Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 56. Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Tuan besar Nugroho tersenyum damai. Saras hanya bisa melongo mendengarkan semua yang diutarakan oleh sang tuan besar. Dunia Saras sekarang jungkir balik mendengarkan permintaannya, tubuhnya terasa gemetar dan matanya berembun. Gadis itu merasa semua yang diutarakan barusan bagai sebuah mimpi yang tak akan pernah bisa dimasukinya! Sejauh ini Saras mengetahui tahta turun temurun akan dijatuhkan pada garis keturunan yang masih berhubungan darah sama si pemilik, tapi pengusaha nomor satu di nusantara itu memiliki pemikiran yang di luar nalarnya.


“Tu-tuan, maafkan saya, tapi sepertinya saya terlalu takut untuk menerima amanah sebesar itu. Apakah saya akan mampu, Tuan?” tanya Saraswati bingung, hatinya sungguh tidak karuan karena ketakutan yang luar biasa menghinggapi perasaannya.


Di satu sisi wanita cantik itu sangat takjub dengan tuan besarnya yang mau berfikir untuk orang lain. Namun, di sisi lain dia sangat yakin kalau Ravi yang awalnya sebagai seorang kekasih akan berubah menjadi musuh terbesarnya, sebab sudah pasti lelaki tampan dengan wajah Arogan itu takkan pernah menerima keputusan kakeknya.


“Saras, kamu harus tau kalau hidup ini memiliki pilihan, Ravi sudah memilih jalannya sendiri untuk melakukan sesuatu yang di luar dunia keluarganya geluti. Tidak ada yang bisa menghentikan kecanduan Ravi terhadap judi kecuali dirinya sendiri! Saya akan terus berusaha menasehatinya tetapi saya tidak akan memaksanya untuk meninggalkan apa yang sudah dia bangun selama ini. Menjadi raja judi berskala internasional, kenyataan itu membuat saya akhirnya sadar, bahwa tidak ada yang bisa mengetahui apa isi hati dan pikiran orang lain, walaupun itu darah daging kita sendiri.” Tuan Nugroho mengela napasnya dengan lelah, menatap lagi wanita yang sedang bersamanya.


“Sementara untuk pertanyaanmu tadi, saya yakin kamu mampu menjawabnya sendiri, jadi mulai sekarang yakinkanlah dirimu untuk mengatakan bahwa kamu pasti bisa melakukan semua amanah yang saya berikan, karena saya sudah tak punya pilihan yang dipercaya lagi selain dirimu!” pungkasnya menyudahi semua yang akhir-akhir ini sering menjadi buah pikirannya.


Tuan Nugroho tersenyum penuh kehangatan, membuat Saras tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyanggah segala yang menjadikannya ragu. Satu hal yang ada di dalam pikiran Saras saat ini, memastikan kesejahteraan ribuan karyawan yang bernaung di perusahaan milik tuan Nugroho. Baik itu dari level atas sampai paling bawah, dan segenap keluarga yang harus mereka tanggung.


“Ba-baik lah, tuan besar, saya akan berusaha sekuat tenaga dan akan menjalankan amanah yang anda berikan sebaik-baiknya. Tolong ajari saya untuk bisa menjadi sekuat dan selapang anda tuan besar,” jawab Saras dengan menatap lekat kedua netra tuan besarnya.

__ADS_1


Wanita itu sudah siap untuk menjalankan apa yang tadi dititahkan, kembali dia mengingat ketika dirinya dibiayai pendidikannya hingga selesai dan tidak sedikitpun menghadapi kendala. Saras memang harus menjadi wanita yang sangat kuat demi kehidupan ribuan karyawan walau saat ini, dirinya harus merangkak setapak demi setapak mempelajari seluruh ilmu yang dimiliki Tuan Nugroho.


“Berusahalah dengan sekuat tenaga dan saya akan selalu berdo’a agar kamu bisa menjadi seorang pemimpin yang amanah!”


Hening, kedua manusia beda generasi itu berada dalam pikirannya masing-masing. Saras memikirkan tentang ribuan karyawan yang memiliki tanggung jawab atas beban rumah tangga mereka serta biaya sekolah anak-anak yang mereka tanggung.


