Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 15. Dirampok


__ADS_3

POV Saras


Makan malam berjalan dengan lancar, walau perasaanku gelisah, entah apa yang membuatku gelisah. Wajah Pak Cokro yang berusaha menerima apa yang menjadi keputusanku bisa aku pahami. Tapi kali ini perasaanku berbeda, entah kenapa aku begitu sangat gelisah. Melihat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, sudah pantas kok aku berpamitan. 


“Maaf Pak, ini sudah jam delapan, saya mohon undur diri dulu, mau balik ke kantor lagi. Harap maklum karena masih ada yang harus saya kerjakan,” pamit ku sopan dan tanpa mengurangi rasa hormat dengan sedikit menundukkan kepala. 


Aku memang tidak berdusta karena ada beberapa file yang wajib diperiksa sebelum besok dieksekusi di lapangan karena memang tugasku tidak bisa diabaikan begitu saja seperti karyawan yang lain sifat mereka hanya bekerja sesuai perintah atasan divisinya masing-masing, sementara aku harus bertanggung jawab terhadap semua divisi yang dibawahi.


“Oh, oke kalau gitu ayo saya antar,” jawab Cokro yang tidak bisa menahan untuk bisa lebih lama lagi berduaan dengan ku. 

__ADS_1


Aku bukan lah wanita yang teramat polos hingga tidak bisa mengerti dengan isyarat dari bahasa tubuh yang disampaikan oleh Pak Cokro, sangat paham dengan apa yang dia inginkan, tapi aku juga tidak bisa mengikuti apa yang dia inginkan. Ada perasaan seseorang yang harus ku jaga dengan baik karena memang diriku sendiri telah menerima komitmen atas apa yang dia pinta, bahkan aku menyanggupi komitmen yang pernah ditawarkannya padaku. 


“Tidak usah Pak, nanti saya merepotkan anda, kantor saya kan tinggal nyebrang aja. Saya sudah biasa sendiri kok pak, jadi nggak usah khawatir begitu!” jawabku dengan badan yang sudah berdiri dan siap meninggalkan restoran mewah itu. 


Sebelum keluar dari restoran aku menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Ravi, bahwa aku sekarang bersiap untuk balik ke kantor dan meminta maaf karena tadi tidak sempat mengirim kabar kepadanya. Aku hanya menulis kata maaf karena tadi tidak ada niatan untuk melakukan sesuatu yang membuatnya curiga di belakang Ravi, Aku menuliskan juga jika baru saja selesai makan malam dengan temannya sebagai bentuk perayaan kasus gugatan cerai yang telah selesai ditangani nya dengan lebih cepat dari perkiraan ku. 


Sementara itu, di restoran tempat aku baru saja melakukan makan malam, sangat terlihat jika Bapak Cokro dengan berat hati melepaskan ku, itu semua tampak jelas di wajahnya. Kami berjalan beriringan dan berbincang ringan tentang pekerjaan Cokro. Cokro masih mengawasi ku yang menyeberang jalan, kendaraan sedikit padat dan membuat ku menyeberang dengan hati-hati. Sesampai nya di jalan yang mengarah ke kantorku, aku merasa ada orang yang mengikuti langkah kaki ini. 


Aku coba untuk menoleh ke belakang, dan benar saja ada tiga orang yang berada di belakang, walau jalanan ramai tapi tidak dengan kantorku yang sudah terlihat sepi. 

__ADS_1


Beberapa bagian jalan tidak mendapatkan cahaya lampu dengan baik karena tertutup oleh rimbunnya pohon hias yang memperindah taman gedung perkantoran tempat ku bekerja. 


Sreeett!!!


“Lepaskan! Tolooong!” teriak ku ketika seseorang yang bertubuh gempal berusaha menarik tas yang menyilang di tubuhku, hingga tubuh ini terseret. Beruntung aku belum sempat mencium aspal.


Namun, ternyata kegelisahan yang tadi sempat kurasakan membuatku kembali teringat akan rasa gundah tak jelas, Mungkinkah kegelisahan yang tadi sempat kurasakan merupakan firasat buruk yang bakal terjadi padaku saat ini? Sepertinya ada bahaya yang sedang menungguku Dan aku sangat yakin mereka telah mengintai  keberadaan ku sejak keluar dari kantor menuju restoran seberang hingga orang-orang itu pasti sudah hafal kalau aku bakalan balik ke kantor yang sama. 


“Serahkan tas dan juga semua perhiasanmu! Sekarang!!” 

__ADS_1


__ADS_2