
Pov Ravi
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Kenapa semuanya lama sekali? Apakah Saras baik-baik saja? Aaaakkhh! Cokro, ya aku akan meminta pertanggung jawaban sama sahabatku itu.
Aku tidak sabar rasanya menunggu sambungan telepon ini, tapi entah kemana dia hingga beberapa kali kali sudah ku hubungi masih saja belum diangkatnya? Kenapa lambat sekali mengangkat telponku. Siaalaan awas kau Coky, aku akan membuat perhitungan dengan mu.
"Rav, gimana keadaan Saras?" tanya pria itu tanpa rasa bersalah setelah datang bak seekor hantu tanpa suara.
Astaghfirullah ini orang bikin kaget aja sih, tapi syukurlah dia datang di saat yang tepat, aku tidak tahan lagi rasanya menunggu dia mengambil nafas dan melepaskan segala emosi yang sudah ku tahan sejak tadi.
Bugh!
Bagh!
Bugh!
__ADS_1
"Laki macem apa lo? Kenapa lo tega biarin dia jalan sendirian malam hari? Kenapa, Brensek, dasar banci lo!" cecarku dengan amarah yang meletup-letup.
Makian ku sudah tidak bisa ditahan lagi, tidak berselera diri ini untuk menjawab pertanyaannya yang sudah jelas-jelas dirinya tau jawabannya.
"Ravi! Tolong sabar dulu, Bro, lo udah salah paham sama gue!" teriak Cokro menenangkan ku yang notabene sudah kadung termakan emosi sendiri karena tak bisa menerima keadaan yang sedang dialami Saras..
"Maaf Bapak-bapak, tolong jaga sikap kalian karena ini rumah sakit. Jika kalian mau berantem silakan tinggalkan arena rumah sakit karena di sini bukan pasar tempat berkumpulnya preman."
Ucapan seorang perawat yang lewat membuatku langsung tersadar akan kebodohan kami berdua yang hampir saja melakukan adu jotos seperti preman pasar sesuai yang dikatakan perawat barusan tapi aku ralat, karena semua itu terjadi karena kebodohanku maksudnya.
"Rav tolong dengar dulu penjelasan gue, nggak cuma lo doang yang merasa sedih, gue lebih jauh lebih sedih."
Lama kami berbincang dan akhirnya aku pun meminta maaf atas prasangka buruk yang sempat aku utarakan kepada sahabat terbaikku itu.
"Keluarga pasien!" ucap seorang perawat yang keluar dari ruangan yang menangani Sarasku.
__ADS_1
Aku semakin deg-degan menunggu perkataan perawat itu selanjutnya, tak sabar rasanya untuk mendengar kabar dari wanita yang teramat ku sayangi sekarang.
"Ya, saya suster," jawabku dengan langkah bergegas untuk menghampirinya.
“Bagaimana keadaan Saras sekarang, sus?” tanyaku dengan detak jantung semakin tak karuan, aku benar-benar sangat gugup selaras rasa takut yang saling beriringan.
Silahkan temui dokter Pras di ruangannya, Pak." beritahu wanita berwajah dingin itu.
Rumah sakit terkenal dengan cerita horror, ternyata sungguh nyata, buktinya perawat tadi aja mukanya dingin gitu, kaki ku berjalan menuju ruang dokter yang tadi di ucapkan oleh sang perawat. Tapi hati ku menggerutu, malah sempat-sempatnya aku mengingat tentang horornya rumah sakit.
Cokro tidak ku urus, biarkan saja dia sendirian disitu, aku ingin segera tau apa yang terjadi dengan Sarasku. Saras bertahanlah, kita baru saja memulai kisah baru, tolong jangan pernah menyerah untuk hubungan yang bahkan belum sempat kita publikasikan.
"Maaf … Istri anda saat ini sedang mengalami koma … saya harap anda bisa bersabar dengan semua ini, lukanya terlalu dalam dan mengenai beberapa organ vital. Dan kemungkinan besar yang akan Anda hadapi adal –"
Belum sempat dokter Pras menyelesaikan kalimatnya, emosiku sudah tak bisa ditahan, apalagi aku tidak memahami bahasa dokter yang berbelit-belit ini.
__ADS_1
Braaakk!
"Apa maksud anda dengan saya harus bersabar?! Tolong dokter jangan berbelit-belit kalau bicara!" bentakku dengan suara lantang.