Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 49. Makan Tengah Malam


__ADS_3

"Sebuah lambang yang disembunyikan itu biasanya merupakan organisasi rahasia, atau kelompok terlarang. Logikanya gitu, kan?" sahut Surya balik bertanya setelah pria itu mengutarakan pendapatnya.


"Iya bener juga ya, apa kamu tau kelompok-kelompok atau organisasi rahasia seperti itu, Surya?" tanya Saras semakin merasa penasaran, setelah dia setuju dengan pendapat Surya mengenai sebuah lambang.


"Sepengetahuanku, organisasi yang mau menggunakan logo tertentu sebagai bentuk persatuan dan identitas mereka hanyalah kelompok-kelompok ilegal seperti gangster narkoba, kelompok mafia, para pelaku perdagangan manusia dan ada juga perjudian kelas dunia. Hmm itu sih yang aku tau, emangnya ada apa, sih?" tanya Surya yang masih terus fokus pada jalanan.


Saras menautkan jari jemarinya satu sama lain, wanita itu terlihat sangat gelisah, pikirannya langsung tertuju pada pria yang sudah menjadi raja di salah satu sudut hati terdalamnya. ‘Berada di kelompok mana laki-laki yang selama ini aku kenal sangat baik penuh cinta dan perhatian itu, ya? Ravi sekali pun tak pernah memperlihatkan kejanggalan sifat selain suka menghilang akhir-akhir ini, terlebih setelah pertengkaran pagi hari waktu itu.’


Saras semakin merasa bingung tapi dirinya tak mungkin bercerita pada Surya tentang apa yang sedang dipikirkannya.


"Sebenarnya, aku sedang disuruh menyelidiki seseorang yang juga bekerja di perusahaan Jamoe Jitoe, dan kamu tau sendiri kan kalau aku itu buta dalam hal-hal seperti ini, tapi aku juga ada teman yang bakal membantu. Menurutmu apakah orang-orang seperti itu bisa hidup normal seperti kita?" tanya Saras polos, wajah wanita itu menunjukkan raut gelisah yang mampu dibaca oleh Surya.


Tentu saja Surya masih hapal cara pikir wanita yang dulu menjadi di dalam hidup dan hatinya, walau sekarang Saras sudah menjadi seorang wanita dewasa penuh dengan aura yang lebih kuat dari sebelum mereka berpisah.


"Mereka banyak yang memiliki sikap biasa saja bahkan menjalani hidup normal seperti kita, tapi ketika mereka sudah berada di circle nya, maka semua yang ada pada diri mereka akan berubah total. Rasa kemanusiaan, kasih sayang, cinta atau ketulusan itu bisa langsung saja menghilang. Yang ada hanya keinginan akan sebuah kekuasaan, keserakahan dan menjadi terbaik di antara pesaingnya. Jika kita orang biasa selalu bingung besok makan apa, tapi bagi mereka selalu bernafsu untuk besok makan siapa."

__ADS_1


Surya menjelaskan dengan panjang lebar agar wanita yang duduk di sampingnya bisa memahami dan juga mengerti dengan apa yang disampaikannya. Tentu saja mendengar penjelasan Surya membuat Saras langsung bergidik ngeri.


‘Ya Allah semoga Ravi bukan orang yang seperti itu!’ do’a Saras di dalam hati.


"Astaghfirullah, apakah manusia bisa lebih kejam dari binatang ya, Surya?" tanya Saras lagi, sungguh wanita itu tidak memiliki pengetahuan sedikit pun, apalagi wawasan tentang dunia kaum bawah tanah seperti itu.


Pertanyaan Saras membuat Surya tersenyum, pria itu benar-benar sabar saat memberikan pencerahan kepada wanita yang tidak disangka olehnya begitu polos dan lugu. Padahal dulu sewaktu mereka sekolah, Saras merupakan pelajar yang sangat kritis.


