
Hanya saja Ravi selalu mencari kebenaran di balik semua kesalahan yang pernah dilakukannya, hingga suatu saat dirinya akan menyesal karena telah dengan sengaja membeli tiket untuk membuka pintu neraka.
Ceklek!
“Selamat pagi, Sayang … ini untukmu,” ucap Ravi dengan menyerahkan setangkai bunga mawar berwarna merah yang langsung diterima oleh perempuan cantik itu di ambang pintu.
“Hey ada acara apa ini, pake bunga-bunga segala, but anyway terima kasih, By … ayo silahkan masuk!” Saras dengan sengaja membuka pintu jauh lebar lagi hingga semuanya nampak dari luar, dengan tujuan agar tidak timbul fitnah dari para tetangga, apalagi dengan statusnya yang menyandang seorang janda muda.
Mereka duduk di ruang tamu yang terlihat begitu sederhana, bahkan di dalam benak seorang Ravi … rumah kontrakan kekasihnya sama sekali tidak layak untuk ditempati, apalagi statusnya yang begitu tinggi tetapi malah membiarkan perempuan itu hidup menderita. Namun apa daya, Saraswati bukan tipe perempuan matre yang akan langsung menerima apa yang diberikan oleh pria pemujanya, tetapi Saraswati adalah tipe wanita dengan prinsip yang sangat teguh dan tidak pernah ingin bergantung pada orang lain termasuk kekasihnya.
“Hmmm, aromanya enak banget sayang, aku jadi laper,” ucap Ravi setelah menghirup aroma masakan yang menggugah seleranya,
“Aku tadi sengaja membuat sarapan untuk kita makan berdua,” ujar Saras dengan wajah berbinar, memperlihatkan jika perempuan itu merupakan wanita yang sangat tegar bahkan mungkin Saraswati termasuk pada tipe yang tidak akan pernah memperlihatkan rasa sakit dan sedihnya terhadap orang lain.
“Waw mamamia lezato … memangnya tadi kamu bikin sarapan apa untuk kita makan bersama?” tanya Ravi menatap wajah cantik yang berstatus janda di hadapannya, bahkan hingga sampai sekarang Ravi belum pernah mengetahui jika Saraswati merupakan janda yang masih suci alias belum membuka segelnya dengan suami terdahulu.
Saraswati hanya menanggapinya dengan senyum, “ada deh! Pokoknya hari libur ini kita bisa menghabiskan waktu bersama hingga sore tapi nanti tolong temenin aku ke toko buku sebentar, ya!” jawab Saras sedikit bermain tebak-tebakan.
“Kamu itu paket lengkap banget sih sayang, cantik, pinter, solehah, pinter masak, pinter bikin aku jatuh cinta sama kamu,” gombal Ravi sontak membuat pipi saras yang belum tersentuh skincare itu merona.
Janda cantik itu sibuk menyiapkan piring dan teh panas juga air putih, tidak lupa dia mengambilkan puding yang sudah disimpan di dalam kulkas sebagai hidangan penutup.
“By, udah berapa perempuan yang kamu gombalin kek gini?” sahut Saras yang tidak ingin diketahui Ravi bagaimana perasaannya saat ini, sedang berbunga-bunga.
__ADS_1
“Hanya kamu sayang, mana bisa aku gombalin perempuan lain, sementara separuh jiwaku sudah bersemayam dalam dirimu,” ucapnya dengan senyum.
Ravi yang dengan lancar mengutarakan kalimat manis kepada Saras. Entah demit mana yang merasuki pria tampan bergelar dewa judi itu, sehingga lancar sekali mengatakan kata-kata yang membuat hati meleleh.
“By … udah deh, bisa naik gula darahku dengerin gombalan kamu pagi-pagi gini. Yuk ah sarapan, keburu naik asam lambung ke ubun-ubun.” Saras memutar bola matanya, tidak tahan lagi dengan mulut manis pria tampan berkharisma ini, jangan ditanya dengan hatinya, sudah pasti berbunga-bunga namun waspada.
Makan pagi yang tenang, kedua insan yang sedang di naungi oleh asmara itu tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka berdua sudah menyelesaikan sarapan pagi yang sederhana itu.
Saraswati menyelesaikan makannya terlebih dahulu, seperti biasa wanita itu tidak mau membuang waktu percuma, semua harus cepat selesainya, karena sudah terbiasa, akhirnya di luar jam kerja pun dia akan berlaku sama. Sesaat wanita cantik itu teringat peristiwa semalam, entah apa yang membuatnya kembali mengingat hal itu.