Entah apa yang akan terjadi kalau sampai mereka semua berhenti bekerja dan menjadi pengangguran. Bukankah mereka semua akan menambah statistik jumlah pengangguran di Indonesia ini, jika sampai Ravi membiarkan perusahaan kakeknya hancur di atas meja judi? Padahal suatu hari nanti anak-anak mereka akan bisa mengangkat derajat keluarganya, keluar dari garis kemiskinan dan menjadi orang yang berpendidikan. Tanpa sadar senyum terkembang di bibir Saras diiringi anggukan kepala ke arah tuan besar.


Sepertinya, mau tidak mau Saras harus mencoba melakukan semua yang telah diamanahkan oleh Tuan Nugroho guna menyelamatkan pendidikan seluruh anak karyawan di perusahaan jamoe Jitoe.


Panjang lebar Nugroho menceritakan dasar pemikirannya tentang ide membuat senuah yayasan. Hingga Saras semakin paham kenapa tuan besar membuka yayasan non profit dan memberikan pendidikan gratis.


“Saya hanya ingin membawa seluruh harta kekayaan saya sampai mati, dengan begitu maka saya akan tetap menjadi orang kaya di akhirat Saras, hanya tiga perkara kan yang bisa kita bawa ke akhirat nanti, dan saya sedang belajar untuk melakukannya. Tidak ada kata terlambat kan?” tanya tuan besar Nugroho.

__ADS_1


Saras hanya bisa mengangguk dengan tangisan haru yang sudah pecah tak tertahan. Hati wanita cantik yang terkenal killer di pekerjaan itu luluh lantak berantakan, rasa bahagia sekaligus haru menguasai seluruh ruang di hatinya.


‘Aku berasal dari golongan ekonomi lemah, dan aku diberikan kesempatan untuk membantu kaum ku untuk keluar dari garis itu. Ya Allah sungguh nikmat dariMu tiada tara, Engkau gantikan kesedihan dan kekecewaan terhadap salah satu hambamu dengan cinta kasih Mu yang luar biasa, maka nikmat Mu yang mana lagi yang bisa aku dustakan. Alhamdulillah terimakasih ya Allah untuk semua kesempatan dan ridho Mu atas diriku,’ gumam Saras dalam hati dengan air mata haru dan bahagia yang masih setia untuk mengalir.


Wanita itu terlihat mengusapkan sehelai tisu pada sudut matanya saat tiba-tiba saja, dering ponsel yang ada di dalam tas sling bag yang di bawahnya terdengar dengan nada perlahan. Saras merokok dan mengambil benda pipih warna hitam miliknya serta melihat ada nama Surya tertera di layar ponselnya.


“Angkat saja ponselmu terlebih dahulu, Saras!” suruh Tuan Nugroho tanpa merasa terganggu dengan dering ponsel yang masih berbunyi.


Saras menganggukkan kepala lalu berdiri, menjauh beberapa langkah dari posisi di mana Tuan Nugroho berada. Dirinya tidak ingin apa yang diobrolkan atau mungkin yang dibicarakan Surya nanti bisa saja menyinggung perasaan Tuan Nugroho, karena bagaimanapun juga Saras telah menceritakan sedikit banyak tentang seseorang ,walaupun tidak pernah mengatakan bahwa yang sedang diselidikinya saat ini adalah sosok Ravi yang sedang menjalin kerjasama dengan Surya.


“Halo, assalamu’alaikum, Surya,” sapa Saras lembut.


[Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Kamu sedang di mana sekarang syarat?] tanya Surya di ujung telepon di tempat yang berbeda.

__ADS_1


“Aku sedang berada di rumah tuan besar Nugroho, pembeli perusahaan tempatku bekerja,” sahut Saras dengan jujur tanpa menutupi sedikitpun.


[Memangnya perusahaanmu ada masalah? Kalau ada masalah jangan sungkan minta bantuanku! Apa kamu masih lama? Kalau kamu nggak keberatan, biar aku jemput ke sana!] tawar Surya.


__ADS_2