiskan malam minggu bersama.
[Ya, aku memang lagi di luar bersama Sari. Kenapa emangnya? Ada yang salah? Kan orang yang ku sayang katanya lagi sibuk di malam minggu, jadi mau tak mau janda ini harus ketemu sesama janda juga untuk menghabiskan waktu bersama]
Sedikit kesal Saras menjawabnya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang telah memiliki pasangan tiba-tiba saja tidak mengajaknya keluar padahal hampir setiap hari mereka sama-sama sibuk melakukan pekerjaan masing-masing tetapi kenapa akhir-akhir ini, Saras juga merasakan jika Ravi sedikit menghindarinya. Saras mengira, laki-laki itu mungkin menyesal telah pernah mengejarnya Karena dia hanyalah seorang perempuan yang berstatus janda.
“Sayang … kamu kok ngomong ketus begitu sih?” Ravi langsung merasa bersalah.
Laki-laki itu memang saat ini sedang bimbang tentang hubungannya dengan Saraswati tetapi jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, tak pernah sedikitpun ingin berpisah karena memang Ravi hanya sedang ingin kembali sesaat ke dunia perjudian. Lelaki itu hanya tidak ingin gelar Dewa Judi miliknya sedikit tercoreng jika sampai mengabaikan tantangan si Golu, dan setelah dirinya menang nanti, Ravi akan pulang ke wanita yang dicintainya.
Baru saja Ravi ingin kembali melanjutkan perkataannya untuk menyuruh sang kekasih segera pulang, tiba-tiba saja telinganya langsung terasa panas ketika mendengar ada suara pria yang mengajak Saras bicara.
__ADS_1
[Saras … kamu telponan sama siapa sih? Sudah selesai belum?]
Deg! Jantung Ravi berdegup kencang mendengar suara bariton seorang pria bersama kekasih hatinya. Dia jadi bingung, mana yang harus dipikirkan terlebih dahulu?