Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 38. Gelar Dewa Judi


__ADS_3

Jangan lupa beri dukungan novel ini dengan like, komen dan vote ya. Happy reading dan terima kasih.


Suasana ruangan dengan dekorasi yang didominasi warna merah maroon, hitam dan emas itu, membuat pikiran manusia yang ada di dalamnya menjadi lebih tegang. Golu sudah berada di hadapannya, ini pertemuan pertama buat mereka, jadi Ravi tidak ingin membuat kesan buruk di mata penantangnya. Dirinya lebih memilih untuk menemui penantang judinya terlebih dahulu dan menyingkirkan rasa cemburu yang sempat menggebu.


"Apa yang akan kau pertaruhkan?" tanya Golu dengan suara berat karena tertekan lipatan lemak di lehernya.


Perhiasan kalung emas sebesar rantai kapal pun menjadikan pria itu semakin berkilau. Cincin besar, gelang besar, semua serba besar dan terlihat kilauan emas murni membuat pria tambun itu ;ebih terlihat bagai toko yang sedang berjalan.


"Untuk pemanasan, aku meletakkan emas murni batangan berukiran penari wanita seberat lima belas kilogram. Apa yang ingin kau letakkan dengan angka senilai ini?" jawab Ravi dengan menantang sang lawan, tentu saja tatapan menghunus sengaja diarahkan, bahkan wajah tampannya yang selalu ceria kali ini berubah dingin dan berwibawa.


Petugas bagian perhitungan nilai sudah sibuk menghitung berapa nilai emas dan memeriksa emas yang dibawa Ravi yang sekarang sudah terhampar di meja judi.


Para penikmat judi dan mereka yang ikut bertaruh atas aduan kedua dewa judi beda negeri itu pun mulai riuh meramaikan ruangan yang dingin. Aroma nikotin juga menguar begitu kental di dalam ruangan, ditambah lagi beberapa wanita seksi seolah mempermanis jalan nya pertandingan judi tingkat tinggi kali ini.


Golu menjentikkan jarinya, memanggil sang asisten dan membisikkan sesuatu. Mengangguk tanda mengerti sang asisten pun berlalu, tidak lama pria bertubuh ramping itu kembali dengan membawa satu koper dan langsung saja membukanya.


"Diamond The Oppenheimer Blue terjual dengan harga USD 57,5 juta atau sekitar Rp 852,8 miliar pada tahun 2016 lalu. Dan beberapa berlian lain dengan jenis yang berbeda, sudah tentu harga nya bisa kau tebak sendiri, hemm," jawab Golu datar, sepertinya pria besar dengan perhiasan serba besar ini tidak memiliki ekspresi selain datar.


"Hitung!" Perintah Ravi kepada para petugas.


Sebelum pertarungan dimulai, para penghitung dan pemeriksa aset yang dipertaruhkan di atas meja judi mulai sibuk dengan tugas mereka. Sementara para petarung di hidangkan wine dan cemilan dengan harga fantastis. Tidak lupa wanita-wanita cantik dengan pakaian sangat menggoda iman para lelaki yang memang sudah tak beriman, berseliweran menawarkan kehangatan di ruangan yang dingin dengan memperlihatkan lekuk tubuh dengan pakaian kekurangan bahan.

__ADS_1


Bagi Ravi, wanita yang mampu menggoda hatinya hanyalah Saraswati, tetapi godaan Saras akan mudah tergeser dengan selembar undangan untuk berjudi. Entah manusia jenis apa Ravi ini. Cukup unik, biasanya para penjudi tidak akan jauh dari wanita, tapi tidak berlaku bagi Ravi, dia cukup datang dengan para antek-antek setianya dari dunia bawah tanah yang kesemuanya laki-laki sejati untuk mendatangi neraka dunia berhawa dingin.


Ternyata emas batangan Ravi masih melebihi nilai dari berlian yang di bawa oleh Golu, dan atas sepengetahuan pria tampan itu, emas-emas yang lebih pun dikembalikan dan dimasukkan ke dalam kotaknya.


"Permainan akan dimulai, kalian sudah tau aturan mainnya, jadi tolong lepaskan semua perhiasan, jas, kacamata dan hanya boleh menggunakan kemeja dan juga celana."


Wasit yang bertugas sudah memberikan aba-aba dan membacakan peraturan. Penonton mulai tegang, banyak yang bertaruh dan masing-masing orang memegang jagoannya.


Kartu baru mulai di buka bungkus segel nya, di perlihatkan lalu kepada seluruh para penonton. Kartu mulai di kocok dan dengan lihainya pria botak dengan mata sipit itu membagikan kepada Ravi dan Golu.


