
“Diam kau, aku mengenal wanita ini lebih lama dari pada kamu!” jawab Nugroho sarkas.
Kakek tua itu memang punya niat untuk curhat saat sudah kembali ke tanah air. Tapi semua nya jadi batal karena melihat Saras yang tertidur panjang saat ini.
Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan cara pikir cucu kandungnya. Bisa bisanya Ravii menutup berita tentang kecelakaan yang sedang dialami Saras darinya, padahal cucunya itu tahu bagaimana sayangnya Nugroho terhadap Saraswati. Bahkan pria itu pernah berpikir akan menjodohkan Saraswati dengan cucu nya yang manja itu dan juga sering berbuat ulah hingga membuat anaknya menjadi Blingsatan hanya untuk mengurus perangai sang cucu.
“Kalau kamu tidak menyembunyikan berita kecelakaan Saras seperti ini, mungkin kakek sudah membawanya ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik! Kalau tahu semua ini bakalan terjadi maka kakek tidak akan membiarkan kalian berdua menjadi dekat! Kakek pasti akan membuat Saras menjauh darimu!”
Sepertinya Nugroho benar-benar menyesalkan sifat cucunya yang menyembunyikan tentang kecelakaan Saras, hingga membuat wanita yang baru menyandang status sebagai janda itu hanya bisa berbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
“Kek, aku mohon jangan lakukan itu, kasihan Saras kek,” pinta Ravi menghiba. Nugroho tidak peduli dengan rengekkan sang cucu mahkota.
Namun Tuan Nugroho tidak menghiraukan rengekan cucunya tetapi pria tua itu malah kembali dengan sengaja mengarahkan wajah Pada pasien yang masih menutup mata. Nugroho akan kembali membangkitkan semangat yang mungkin saja telah hilang dalam kehidupan Saras karena lamanya dirinya tertidur pulas di bawah alam sadarnya.
__ADS_1
“Saras dengar aku, kamu harus segera bangun karena ada perusahaan yang sekarang ini menjadi pesaing kita, dan perusahaan itu berasal dari negara tetangga. Kakek tidak bisa bersaing sendiri, cucu ku ini masih terlalu bo^doh untuk melawan perusahaan yang beranjak menjadi raksasa itu. Ayo lah Saras … kamu harus cepat bangun! Bangun dan kerjakan semua perintah saya seperti biasa. Kamu bukan orang yang lemah seperti Ravi!” perintah Nugroho di tengah-tengah curhatnya yang seolah memaksa wanta itu untuk segera membuka mata.
Entah ilmu dari mana yang kakek tua itu pelajari untuk membangungkan orang koma, dia malah memberikan masalah perusahaan kepada orang yang sedang tidak sadarkan diri.
Melihat aksi sang kakek yang dinilainya sedikit keterlaluan, membuat Ravi akhirnya meradang, pria itu ingin sekali menyembur kepala sang kakek agar dia sadar bahwa sekarang dia bicara dengan sleeping beauty.
Tuan Nugroho sama sekali tidak memedulikan keberatan sang cucu tetapi dia malah dengan sengaja kembali seolah meraung-raung untuk menyuarakan agar Saras segera bangun dari tidur panjangnya.
Ravi menganga melihat apa yang barusan terjadi, matanya tidak berkedip melihat drama yang menguras emosi itu terjadi secara live di depan matanya. Kakeknya benar-benar sangat keterlaluan.
“Kakek! Tolong jangan ter–” teriak Ravi membuat pria tua yang sudah memerah wajahnya itu menoleh ke arahnya, dan sang cucu tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena sudah dipotong oleh sang kakek.
“Diam kamu Ravi, jangan ikut campur!” bentak tuan Nugroho membuat Ravi menciut seketika.
__ADS_1
“Saras, apa kamu rela melihat para karyawan kita nanti akan pindah ke perusahaan mereka karena dijanjikan gaji yang sangat tinggi untuk karyawan kita yang mau pindah ke perusahaan mereka? BANGUN SARAS, BANYAK KELUARGA YANG BERHARAP KEPADAMU!” teriakan Nugroho sungguh menggetarkan dinding rumah sakit yang saat ini mereka tempati.
Sungguh sebuah anugerah dengan suara lantang milik Sang kakek karena ternyata keajaiban itu langsung melihatkan wujudnya. Tiba-tiba saja jari tangan Saras bergerak, dan hal itu tertangkap oleh mata Ravi. Kini pria itu paham dengan apa yang kakeknya lakukan. Ravi menyenggol Nugroho dan memberikan kode dengan matanya atas apa yang terjadi pada Saras.
Senyum sumringah tergambar di bibir tuanya. Pria itu menarik nafas dalam, dan kembali bersiap untuk mengeluarkan suara dengan kekuatan lebih mengguncang.
“SARAS BANGUN ATAU PERUSAHAAN KITA AKAN DIHANCURKAN OLEH ORANG-ORANG LICIK ITU!” titah Nugroho dengan nafas tersengal.
Pria tua itu bersungguh-sungguh dalam bicaranya, dan hal itu kembali membuat jari Saras bergerak.
“Saras, ayo bangun, jangan makan gaji buta!” ucapan pedas seakan tidak berperi kemanusiaan itu ternyata mampu membuat mata Saraswati terbuka lebar.
Ravi langsung menekan bell emergency dan tidak lama tim dokter yang menangani Saras datang bersama beberapa orang suster yang mendampingi. Benar-benar luar biasa.
__ADS_1