
Sesaat Saras melepaskan semua rasa sakit yang baru saja ditorehkan oleh sang cucu mahkota. Saras bangkit dan kembali menuju meja makan, dia melihat ada kotak kecil yang menyelip di dekat piring. Wanita itu kembali duduk ditempat tadi, dengan tangan masih gemetar Saras mengambil segelas air putih untuk menurunkan emosinya.
"Kotak apa ini? Apa dia lupa sesuatu?" gumam Saras lirih, pelan tangannya terulur dan dengan rasa penasaran wanita itu membuka kotak kecil berlapis kain beludru nan cantik.
"Ya Allah, ini berlian, apa niatmu sebenarnya, By?" Kembali Saras bicara pada ruang hampa, tidak ada sosok Ravi di sana tapi Saras tetap saja memanggil pria itu dengan panggilan kesayangannya dengan lirih dan pilu.
"Biarkan saja barang ini di sini, aku akan menyimpannya sampai dia mencarinya. Ya Allah, berikan petunjuk Mu, apakah Ravi orang yang tepat untuk menjadi imamku? Engkau yang maha tau akan segala hal, tolong hamba ya Allah …," monolognya hanya bisa bicara sendiri, dengan bayangan dirinya di meja makan yang sederhana.
Saras bangkit, dia susut air mata yang melintasi pipi mulusnya, hari minggu kelabu, seperti itulah Saras merasakan hari nya. Dengan cepat dia membersihkan meja makan dan kembali berkutat di dapur untuk membersihkan sisa-sisa perjuangannya memberikan sarapan pagi kepada kekasih hatinya.
*****
Waktu berlalu, tanpa terasa satu purnama telah dilewati, kedua insan yang saling diam dan menghindar masih saja terlihat melakukan perang tak berkesudahan. Saras tetap dengan pekerjaannya, sementara Ravi lebih sering tidak tampak di kantor.
Saraswati memilih tidak peduli, beberapa kali tuan besar langsung datang ke kantor menanyakan kinerja Ravi, semuanya di jawab Saras dengan apa adanya.
__ADS_1
Guratan kecewa kian waktu kian kentara di raut wajah tuan Nugroho yang berusaha keras untuk tetap terlihat muda. Lelaki pemilik perusahaan jamu itu mulai merasa curiga dengan cucu kandungnya sendiri yang sudah sangat jarang sekali datang dijumpainya di perusahaan.
"Apa kamu tidak curiga sama sekali dengan perilaku cucuku, Saras?" tanya tuan besar Nugroho di hari ini, tepat saat audit dilakukan dan Ravi tidak di ketahui keberadaannya.
Terakhir Ravi hanya berpamitan untuk pergi ke luar negeri dalam urusan pribadi. Sang kakek tidak bisa mencegah, karena dia melihat Ravi yang berantakan dan lebih sering marah-marah. Entah kemana cucu konyol dan lucunya, pria tua itu hanya berharap Ravi tidak salah langkah seperti sebelum bertemu Sarah di usianya yang sudah tak lagi muda.
Tuan Nugroho sangat yakin jika Ravi akan kembali ke dunianya yang suka membuat ulah dengan mabuk-mabukan karena hanya itu yang selama ini perangai buruk sang cucu terbaca di matanya.
"Saya tidak tau tuan besar, dalam satu bulan terakhir ini kami jarang sekali bertemu," jawab Saras berusaha menutupi tentang peristiwa di hari minggu pada waktu terakhir mereka bertemu.
"Saras, bisakah kamu melakukan sesuatu untuk pria tua ini?" pinta pengusaha nomor wahid di perusahaan ini kepada Saraswati.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk tuan? Jika saya bisa, apa pun itu akan saya lakukan untuk anda," jawab Saraswati dengan santun dan tentu saja perasaan yang gelisah.
"Selidiki cucuku, berikan informasi akurat sekecil apapun itu mengenai dia, dan kamu tidak perlu takut, aku percaya kepadamu melebihi kepercayaan kepada diriku sendiri," pinta tuan besar Nugroho yang lebih mirip dengan perintah tak terbantah.
__ADS_1
"Saya akan usahakan sebaik yang saya bisa, Tuan besar," ucap Saras singkat.
Kali ini semua akan bisa berubah dan mengubah keputusan akhir dari hubungan mereka, itulah yang ada di benak Saras. Bahkan wanita itu merasakan jika dirinya digantung dalam status yang tak jelas sebab Ravi tak pernah lagi menghubunginya, seolah-olah kecemburuan telah membuatnya pergi untuk selama-lamanya tanpa mau menerima penjelasan yang telah diterangkan Saras tentang Surya. Padahal Saras Tahu betul jika dirinya tidak melakukan sesuatu yang salah apalagi sampai berselingkuh dengan Surya. Menurutnya Ravi terlalu kekanak-kanakan dan juga tidak menilai tinggi tentang hubungan yang mereka jalani.
"Untuk biaya kamu nggak usah cemas, gunakan kartu ini untuk membiayai kebutuhan penyelidikanmu."
Suara datar penuh tekanan itu kembali memberikan perintah kepada Saras, dan wanita karir itu tidak memiliki hak untuk menolak atau membantah.
"Terimakasih atas kepercayaan yang tuan berikan, semoga saya tidak mengecewakan anda," ucap Saraswati tegas. Ini bukan tugas sembarang tugas, menyelidiki kehidupan seseorang bukanlah pekerjaan yang pernah dia lakukan.
"John akan mendampingimu dalam misi ini, nomor teleponnya sudah aku kirimkan," lanjut pria tua itu dengan wajah yang dirundung susah.
Sejauh ini sang cucu mahkota selalu dekat dengan dirinya, tapi perubahan sikap Ravi membuat sang kakek bermuram durja.
Saras merasakan kali ini tugas yang diberikan sangat berat, tugas kantor yang selama ini dia jalankan selalu terasa tanpa beban, tapi kali ini sungguh berbeda.
__ADS_1
Tapi sejenak dia mendapatkan sebuah petunjuk, apakah ini jawaban dari doa-doanya selama ini, akhirnya dia bisa mencari tau latar belakang pria yang sudah berhasil mendapatkan hatinya.
Sungguh Allah sangat luar biasa saat menjawab doa-doa hambanya, ‘Berarti aku harus terbang ke China untuk mengetahui apa yang dilakukannya di sana! Ravi … mari kita liat siapa kamu yang sebenarnya dan apa benar kau pergi karena sakit hati setelah menuduhku berselingkuh?’