Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 27. Bertemu Surya


__ADS_3

Sekian banyak purnama sudah berlalu, Saras menepati ucapannya, sejak dia mengatakan akan kembali bekerja besok, dengan keras kepalanya wanita itu berangkat ke kantor untuk menduduki kembali kursi yang sudah lumayan lama ditinggalkannya.


Hari ini Saras akan menghadiri pertemuan dengan perusahaan minuman herbal milik seorang pengusaha yang baru saja didengar namanya. Menurut tuan besar Nugroho perusahaan ini sudah mulai merambah pasar dalam negeri, dan mulai bersaing sengit dengan perusahaan Jamu Jitoe. Terang saja membuat Saras harus berhati-hati. Apalagi wanita itu selama ini belum tau performa Ravi dalam beradu taring dengan lawan bisnis yang akan menjadi lawannya.


“Yank, jika perusahaan itu merebut pasar kita yang ada di Sulawesi, bagaimana?” tanya Ravi saat mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran Yin Yang yang berada sekitar satu jam perjalanan dari kantor Jamu Jitoe.


Saras menatap dengan bola mata berputar saat lelaki itu masih saja memanggilnya dengan sebutan tak pantas di jam kerja.


“Please jangan memanggil saya dengan sebutan pribadi saat kita masih dalam suasana jam kerja atau perjalanan kerja Tuan Ravi! Saya hanya tak ingin ada orang yang menganggap kalau saya ini bisa naik ke atas akibat kedekatan kita,” jawab Saras datar dengan raut wajah tak kalah datar dari lembaran uang kertas.


“Ooppss sorry bu Saras, baiklah, bagaimana menurut anda tentang kekhawatiran saya tadi,” lanjut Ravi yang sedikit terkejut dengan sifat Saras, sebenarnya ini bukan yang pertama kali Saras menegurnya, tapi Ravi selalu mengulangi kesalahan yang sama.


“Saya kemarin sudah melakukan analisis data penjualan produk kita di seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi, dan juga menganalisa bagaimana pergerakan produk mereka bergerak. Lumayan untuk sebuah produk baru sepertinya sudah mampu mencuri perhatian pasar, Jadi kita harus kuatkan branding product, gunakan moment-moment penting di tiap titik kantong konsumen, dan satu lagi tingkatkan kesejahteraan sales, karena mereka ujung tombak perusahaan. Jangan sampai mereka hijack sales potensial milik kita,” jelas Saras panjang lebar dan di simak dengan seksama oleh Ravi.

__ADS_1


‘Ternyata dia sudah mempelajarinya lebih dulu, kamu memang yang terbaik Saras, kerja cepat, kerja cerdas dan kamu selalu membuat kakek tidak bisa jauh darimu,’ gumam Ravi yang kagum dengan langkah-langkah Saras sebelum bertemu lawan bisnis mereka.


“Baiklah kita akan panggil semua kepala cabang yang ada di Sulawesi untuk strategi yang akan kita lakukan. Setelah pertemuan nanti kita akan tau bagaimana performa mereka,” sahut Ravi menanggapi penjelasan panjang Saras.


Tanpa terasa mobil sedan mewah itu memasuki pelataran parkir restoran Yin Yang. Saras sempat menebak bahwa lawan bisnis mereka dari negeri panda, karena pilihan restoran yang kini mereka datangi sudah menunjukkan sifat lawan yang akan mengajak mereka kerja sama.


Saat masuk, seorang wanita cantik melambaikan tangan ke arah mereka ditemani pria dengan rambut hitam, berbahu lebar duduk membelakangi mereka. Wanita itu tersenyum manis ke arah Saras dan Ravi, sungguh penampilan yang sangat elegan dan memanjakan mata. Make up yang tidak berlebihan namun membuat wajah berkulit putih itu segar dan membuat siapa pun berdecak kagum, pakaian formal yang sedikit minim tapi tetap berkesan elegan.


Heels cantik yang membuat kaki jenjang dan putih mulus itu semakin menyempurnakan penampilannya. Mata Ravi nyaris tidak berkedip saat melihat kehadirannya, dan Saras sempat memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria yang sudah berikrar untuk menjadi pendamping hidupnya itu.


‘Kamu masih saja tidak bisa menahan ujian mata pelajaran wanita, Raviii!! Lihat saja nanti hukuman yang bakal aku berikan,’ gerutu Saras lagi semakin merasa kesal dalam hati.


Rasa cemburu dan kesal secara bersamaan menguasai hatinya, tapi sebagai orang yang menjunjung tinggi profesionalitas, wanita dewasa itu tetap menampakkan wajah ramah dan senyum tulusnya penuh wibawa untuk orang yang akan ditemuinya.

__ADS_1


“Hallo, saya Elisa,” sapa wanita cantik dengan jerat pesona yang kuat itu memperdengarkan suara indahnya.


Saras menjabat tangan wanita itu mendahului tangan Ravi yang sudah menjulur. Ravi memahami hal itu, dia pun tersenyum dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Saya Saras …,” ucap Saras.


“Saya Ravi …,” selanya ikut menyebutkan nama.


“Pak, tamu kita sudah datang,” panggil Elisa pada seorang pria yang tadi berdiri dan langsung berbalik badan.


Saras yang melihat pria yang ada di hadapannya sangat terkejut. Wanita yang baru meraih gelar janda itu langsung tergugu, walau ada perubahan tapi dia cukup mengingat garis wajah pria yang sekarang juga terlihat kaget saat mereka bertatapan mata.


“Surya!”

__ADS_1


'Astagfirullah, kenapa aku harus berhadapan dengan masa laluku?' tanya Saras di dalam hati pada diri sendiri.


__ADS_2