
"Aahh kakek, ya ok, aku salah. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar Kakek mau memaafkan aku?" tanya Ravi dengan mengacak kasar rambutnya.
Pria itu merasa frustasi dengan tingkah sang kakek sepagi ini.
"Lepaskan Saraswati! Hanya itu saja permintaan kakek tua ini,” pinta Tuan Nugroho.
Ucapan pelan dari sang kakek bak petir di siang bolong yang langsung menghantam gendang telinganya. Pria itu tidak bisa menahan gejolak amarah yang tiba-tiba membuncah di dalam kepalanya, ingin rasanya sang cucu mahkota itu menghajar sang kakek jika tidak mengingat siapa orang yang sedang berada di hadapannya sekarang.
“Kakek! Kenapa Kakek bicara seperti itu? Apa kakek sadar dengan apa yang barusan kakek katakan?!” geram Ravi dengan tangan yang mengepal, buku-buku tangannya memutih, tubuhnya bergetar menahan amarah.
__ADS_1
Sebenarnya sang kakek sudah memprediksi kalau suasana seperti sekarang bakal bakalan terjadi tapi tidak menyangka jika sang cucu begitu bengis dengan permintaannya.
“Hey anak muda, jangan kau biasakan membentak orang yang sudah sepuh ini, aku hanya minta supaya kamu mau melepaskan cucu angkatku. Aku tidak meminta kau melepaskan tahta naga mu itu, silahkan kalau kau mau menikah dengan sesama wanita penjudi di luaran sana, kakek sudah tak perduli,” jawab Nugroho dengan nada datar dan menatap tajam sepasang netra cucunya.
Ravi terkesiap mendengar penuturan sang kakek, ‘cucu angkat? Maksud kakek apa sih? Apa Saras sudah diangkatnya untuk menjadi penggantiku?’ tanyanya di dalam hati.
“Kakek gak bisa memutuskan sesuatu sesuka hati begitu dong, Saras itu separuh dari hidupku dan aku nggak akan pernah melepasnya untuk siapa pun! Apa sebenarnya yang kakek inginkan dariku? Apa kakek menginginkan kematianku?!” tanya Ravi Sarkas, pria itu mulai hilang akal, padahal dirinya belum menghadapi wanita yang diabaikan beberapa hari terakhir ini.
“Siapa yang menginginkan kau mati? Hanya saja jika kau ingin hidup, biarkan orang lain juga tetap hidup dengan tenang. Dunia ini luas, tidak akan mampu kau menguasainya sendirian, Ingatlah Ravi … Saras itu bukan boneka yang tidak bernyawa. Dia akan menyelesaikan apa yang tak bisa kau lakukan!” jawab Nugroho membuat tubuh Ravi gemetar, itu berarti sang kekasih sudah mengetahui tentang siapa dirinya.
__ADS_1
“Siaall! Aku gak akan pernah melepaskan Saras, ingat itu Kek!” raungnya dengan wajah muram dan gelap.
Ravi membentak kakeknya yang terus saja bersikap tenang padahal sang cucu sudah menggila akibat emosi. Nugroho membiarkan karena pria tua itu sudah sangat mengenal watak cucunya, dan dia sangat yakin kalau pria bernama Surya akan mampu menghadapi cucu arogannya itu.
Nugroho begitu yakin dengan keputusannya yang sudah benar untuk meminta Ravi melepaskan Saras karena merasa yakin jika Saras tidak layak mendapatkan lelaki buruk akhlak itu bersanding dengan cucu perempuannya. Dia tau kalau judi itu tidak akan pernah bisa untuk disembuhkan, jika bukan pelakunya sendiri yang bertobat dan benar-benar meninggalkan meja perjudian. Godaan yang sangat kuat akan kembali menarik para pemain yang berusaha untuk menjauh dari dunia judi, oleh karena itu Nugroho ingin Ravi belajar dan menjemput hidayah agar kedepannya sag cucu bisa menutup perjalanan hidup dunia bawah tanah yang dijalani untuk menjadi manusia baru.
“Ravi, apa yang kau cari dari dunia yang kau bangun sekarang itu? Apa kau masih merasa kurang dengan apa yang sudah kita miliki sekarang?” tanya Nugroho sendu, setelah dia melihat Ravi mulai luluh dan reda emosinya, barulah dia memberanikan diri untuk kembali bersuara.
Ravi menoleh dan langsung mengunci pandang dengan sepasang netra renta milik sang kakek yang selama ini dia cintai, tapi beberapa menit yang lalu dia sudah berani membentaknya dengan begitu kejam. Sayangnya Ravi memiliki alibinya sendiri.
__ADS_1
“Kakek, aku sudah membangun semua itu selama bertahun-tahun, dan itu semua ku rintis dari nol. Sementara apa yang ada sekarang merupakan hasil jerih payah keluarga kita. Aku hanya sebagai penerus dan kakek tau betul bagaimana pandangan orang terhadap seorang penerus yang hanya duduk manis di atas kursi kebesaran tanpa melakukan usaha sebelumnya? Aku ini bukan siapa-siapa selain hanya sebagai seorang penerus perusahaanmu, Kek. Aku merasa tidak memiliki harga diri di mata orang lain kecuali predikat seorang cucu manja yang suka berfoya-foya,” lirih Ravi dengan nada sendu.
Ternyata selama ini Ravi melakukan semua itu untuk memperlihatkan terhadap dunia bahwa dirinya mampu berdiri sendiri di atas pijakan kakinya tanpa ada embel-embel nama besar sang kakek.