"Saras, binatang hanya punya nafsu tidak diberi akal, jadi buas nya binatang karena adanya nafsu amarah dan nafsu birahi. Itu yang membuat mereka menjadi buas, sementara manusia dianugerahi akal, lewat akal dunia ini menjadi memiliki peradaban. Nafsu ingin berkuasa, menumpuk harta dan terakhirnya para wanita lah yang menjadi pelengkap untuk mendapatkan gelar raja diraja. Itu menurut pendapatku ya," jawab Surya dengan menoleh sesaat, dan penjelasan itu mampu membuat Saras tersadar kalau siapa pun bisa saja menjadi manusia kejam melebihi sifat binatang.


"Seseorang yang memegang peranan penting di perusahaan tempatku bekerja Surya, maaf aku belum bisa menyebutkan namanya, karena takut nanti menjadi fitnah, sebab semua ini belum terbukti fakta sebenarnya. Aku harap kamu bisa mengerti dan mau membantuku memecahkan teka tekinya," jawab Saras yang di balas anggukan kepala Surya. Pria itu masih menatap lurus ke depan, sesekali tatapan mereka bertemu dan saling melempar senyum.


"Oh ya, Saras apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan malam dulu, aku tadi lupa dan melewatkan makan malam karena terlalu banyak pekerjaan," ajak Surya yang memang merasa lapar di jam tengah malam begini, sesungguhnya Saras pun merasakan hal yang sama.


Wanita itu terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan pria yang selalu memberikan keteduhan saat dipandang dan memberikan kesejukan saat memberikan solusi suatu masalah. Sungguh Surya tipe lelaki yang banyak didambakan wanita tapi Saras bukan lagi orang yang tepat untuknya. Dirinya hanya seorang janda.

__ADS_1


"Ya lapar sih, kalau gitu ayo kita mampir makan dulu," jawab Saras dengan senyum yang terkembang.


Mereka memilih tempat makan secara random, karena waktu sudah larut malam, jadi tidak banyak pilihan makanan yang bisa mereka singgahi. Setelah sampai di tempat tujuan, Surya dengan cepat berlari setengah lingkaran untuk membukakan pintu mobil.


“Silakan turun, Cantik!” ucap Saras seiring tangannya mempersilakan wanita itu turun dari mobil seperti seorang pelayan. Hal itu sontak saja membuat sudut bibir Saras tak bisa untuk tertutup rapat dengan menampakkan gigi putihnya.


“Kamu ini, ada-ada aja, emangnya aku seorang nona besar, apa? Kamu memperlakukan aku berlebihan sekali, Surya ….” Saras turun dari mobil dengan dibantu telapak tangan besar milik Surya yang menggenggamnya agar tak jatuh. Sungguh perlakuan manis yang diterimanya malam ini membuat sisi masa lalu kembali hadir menyapanya.


Mereka berdua memasuki sebuah Cafe yang masih buka dengan menu makanan saji Seafood, membuat selera Saras menggelegak tak sabar ingin segera mencicipinya. Namun baru saja keduanya duduk dan membaca menu yang bakal dipesan, tiba-tiba saja seorang pria jangkung datang menghampiri mereka.


“Loh … Bu Saras kok masih ada di luar larut malam begini?” tanya pria itu sembari melangkah semakin dekat ke meja tempat Saras duduk bersama Surya.


Tatapan pria itu jelas mempertanyakan kehadiran lelaki yang sedang membersamai Saras, terutama pria itu sudah mengetahui jika seorang Saraswati merupakan wanita terdekat dari Tuan Ravi – ahli waris tunggal dari perusahaan yang dimiliki Tuan Nugroho.


‘Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan ini dengan pria lain sementara dirinya masih terikat hubungan cinta dengan tuan muda Ravi? Apa jangan-jangan wanita ini sebenarnya hanya berpura-pura baik saja selama ini tetapi nyatanya Dia tebar pesona pada setiap pria lain, ketika tuan Ravi tak ada di dekatnya, benar-benar wanita yang sangat liar!’

__ADS_1


__ADS_2