Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 19. Bangunlah, Saras


__ADS_3

"Apa maksud anda dengan saya harus bersabar?! Tolong dokter jangan berbelit-belit kalau bicara!" bentakku dengan suara lantang.


Gebrakan tangan ku di atas meja kerjanya yang besar, membuat sang dokter terkejut mendengar suaraku yang menggelegar.


"Sabar Pak, Saya ini hanya seorang Dokter bukan Tuhan tapi jika anda seperti ini terus … maka sebaiknya anda tunggu saja istri anda di sini. Biarkan dia berjuang sendiri melawan maut yang sedang berusaha mengajaknya pergi!" dokter Pras bicara dengan tenang dan berani tetapi aku tau ada kata bermakna dalam yang tersemat lewat kalimatnya barusan.


Sekarang aku baru tersadar kalau ternyata saat ini aku sedang berhadapan dengan takdir Tuhan.

__ADS_1


Dokter Pras yang melihat ku mulai duduk kembali dan berusaha untuk tenang, pria itu pun menyuguhkan segelas air mineral untuk menyegarkan kerongkongan ini yang tadi sempat marah-marah tak jelas karena terlalu emosi. Lemas seluruh persendianku, baru saja dokter itu menjelaskan, aku sudah dibuat hilang kewarasan. Entah bagaimana jika terjadi hal yang fatal kepada Saras?


"Pak Ravi, saya mohon anda harus tenang, saat ini istri anda sedang membutuhkan dukungan suami dan orang-orang terdekatnya dalam menghadapi maut. Dia wanita yang kuat, saya yakin dia akan cepat sadar kembali." lanjut dokter Pras begitu sangat tenang berusaha menguatkan ku.


Dokter yang awalnya memberikan motivasi dan keyakinan kepadaku itu, kini mulai menjelaskan bagaimana keadaan Saras yang entah berapa kali dia mengatakan wanita cantik itu sebagai istriku. Beberapa istilah kedokteran yang aku tidak bisa pahami terpaksa ku balas senyum saja seiring dengan anggukan kepala.


Kini wanitaku itu sudah dipindah ke ruang rawat inap Menandakan Kondisinya sudah semakin stabil dan aku hanya bisa berharap kepada yang maha kuasa, semoga saat cepat sadar dan pemulihan tubuhnya akan ku upayakan agar wanita itu segera bisa tersenyum lagi padaku! Aku hanya bisa memandang wajahnya yang bahkan terlihat masih begitu pucat, dengan segala perlengkapannya alat medis saling berhubugan dengan tubuhnya, membuat aku hanya bisa mendengar alat-alat itu berbunyi.

__ADS_1


Cokro yang sedari tadi duduk diam menunggu, kini mengekor dengan setia di belakang ku. Aku masih kesal dengan sahabatku itu, walaupun aku sadar itu bukanlah kesalahan Cokro, tapi inilah suratan takdir bagi Saraswati, entah apa rencana Allah selanjutnya tapi aku akan berusaha berpikiran positif hingga Dia jahitan itu benar-benar ada untuk membuka maka wanita pujaan hatiku.


Wajah cantik itu kini pucat tak berdarah, aku merasa ngeri saat memikirkan Saras pergi meninggalkan ku disaat hubungan kami baru saja dimulai. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang bakal Ku hadapi di masa depan tanpa dirinya berada disisiku.


Kudekati tubuh yang sedang berbaring itu dengan meraih jemari tangannya dan ku kecupi secara berulang, lalu meletakkan telapak tangan kecilnya itu untuk menyentuh pipiku. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi kalau Cokro sedang berada di dekat kami dan aku akan membiarkan sahabatku itu tahu sendiri dengan apa yang kulakukan sekarang, paling tidak dia akan mengerti bahwa sebenarnya aku begitu mencintai wanita yang sekarang terbaring lemah, menunggu keajaiban dari sang pencipta alam ini untuk membuatnya bangun kembali.


“Bangunlah Saras … aku tak ingin kita begini, maafkan aku yang tak bisa menjagamu!”

__ADS_1


__ADS_2