Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 44. Mulai Ragu


__ADS_3

Hari ini Saras bertemu dengan John, intel yang ditugaskan oleh tuan besar Nugroho membantunya menyelidiki apa yang dilakukan Ravi di luar sepengetahuannya. Cafe Biru menjadi tujuan Saras dan John, mereka janjian bertemu di rooftop. Saras menggunakan kulot lebar dengan atasan panjang warna senada. Kerudung segi empat yang dipermanis dengan bros indah berbentuk kupu-kupu, menyempurnakan penampilan Saras di malam ini. 


"Selamat malam Saras, senang bertemu denganmu," sapa John yang ternyata lebih dulu datang daripada dirinya. 


"Malam John, terimakasih, maaf aku mau pesan makanan dulu. Apa kamu sudah pesan?" tanya Saras dengan mode santai, karena ini pekerjaan di luar jam kerja formal, maka wanita itu lebih memilih untuk tidak baku menghadapi John. 


Gadis dengan status janda itu juga sudah berusaha menjadi orang yang jauh lebih lembut sejak berada di sisi rapi dan menyandang gelar janda setelah diceraikan Raju, Walau terkadang sifat keaslian dirinya yang datar dan juga dingin masih sering timbul karena susah untuk diabaikan. 


"Aku sudah pesan, silahkan kamu lanjut pesan," jawabnya dengan senyum tipis menggaris bibirnya yang berwarna kecoklatan, mungkin efek kebanyakan merokok. 

__ADS_1


Tidak lama makanan yang mereka pesan pun datang, dan karena ini sudah waktunya makan malam jadi mereka berdua menuntaskan dulu rasa lapar yang mulai mendera. 


"Ok, bagaimana pekerjaan yang akan kita lakukan bersama, Saras?" tanya John tanpa basa basi, hal ini langsung Saras sukai. Cara bicara yang tidak bertele-tele membuat mereka berdua langsung terlihat akrab untuk menjadi rekan kerja ke depannya.


"Kita akan menyelidiki siapa sebenarnya tuan muda Raviram Chandra di luar topeng manisnya selama ini, karena tuan besar Nugroho mencurigai kalau cucunya mulai miring jalannya," jelas Saras dengan serius, kali ini wanita itu tidak sedikit pun menggunakan hati melankolisnya dalam menyampaikan apa yang diketahui selama ini. Seakan tidak ada jejak rasa sayang lagi yang selama ini terpampang di wajahnya kepada si tuan muda itu, Saras memilih untuk tegas dalam bersikap. 


Saras tidak ingin John mengetahui kisah manisnya bersama sang cucu mahkota, memilih untuk tidak menceritakan Ravi yang mendatanginya ke rumah di pagi itu. 


"Dia mudah marah dan itu tidak terkendali ketika hal kecil terjadi, tidak ingin ada pesaing yang melewati jalannya. Selama dia dalam pelatihan, aku tidak melihat sekalipun kelakuan buruknya kecuali hanya mabuk," jawab wanita itu yang disimak dengan teliti oleh John. 

__ADS_1


Pria itu mengerutkan dahinya, dalam pikirannya apakah Ravi menggunakan obat-obatan terlarang juga? Sehingga membuat emosinya tidak bisa terjaga? 


"Apakah kamu pernah tau dengan siapa dia bergaul? Atau mungkin kamu mengetahui siapa orang terdekatnya, semisal kekasih, begitu?" tanya John dengan tatapan menyelidik. 


Saras menggigit bibir bawahnya dan hal itu membuat jantung John berdebar lebih cepat. Pria itu segera membuang pandang ke arah lain, tidak ingin terpesona dengan pemandangan di hadapannya, Saras terlihat menggemaskan saat seperti itu. 


Saras sendiri tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sudah dapat membangkitkan jiwa ingin sesuatu pada pria di depannya. Saras hanya merasa terlena dengan Ravi yang setelah dipikirkan lagi ternyata hubungan mereka jalan di tempat. Pertanyaan John juga sedikit menyentil dirinya yang memang jadi orang terdekat Ravi dalam beberapa saat. 


Sekarang wanita itu baru sadar, kalau selama mereka menjalani suatu hubungan, Saras sama sekali tidak pernah mengenal siapa temannya, apa kegiatan Ravi ketika tidak di rumah, bagaimana kehidupan Ravi saat di luar negeri dan dalam negeri, serta lain sebagainya. Lalu hubungan macam apa sebenarnya yang mereka lalui jika Saras sendiri tidak mengenal sosok Ravi yang sebenarnya? Saras mulai ragu kalau Ravi adalah lelaki terbaik untuk hidupnya. 

__ADS_1


__ADS_2