Flashback on
Saras yang sudah siap dengan bekalnya untuk menginap di apartemen Sari — sang sekretaris tetapi semuanya menjadi gagal gara-gara pertemuannya Surya di angkringan mas Pomo. Pria masa lalu itu yang memaksanya untuk mengantar Saras pulang dengan alasan ada hal penting yang ingin diucapkannya. Tentu saja Saras tidak mungkin menolak karena memang dirinya pun masih ada permasalahan di masa lalu yang belum mereka selesaikan.
Mata Sari langsung membulat ketika melihat lembaran merah bertumpuk indah di depan matanya, tentu saja Surya menyuruhnya untuk pergi ke mall sekedar berjalan-jalan dan menghabiskan uang yang dia berikan sesuka hati. Sari paham dengan apa yang Surya maksud, walau dia kecewa karena di usir secara halus tapi Surya sudah memberikan penawar yang sangat sulit untuk dilewatkan, siapa yang tidak menyukai benda itu, tentu saja semua orang menyukainya, tidak terkecuali Sari.
Sari yang awalnya jual mahal dan tidak ingin mengambil uang merah di depan mata, tiba-tiba langsung saja meraihnya lagi setelah mendengar kalimat yang diucapkan laki-laki bernama Surya.
“Jika dalam 10 detik kamu tidak mengambil uang itu, maka saya akan tetap membawa Saras pergi tetapi uangnya akan saya masukkan kembali ke dalam dompet!” Dengan wajah datar pria itu bersiap meraih lagi tumpukan uang yang telah diletakkannya di atas meja persis di hadapan Sari.
“Waduhh, Pak Surya ternyata tukang ngambek juga, sesuatu yang sudah diberikan pada orang lain itu nggak boleh diambil lagi Pak! Kalau orang tua bilang namanya pamali, jadi saya ambil uangnya dan langsung permisi!” Sari tidak peduli lagi dengan tagihan makanan di angkringannya, sudah bisa di pastikan akan ada sponsor yang membayarnya. Dengan langkah gesit dia meninggalkan dua orang dewasa itu di cafe rakyat berjudul angkringan Mas Pomo.
“Saras, aku senang kita bisa ketemu lagi, dan aku berharap apa yang pernah kita ikrarkan bersama tidak luntur karena waktu yang memisahkan kita waktu itu,” ucap Surya yang to the point.
__ADS_1
Surya memiliki kesamaan dengan Saras, tidak suka bertele-tele, fokus dan akan memperjuangkan apa yang sudah dicita-citakan. Tegas dan tidak punya banyak toleransi, persis seperti Saraswati. Itu juga lah yang membuat keduanya sangat mudah akrab di awal pertemuan, karena memang banyak kesamaan yang membersami keduanya.
Saras meneguk salivanya saat mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Surya. Inilah yang ditakutinya jika kembali bertemu dengan mantan ter indah di masa lalu — mantan yang belum pernah jadi tetapi keduanya masih terikat janji!
“Surya, aku masih mengingatnya, bahkan tidak satu pun yang bisa aku lupakan. Apakah menurutmu aku masih seperti yang kamu harapkan?” tanya Saras setelah sedikit mengatakan tentang dirinya yang masih apik menyimpan kenangan itu.
“Berubah atau tidak … tentu jelas saja aku tidak tau, dan aku bukan manusia yang bisa menerawang tentang dirimu di saat jauh dari pandanganku. Tapi aku yakin, kamu masih orang yang sama dengan orang yang pernah aku kenal dan ku cinta dulu,” jawab Surya sambil tersenyum tipis, matanya terus saja mengunci wajah wanita cantik yang semakin terlihat dewasa dan menghanyutkan jiwanya.
Flashback off
“Saras, kok kamu malah kelihatan bengong? Itu jari kamu luka kena apa?”
Pertanyaan Ravi sontak membuyarkan lamunan tentang Surya semalam hingga mulutnya keceplosan, “Ini, kena pisau, Surya,” jawab Saras dengan langsung melihat ke arah jarinya, sepertinya dia masih belum sadar siapa yang ada di hadapannya, sehingga dengan tanpa sadar wanita itu menyebutkan nama pria yang sesaat lalu sedang menguasai pikiran dan alam bawah sadarnya.
Deg!
“Siapa Surya? Jangan bilang kamu sedang mengingat Surya CEO nya perusahaan lawan yang tiba-tiba mengajak kerjasama waktu itu!”
****, Ravi sangat cemburu. Bisa-bisa nya wanita ini malah memikirkan pria lain di depan hidungnya sendiri.
Ravi menatapnya dengan dingin, wanita itu sontak mengangkat kepala dan sungguh membuat jantungnya seakan berhenti setelah menyadari kalau dirinya sudah salah menyebut nama.
‘Oh my God … ada apa dengan bibir ini yang tanpa sadar menyebut nama Surya? Ya Tuhan … tolong aku.’
__ADS_1