Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 39. Mendatangi Kontrakan


__ADS_3

Pagi ini suasana benar-benar terasa sangat berbeda, ditambah lagi cuaca yang begitu cerah memperlihatkan sang mentari yang sedang tersenyum duduk dengan begitu kuasanya di atas tahta yang memang hanya miliknya sendiri. Sama persis dengan hati seorang Ravi yang sedang terasa berbunga-bunga, riang gembira seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan juara satu ketika menerima rapor di kelasnya.


Bagaimana mungkin pria dingin yang terlihat sangat berkharisma itu merasa dunia saat ini sedang berada dalam genggamannya dan juga sedang merestui apapun yang dikerjakannya. Lihatlah, baru semalam dirinya memenangkan begitu banyak harta kekayaan hingga menambah pundi-pundi harta benda yang selama ini tertumpuk begitu rapi, miliknya seorang diri. Dia sudah memegang satu kotak yang berisi berlian berkilauan untuk sang kekasih, membayangkan wajah Saraswati yang sedang tersenyum menunggunya karena memang mereka sudah janjian pagi ini.


Ravi tidak peduli, semua orang akan mengetahuinya seperti laki-laki tak tahu diri yang datang pagi buta ke kontrakan kekasihnya. Bukankah itu akan terlihat sangat manis karena dirinya memberikan surprise terbaik untuk Saraswati sang Pujaan Hati.


Sementara itu Saraswati yang sedang sibuk memasak untuk sarapan dirinya dan sang kekasih hati, sebenarnya Saras beberapa hari sedang tidak enak hati, entah kenapa wanita itu sering merasa ada hal besar yang akan dia hadapi, tapi sejauh ini belum ada peristiwa besar yang melengkapi firasatnya. Entahlah, mungkin itu hanya kegalauannya saja.


“Aaaww! ssshhh, ya Allah kok bisa sih ni pisau meleset, padahal sudah di kira-kira tadi jaraknya.”


Wanita cantik itu terkena pisau yang berhasil mengiris jari telunjuknya dan hal itu membuat acara masak-masaknya sedikit terhambat. Tidak lupa dia mematikan kompor yang sedang menggoreng tempe, dengan cepat dia mengambil kotak obat dan mengoleskan obat merah pada lukanya yang masih saja mengeluarkan darah.


Setelah beres mengobati lukanya, janda cantik itu kembali meneruskan aktivitas masak untuk sarapan mereka nanti. Dengan lincah tangannya membuat beberapa menu masakan, walau sederhana tapi setidaknya Saraswati merupakan wanita yang memiliki beberapa talenta.


Selain wanita karir tapi dia juga wanita yang pandai mengurus rumah dan mengurus perut. Siapa yang bisa menolak pesona wanita seperti itu.


“Yess, beres semua, sekarang saatnya mandi dan bersiap-siap, nggak perlu lama mandinya yang penting wangi sabun, hihihi,” monolog Saras yang langsung mengambil handuk berwarna ungu di gantungan dan menenggelamkan dirinya di ruang kecil dimana dirinya biasa membersihkan diri.

__ADS_1


Di jalan Ravi masih sibuk mengendalikan mobilnya dengan laju yang tidak terlalu cepat, karena jalanan juga macet, walau hari minggu, tetap saja jalanan di kota besar ini tidak pernah sepi. Ada saja agenda penduduk nya untuk menikmati waktu bersantai, atau bersantai sambil bekerja.


“Aku yakin, Saras akan semakin cinta padaku setelah kuberikan satu set perhiasan berlian ini untuknya!”


Dengan merasa bangga, lelaki itu mengambil kotak beludru berwarna biru dan melekatkan hidungnya di sana, seolah-olah hidungnya saat ini sedang bersentuhan dengan hidungnya Saraswati, lalu hidungnya akan turun sedikit dan bisa melekat pada si ranum merah muda yang belum pernah dicicipinya sama sekali.


‘Astaga, apa yang sedang kupikirkan sekarang? Bisa-bisanya pikiran messum itu malah masuk ke dalam otakku!’ rutuknya menggelengkan kepala.