Semua penonton seakan menahan nafas, Ravi menunjukkan ketenangannya dalam menghadapi Golu, Golu melihat kartunya, matanya nanar melihat apa yang menjadi bagiannya.


Ravi tidak sedikit pun berekspresi, dia sangat lihai menyembunyikan kepanikan atau kesedihannya saat menghadapi musuh. Ah sial, kenapa juga wajah Saras melintas sesaat di dalam kepalanya? Ini semua gara-gara mendengar ada suara seorang pria bersama kekasihnya beberapa saat yang lalu tapi Ravi berusaha kembali fokus ke atas meja judi.


Beberapa menit berlalu dan dengan senyum jin ifrit, Ravi membanting kartunya ke meja judi, disusul oleh Golu. Dan si botak yang bertugas mengawasi permainan pun berdiri, suasana yang tadi hening kini riuh ramai seperti pedagang di dalam pasar.


"And the winner is … Mr. Raviiiii!"


Teriakan si botak membuat sebagian orang berteriak bahagia karena taruhannya menang, dan sebagian orang lagi mengumpat, memaki karena jagoannya kalah telak di putaran pertama.


"Aku mengakuimu sebagai dewa judi, Bro," ucap Golu datar, sungguh tidak ada ekspresi apa pun yang tampak di wajahnya, pengakuannya kepada Ravi itu merupakan sikap kesatria yang layak diacungi jempol oleh Ravi.

__ADS_1


Ravi menatap sang lawan dengan menaikkan sebelah alisnya. Sungguh sebenarnya di dalam hati tapi mati saja kepikiran terhadap Saraswati tapi ternyata karena dirinya memang handal dan pantas disebut sebagai dewa judi Abadi, dia pun kembali menang!


"Kau juga hebat, aku salut padamu. Permainanmu tidak buruk, aku senang sudah menerima tantangan darimu, Brother." Ravi menjawab dengan ulasan senyum. Mereka bersalaman, dan Golu meminta anak buahnya untuk keluar dari neraka dunia itu.


Sungguh pria yang irit bicara, tapi Ravi sangat menyukainya, biasanya penantang yang berani mengundangnya akan marah-marah bahkan membuat keributan saat kalah dalam satu kali putaran, tapi tidak dengan Golu, oleh karena itu Ravi tidak segan untuk memberikan pelukan kepada pria tambun berkulit gelap itu.


Ping!


Notifikasi ponsel Ravi berbunyi, sementara ponsel miliknya masih berada di keranjang petugas yang menjaga barang-barang mereka.


Ravi sudah di perbolehkan mengambil ponselnya oleh petugas, pria itu pun bergegas mengenakan jas slim fit hitamnya dan langsung membuka ponsel miliknya.


(By, kamu di mana sih? Kenapa pesan-pesanku tidak dibalas? Dan kenapa juga tadi main putus telepon sepihak begitu saja?) Pesan dari Saras yang langsung dibalas oleh Ravi dengan menelponnya, dia tidak ingin kesayangannya khawatir walau rasa cemburu masih bergelayut di dalam pikirannya.


“Halo … aku minta maaf ya, Sayang … tadi itu sebenarnya aku mau meeting tapi karena teringat dirimu makanya langsung menelpon. Hanya saja, kau malah ke luar tak bilang-bilang padaku. Kan aku sudah katakan kalau sekarang sedang berada di luar kota, besok pagi aku akan menjemputmu, ada kejutan spesial untukmu," balas Ravi dengan senyum riang nya.


Salah satu berlian hasil kemenangannya akan dia berikan kepada wanita yang sudah menguasai hatinya, Ravi sudah membayangkan, janda killer itu pasti akan senang.


[Ya sudah kalau begitu. Aku tunggu besok pagi ya, By] jawab Saras singkat tanpa embel-embel kata merayu untuk pria yang kini mulai membuatnya meragu karena tingkah Ravi akhir-akhir ini yang membuatnya bingung.


“Ok, Dear. I love you ….”

__ADS_1


‘Maafkan aku telah membohongimu, Saras … tapi aku sungguh belum sanggup kehilangan gelar dewa judi yang susah payah ku raih dulu! AKu janji suatu saat akan berhenti tapi untuk sekarang aku belum kuat,’ sesal pria itu dengan menghembuskan napas sembari menengadah. Salah kan dia merasa sayang dengan gelarnya? Entahlah, yang jelas dia tak mau kehilangan gelar dan juga cintanya.


__ADS_2