Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 16. Ditusuk


__ADS_3

“Serahkan tas dan juga semua perhiasanmu! Sekarang!!”


Mereka bertiga kembali mendekatiku, aku yang berusaha bangkit sedikit terhuyung, leherku terasa sedikit sakit terkena tali tas yang ditarik tadi,


“Tolooong!”


Aku kembali berteriak lagi menggunakan suara yang jauh lebih keras, dan anehnya lagi aku merasakan entah kenapa suara ini seakan tenggelam ditelan ramainya suara deru mobil, Atau jangan-jangan teriakan ku hanya menerima segera Di dalam tenggorokan ku seorang. Diri ini rasanya begitu sangat ketakutan apalagi mitraku memindai jika jarak posisi kusendiri dengan lobby gedung masih lumayan jauh, dan jalannya agak menanjak, hal itu membuat kaki ini terasa sulit untuk lari mencari pertolongan.


“Sikat dia, sebelum ada yang mendengar suaranya! Ayo buruan kita beraksi sekarang juga, itu merupakan bangsa yang sangat penting dan bawaannya pasti juga pada mahal-mahal!” teriak salah satu komplotan dari mereka yang seperti dugaanku pasti diri ini sudah menjadi incaran sewaktu aku keluar dari kantor tadi menuju restoran.

__ADS_1


Dengan lumayan cukup jelas aku bisa mendengar salah satu dari mereka berkata untuk mengambil apa yang mereka inginkan. Dengan tubuh yang bergetar karena merasa ketakutan, kupaksakan kaki ini agar bisa berlari lebih kencang tapi mereka berhasil menarik bajuku dan sejurus kemudian Aku merasakan ada sesuatu yang menancap tegas ke bagian perut ini.


Blesss!


Rasakan sakit tak terkira langsung menyapa bagaian yang baru saja dihantam oleh sebuah benda tajam yang berhasil menembus perut ramping ku persis setelah baru saja tadi terisi makanan. Untuk sesaat aku terdiam dan terpaku Kena tangan orang itu masih memegang benda tajam dengan ujung yang begitu runcing lalu tanpa rasa bersalah pria itu menariknya lagi.


Seet!


Hal itu mampu membuat orang-orang yang ada di dekiar menoleh ke arahku, aku masih bisa merasakan pisau itu di tarik paksa setelah tertancap dalam, dan dengan pandangan kabur aku melihat mereka lari dengan mengambil tas dan juga menarik paksa gelang emas yang ada di tanganku. Aku berusaha untuk tidak ambruk tapi sepertinya diri ni semakin lemah. Better aku juga masih bisa melihat begitu banyak orang yang berlari ke arahku, tapi aku tidak mengetahui siapa saja orang-orang itu yang telah berubah seperti bayangan semu dengan suara-suara yang sudah tak jelas di telinga ini.

__ADS_1


“Panggil ambulan, cepat!” perintah seorang lelaki yang hanya samar-samar bisa aku lihat.


Sebuah tangan kekar menangkap tubuhku yang hampir saja menyentuh tanah, sebelumnya bapak yang memerintahkan seseorang untuk memanggil ambulan itu yang menahan tubuhku, tapi nampaknya dia sendiri pun merasa sedikit kewalahan.


Di saat yang tepat tubuhku yang semakin lemah ini di selamatkan oleh seseorang bertangan kokoh nan sangat familiar dalam ingatan walau bibir ini sudah tak kuat untuk sekedar berucap terima kasih.


“Tolong bawa ke mobil saya saja, Pak, saya sangat mengenal wanita ini!” itulah kalimat terakhir yang bisa aku dengar dengan jelas sebelum aku tak mampu lagi untuk membuka mata walau hanya untuk melihat siapa orang yang sudah menolongku.


Mataku sudah benar-benar terasa sangat berat bagai ditindih batu yang sangat besar hingga membuatku tidak bisa sama sekali walau sekedar mengerjap sesaat, kesabaranku hampir saja hilang total, tapi aku berusaha sekuat tenaga dengan berdzikir di dalam hati agar tetap sadar.

__ADS_1


Tubuh ini terasa begitu ringan, entah kemana aku di bawa, suara yang bisa ku tangkap juga mulai samar, ku perkuat ingatanku kepada Allah. Tubuhku semakin dingin, sekarang kepalaku seperti ikut ditimpa batu, tapi aku masih bisa merasakan badan ini sudah berpindah ke sebuah tempat yang didorong, ya mungkin aku sudah sampai di rumah sakit.


Aku semakin tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, sepertinya kesabaranku semakin tipis, aku pasrah, aku siap menghadap kepada sang pencipta. Mungkin inilah cara Allah memanggilku untuk kembali pulang.


__ADS_2