Namun, senyumnya malah terulas begitu indah ketika membayangkan, jika hal itu memang benar-benar terjadi dan dia akan merasa sangat bahagia jika setelah janda itu bisa merasakan bibir lembutnya menempel pada bibir Saraswati, dia yakin janda itu akan merasa ketagihan, atau jangan-jangan dialah nanti yang bakal jadi kecanduan.


Seperti itulah Ravi yang merasa menang banyak dengan ide barunya. Tanpa terasa, mobil mewah itu memasuki halaman rumah kontrakan Saras, Pria itu mengusap dadanya dan sedikit senam muka agar nanti lancar saat meminta wanitanya itu untuk menjadi istrinya.


“Saras, menikahlah denganku, sekarang atau tidak sama sekali,” ucapnya dengan sedikit kaku dan menoleh ke arah kiri, seolah dia sedang bicara dengan Saraswati yang duduk di sebelahnya.


Latihan yang sangat konyol, bahkan saat dia menyadari kalimat yang meluncur tadi, pria tampan itu tertawa sendiri. Apakah Ravi masih waras? Tentu saja jawabannya sedikit kurang dari kewarasan manusia normal, walau tak banyak.


“Aaahh bodohnya aku, itu kalimat seperti orang nantangin berantem, hahaha,” tawanya berderai, pria itu sedang menertawai dirinya sendiri, dan dia masih berusaha untuk berlatih kembali. Setelah merasa bisa mengeluarkan kalimat yang romantis, barulah dia berniat untuk turun dari kuda besi miliknya.

__ADS_1


Lelaki dengan wajah tampan itu bergegas turun dari mobil dan melangkah dengan pasti menuju pintu rumah sederhana kontrakan milik kekasihnya. Jantungnya selalu berdebar tak karuan setiap sudah berdiri di depan pintu sang kekasih. Walaupun ini sudah sering terjadi tapi rasa gugup ini sangat berbeda, padahal ke kontrakan Saras terkadang menjadi rutinitas setiap harinya sebelum mereka sama-sama berangkat ke perusahaan, walau Saras selalu minta diturunkan sebelum mobil Ravi berhenti di pelataran parkir Perusahaan.


Terkadang Ravi masih saja merasa kesal, karena hingga saat ini seolah-olah mereka merupakan pasangan remaja yang sedang menjalin percintaan backstreet. Entah siapa yang mereka khawatirkan hingga Saras belum mau mempublikasikan hubungan spesial yang terjadi di antara keduanya, tapi Ravi tetap berusaha untuk menjaga prinsip yang dipegang teguh sang kekasih.


Tok! Tok! Tok!


Lelaki itu mulai mengetuk pintu meletakkan tangan kiri di belakang tubuhnya yang sedang memegang setangkai bunga mawar merah, beserta satu kotak perhiasan untuk dipersembahkan sebagai oleh-oleh darinya buat sang kekasih tercinta.


“Sebentar!”


Terdengar suara lembut dari dalam rumah, tentu saja itu milik Saraswati — perempuan yang sejak semalam membuat Ravi susah untuk tidur gara-gara mendengar suara seorang pria yang membuatnya merasa cemburu dan penasaran.


‘Sebenarnya siapa sih pria yang memanggil Saras ketika aku menelponnya kemarin? Saraswati nggak mungkin selingkuh dari aku, kan? Astaga, kenapa aku merasa semakin takut kehilangannya tapi aku juga tak mau gelar dewa judi raib begitu saja. Ya Tuhan … mudah-mudahan saja Saras takkan pernah tahu tentang kehidupan diriku yang lain di luar sana, aamiin.’


Lelaki itu mengusapkan telapak tangan kanan ke wajahnya setelah berdo’a di dalam hati.


Dasar Ravi yang begitu konyol, mana ada doa terhadap sebuah kemaksiatan bisa terkabulkan. Apalagi judi jelas-jelas terlarang dan juga memiliki hukum haram di dalam agamanya sendiri, seperti yang ada di dalam surat al-maidah ayat 90 yang berbunyi : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.

__ADS_1


__ADS_2