
Ravi menatapnya dengan dingin, wanita itu sontak mengangkat kepala dan sungguh membuat jantungnya seakan berhenti setelah menyadari kalau dirinya sudah salah menyebut nama.
‘Oh my God … ada apa dengan bibir ini yang tanpa sadar menyebut nama Surya? Ya Tuhan … tolong aku.’
"Ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya Ravi dingin, niat hati ingin melamar pagi ini sirna sudah.
Hati pria tampan itu terbakar api cemburu. Siapa yang tidak akan merasa sakit hati ketika didatangi pagi buta demi cinta tapi ternyata kekasihnya malah menyebut nama pria lain. Ingin sekali rasanya Ravii berteriak histeris agar Saras cepat mengaku dan mengatakan siapa sebenarnya Surya yang dimaksud.
"Ya, apa kamu siap mendengarnya?" jawab Saras tak kalah dingin, dia bukan tipe wanita yang mudah diintimidasi, wanita itu tidak kalah dingin menjawab pertanyaan Ravi.
Dia sebenarnya tak ada niat sama sekali untuk menyembunyikan tentang siapa Surya selama ini tetapi Saras merasa hal itu tidak perlu diungkitnya lagi karena memang Surya selama ini tak pernah lagi menampakkan diri hingga Saras menikah dengan Raju. Mana dia pernah tahu kalau ternyata tiba-tiba saja orang yang mereka temui saat itu ternyata adalah laki-laki yang dulu hadir dari masa lalunya.
"Katakan sekarang!" sahut Ravi tidak sabaran dengan tatapan tajam.
Entah kesurupan setan dari arah mana, pemuda yang tadi bermulut manis itu kini berubah ketus. Tubuhnya benar-benar sedang merasa terbakar hanya karena mendengar satu nama pria.
__ADS_1
"Surya adalah pria masa laluku, dia ada sebelum Raju bersamku, kami memiliki ikatan cinta yang tak terucap namun terikat pada sebuah janji. Aku tidak menyangka dia akan hadir kembali setelah menghilang mengejar mimpinya, dan aku pun tenggelam dalam perjuangan karir dan rumah tanggaku. By, jika kamu keberatan dengan perjalanan hidupku, kamu boleh mengambil langkah pergi, sebelum semuanya terlanjur dalam kita memiliki rasa ini." Saras menjelaskan dengan panjang lebar dan tidak sedikit pun ada keinginan untuk menahan Ravi agar tetap berada di sisinya.
Perempuan itu tidak ingin menjadi wanita yang egois apalagi dengan statusnya yang hanya sebagai seorang janda yang tentu saja tidak mudah bagi Ravi untuk menerima status itu, apabila hatinya sendiri tidak tulus menerima dengan lapang da-da.
Ravi mendengarkan semuanya dengan jantung yang berdentum keras, ingin sekali rasanya pria itu marah tapi dirinya pun bingung harus marah pada siapa? Karena semua ini terjadi bukanlah karena Saras yang sengaja menyakitinya. Takdir sedang mengajaknya bercanda, itulah yang Ravi pikirkan. Itu semua karena iman nya yang tipis dan tentu saja membuat Ravi banyak mengumpat Tuhan yang menurutnya sedang tidak adil kepadanya.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya dariku?"
Dari sekian tanya yang berkelebat dalam pikirannya, itulah pertanyaan yang bisa meluncur lewat bibirnya yang seksi. Saras benar-benar tak habis pikir dengan isi kepala lelaki yang masih berstatus kekasihnya itu.
"Aahh, aku sendiri tidak menginginkan apa-apa darimu, By, Surya hanya mengingatkan ku pada ikrar janji yang pernah kami ucapkan sebelum sama-sama tamat sekolah dulu. Apa menurutmu aku harus mengingkari janji itu?" tanya Saras setelah menjawab pertanyaan yang Ravi lontarkan dengan paksa.
"Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu, dan sejauh mana pembicaraanmu dengan Surya. Apakah kau mencintainya?" Ravi galau, tidak satu pun ide cemerlang yang mampu diproduksi oleh sang otak. Pria itu muram, hanya satu harapannya, Saras akan memilihnya dan pergi meninggalkan Surya.
"Aku hanya akan mencintai suamiku, terhadapmu pun aku baru memiliki rasa sayang, cinta itu sesuatu yang harus diikat dengan akad, sementara sayang itu lebih bersifat universal. Itu definisi cinta dalam versi ku sendiri, apa kamu bisa menerimanya, By?" tanya Saras setelah panjang lebar dia menjelaskan pertanyaan Ravi tentang cinta.
__ADS_1
Saras sesaat memejamkan matanya, merasa laki-laki yang sekarang mengajaknya bicara bukanlah Ravi yang dulu mati-matian mengejarnya untuk mendapatkan cintanya, bahkan pria itu rela merendahkan diri di hadapan para fansnya hanya untuk mendapatkan atensinya. Namun, lihatlah sekarang, pria itu benar-benar sangat berbeda bahkan terkadang Saras seperti tidak mengenalnya lagi.
"Saras, apa aku salah selama ini menilaimu? Lalu kamu anggap apa hubungan kita selama ini?!" Ravi mulai tidak bisa menahan marahnya, pria itu merasakan sesak di da-da mendengarkan penjelasan Saras yang menurutnya sudah mempermainkan dirinya.
"By, kenapa kamu marah? Apa yang salah dari ucapanku? Bukankah tadi kamu sendiri yang menginginkan penjelasan dariku? Aku hanya berkata jujur tentang masa lalu yang selama ini memang tak pernah kau tanyakan padaku. Dan aku juga menganggap itu belum saatnya untuk dibicarakan karena memang selama ini Surya seperti dengan sengaja menghilang dari hidupku. Surya bahkan belum mengetahui jika statusku sekarang sebenarnya adalah seorang janda." Tanya Saras menggebu. Wanita itu paling tidak suka di bentak, atau di curigai, dia sudah mengatakan apapun itu sejujurnya. Jadi menurutnya tidak patut Ravi membentaknya seperti itu, jangan lupa, Saraswati wanita yang tidak memiliki toleransi banyak.
Ravi berdecak lidah menatap tajam wanitanya, lalu mencengkram kuat kedua tangan Saras yang terlihat kaget dengan aksinya, dirinya paling tidak suka ada wanita yang tidak mau patuh padanya walaupun selama ini dia merupakan laki-laki bersih dari sentuhan perempuan. Namun, sekali perempuan itu sudah diincarnya maka jangan pernah bisa untuk lepas dari genggaman tangannya!
“Sakit, By …,” rintih Saras sambil melihat pergelangan tangannya yang dicengkram dengan kuat.
Saras tak pernah tau sisi kejam dari seorang Ravi selama ini, dirinya hanya ingin berkata jujur, tapi kenapa percakapan yang seharusnya manis di pagi hari ini harus berakhir dengan kesedihan penuh curiga dari kekasihnya.
“Aku mencintaimu dan kau masih bilang sakit? Aku jauh lebih sakit, Saras!! KAU HANYA BOLEH JADI MILIKKU!! MILIKKUU!!” bentaknya dengan suara tinggi selaras kedua bola mata yang menatap nyalang dengan mendorong tubuh kecil Saras hingga membentur dinding.
Sakit, itulah yang dirasakan Saras saat in, bukan sakit fisik tapi sakit yang ada di relung hati. Saras tak pernah lemah selama ini di depan siapa pun dan juga tak pernah dibentak oleh siapa pun, bahkan orang tuanya yang membesarkan saja selalu mengajarkan kesopanan.
__ADS_1
Lihatlah lelaki yang sudah jadi kekasihnya ini, belum menikah saja sudah berbuat kasar dan membentaknya! Saras tak ingin lemah.
"Tuan Muda RAVIRAM CHANDRA, keluar dari rumahku SE KA RANG!" teriak Saras menggema, tubuh Ravi membeku, Saras tidak pernah memanggil namanya secara lengkap, apa dia marah?