
POV Author
“Hello, apa kabarmu, Saras? Eh maaf, Ibu Saraswati?" tanya Surya mengembalikan kesadaran Saras ke masa sekarang dan membuyarkan lamunan tentang masa lalunya.
Surya yang terlihat matang dan semakin tampan, sungguh sebuah pemandangan yang menyegarkan mata.
"Oh, sa-saya ba-baik Pak Surya," jawab Saras tergagap, hal ini membuat Ravi mengerutkan dahi nya menangkap sikap aneh dari tatapan mata Surya kepada wanitanya.
Tentu saja semua itu mampu membuat jantung seseorang yang berada di samping Saras merasakan kobaran api cemburu yang menyala. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini selalu profesional saat bekerja tiba-tiba saja menjadi gugup seketika hanya karena bertemu sosok lelaki tampan yang kadarnya masih jauh di bawah seorang Ravi.
‘Ada hubungan apa di antara mereka berdua? Kenapa Saras begitu gugup bertemu dengan pak Surya ini? Padahal orang ini kan lawan bisnis perusahaan kami.’ Ravi semakin bertanya-tanya saat menangkap mata Surya sering kali menatap wajah Sarasa dengan mencuri pandang nya.
__ADS_1
"Ekhem, maaf tuan Ravi dan ibu Saras, mari silahkan duduk," ucap Elisa ramah, mengajak orang yang mereka undang segera bersikap seharusnya karena memang kedatangan mereka ke tempat ini bertujuan melakukan pembicaraan tentang kerja sama, walau sebelumnya kedua perusahaan itu merupakan lawan bisnis.
Ravi dan Saras pun duduk sesuai permintaan Elisa. Mereka berdua duduk saling bersebelahan begitu juga dengan Elisa dan Surya. Pembicaraan di buka dengan langsung mengutarakan tujuan dan maksud dari pertemuan perdana mereka.
Kurang lebih hampir dua jam pertemuan bisnis itu berjalan, beberapa poin sudah di tangkap oleh Saras dan Ravi kalau ternyata mereka ingin melakukan kerjasama bisnis. Hal ini bukan tanpa alasan karena saat ini Surya menyadari posisinya sebagai pendatang di negeri orang yang tidak ingin menciptakan permusuhan bisnis. Prinsip Surya, jika bisa di bangun sebuah kerjasama yang saling menguntungkan … kenapa tidak.
Apa lagi dirinya melihat seseorang yang masih begitu kokoh di dalam hatinya ternyata bekerja di perusahaan milik tuan Nugroho, tentu saja itu merupakan nilai tambahan plus untuk dirinya pribadi.
Ravi merasa senang dengan konsep yang ditawarkan oleh Surya, dan hal serupa pun akan dilakukan di negara mereka, produk Jamu Jitoe akan mudah berkibar di negeri seberang.
Jansi Corp yang menaungi sekian banyak jenis usaha sudah sangat dikenal, bahkan di negeri ini pun nama perusahaan itu sangat disegani. Surya memimpin anak perusahaan yang bergerak di bidang minuman kesehatan dengan brand 'Happy Drink' itu memang lumayan diminati masyarakat luas.
Pertemuan mereka diakhiri dengan baik dan akan dilakukan pertemuan kedua di hari yang sama minggu depan. Saraswati meminta beberapa berkas proposal yang diajukan pihak Surya untuk dipelajarinya, begitu pun sebaliknya. Pihak Surya juga ingin mengetahui sepak terjang Jamoe Jitoe selama ini yang bersifat umum bukan rahasia perusahaan sekedar untuk pegangan membuatnya semakin yakin dalam melakukan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan.
__ADS_1
Saras juga sedikit menyinggung tentang profil pemimpin perusahaan yang ada di perusahaan Surya dan dia tak menyangka kalau ternyata Surya sendirilah yang menjadi CEOnya saat ini. Wanita itu tidak ingin melewatkan hal penting apapun itu tentang pria tampan yang pernah merajai hati nya.
"Saya berharap kerjasama ini bisa kita sepakati, dan saya sangat berharap Ibu Saraswati bersedia membantu kami, saya masih belajar untuk bisa menjadi orang sukses dan saya yakin guru yang paling tepat untuk mengajarkan saya hanya anda Bu Saras," ucap Surya sebelum mereka benar-benar berpisah keluar dari restoran mewah itu.
Mulut manis Surya mampu membuat Saras menjadi salah tingkah, bahkan kalimat dan tutur kata merendah itulah yang selalu menjadi ciri khas pria tampan ini. 'Kamu masih belum berubah juga Surya, selalu bisa bermulut manis dan merendah tanpa harus merendahkan dirimu sendiri. Entah apa kabarmu sekarang? Apa kamu sudah melupakan hari yang pernah kita lalui dulu? Semoga saja kamu sudah memiliki pasangan yang mampu membuatmu selalu bahagia,' guman Saras di dalam hati.
"Terimakasih pujiannya pak Surya, saya tidak punya kapasitas untuk mengajarkan Anda tentang bisnis, karena Anda sendiri merupakan master dalam hal ini," Jawab wanita itu berusaha untuk mengimbangi kalimat Surya yang merendah.
"Ekhem, saya rasa pertemuan hari ini cukup dulu, semoga minggu depan tidak ada halangan untuk kita bisa membahas lagi hal-hal terkait kerjasama ya, pak Surya … nona Elisa."
Ravi mengakhiri perang kata antara Saras dan Surya. Elisa menyambut hangat ucapan Ravi dengan senyuman terbaik untuk vokalis Band dadakan itu, bahkan sekretaris Surya itu sering kali kedapatan sama Saras sedang menatap lamat wajah kekasih nya. Bukankah itu sangat menyebalkan? Entah apa yang terjadi kepada mereka berempat, masing-masing menilai dan mengagumi satu sama lain tapi hati mereka melanglang buana entah kemana.
Wajah Ravi sebenarnya sudah terlihat bermuram durjja dan kelam, saat melihat pandangan berbeda dari tatapan seorang Surya dan dia sangat tidak suka untuk melihat semua itu di depan matanya. Dirinya seorang lelaki dewasa yang bisa membedakan mana tatapan hangat penuh cinta dan mana pandangan biasa.
__ADS_1
‘Aku nggak akan membiarkan siapa pun mengambil sesuatu yang sudah ku patenkan sebagai milikku! Lagian Saras gak peka amat kalau pacarnya ini lagi cemburu. Dasar Saras gak ngerti kode cembuku. Pokoknya sekali sudah jadi kekasihku maka selamanya Saras hanya akan menjadi milikku!’ ikrarnya di dalam hati.