Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 9. Apa Wanita Yang Sama?


__ADS_3

Pov Nugroho


“Ravi, cucuku sayang, kamu mungkin saat ini tidak sadar sedang melakukan kesalahan, tapi kakek yakin itu hanya cinta sesaat. Anggaplah perasaan yang sedang ada dalam dirimu hanya mimpi disiang bolong dan kala terbangun langsung lupakan, seperti lagu dangdut cinta satu malam, oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang.”


Tanpa sadar bibir tuaku malah jadi bernyanyi, aahhh error bener nampaknya aku ini gegara cucuku sendiri yang ingin merebut bini orang, tapi bini siapa yang mau dirampoknya?


Aku peluk dirinya dan ku sembur ubun-ubunnya dengan membaca doa-doa yang ditakuti oleh iblis.


“Isshh, Kakek ini apa-apaan sih? Aku ini nggak lagi kesurupan Kek … ngapain di sembur segala? Udah kayak dukun aja! Bisa bau nih kepalaku kena jigongnya Kakek!” protes Ravi dengan nada kesal, tapi aku tidak peduli dengan ocehannya.


“Hey Ravi, kamu yang tenang ya, orang kalo kesurupan itu memang nggak sadar, kakek akan mengeluarkan demit gan^jen itu dari tubuhmu, agar dia tidak mengajakmu pada jalan yang salah, jadi pebinor itu bukan prestasi tapi kesalahan besar!” Cucuku ini memberontak, aku memperkuat pitingan tanganku di leher kekarnya.

__ADS_1


Tangan ku yang sebelah kiri meraih gelas berisi kopi pesanan yang sudah diantar mbok Mi, ku sesap kopi pahit itu hingga membuat pipi ku menggembung dan dengan sekali hentakan penuh keyakinan, ku semburkan kopi itu ke puncak kepala Ravi, agar segala macam demit kabur dan kembali meluruskan orak cucu kesayanganku ini.


Byuuurr!


“KAKEEEKKK! Kenapa aku di sembur pake kopi siih, bau dan basah semua ini, kotor deh bajuku! Ya Tuhaaaan, ini yang sebenarnya gend^eng aku apa Kakek sih? Udah tua masih aja banyak belagu, ini lagi ngapain Kakek mengenakan celana anak muda begini segala? Jangan bilang kalau Kakek ingin menggaet bini orang juga seperti apa yang bakal ku lakukan!”


Sesaat aku menatap wajah cucu kesayanganku itu, setelah melihat bibirnya yang manyun membuat aku lega, berarti dia sudah kembali waras. Syukurlah kalau cucuku ini sudah kembali pada mode Ravi yang sesungguhnya.


Kasihan juga melihatnya sudah basah dengan kopi hitam yang harus nya ku minum tapi malah dengan sengaja ku sembur pada kepalanya, untunglah Ravi itu sedikit manja padaku hingga dirinya sama sekali tak marah berlebihan, melainkan seolah mengerti dengan perbuatan yang barusan aku lakukan karena rasa sayangku.


“Aku ingin menikahi si anu, Kek … maksudku perempuan tangguh yang mampu membuat hatiku jungkir balik!” jawabnya malah memberikan teka teki padaku.

__ADS_1


Jantung tua ku mulai terasa tak enak, jangan bilang Ravi ingin mengatakan bakal menikahi wanita yang juga sedang ingin ku dekati, bisa perang dunia ke seratus kalau sampai dia tau aku menyukai wanita yang juga ingin dinikahinya.


Ya Tuhan … semoga wanitanya berbeda dan bukan orang yang sama.


"Dia cantik, pinter, tangguh plus juga bo^hay. Namanya berinisial S, Kek," jawabnya membuat mataku kembali membola.


Deg!


Jangan-jangan wanitanya sama nih, aku harus waspada.


"Yang jelas kalo bicara, Ravi!" Bentakku mulai panik karena takut kalau sampai wanita gebetanku juga menjadi gebetan cucuku. Apa kata dunia kalau mengetahui sepasang cucu dan anak menyukai janda yang sama. Tak dibayangkan bagaimana gemparnya dunia persilatan, maksudku dunia kami berdua yang masih sama-sama dalam satu keluarga tapi mencintai perempuan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2