
Sebelum melangkah aku berdo’a semoga Tuhan mengabulkan harapan yang sudah kutanam di dalam hati ini. Saras, tunggulah pernyataan cinta dariku!
Cus ah jalan, jangan sampe dia duluan yang dateng, secara dia kan orangnya disiplin kelas berat. Bisa di omelin tujuh hari tujuh malam aku sama sang calon istri. Hahaha, masa aku udah nganggap dia calon bini aja, astagaaa Cokro, tahan dulu daripada nanti gigit jari. Siapa tau aja kalau ternyata Saras udah punya tambatan hati.
Aku pun mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas, dengan kepercayaan tinggi melangkah pasti, aku memang jarang sekali menonton televisi, karena hidupku terlalu sibuk. Apalagi sekarang aku menjadi tim pengacara untuk sebuah kasus besar yang melibatkan banyak jaringan.
Wangi parfumku sudah seperti malaikat lewat, rambut yang ditata dengan model kekinian agar wajahku sedikit bisa awet muda pun sudah terlihat begitu menawan dan semakin membuatku tampan. Mobil melaju dengan kecepatan lumayan tinggi, karena aku sadar Saras hanya butuh jalan kaki untuk mencapai tempat dinner kami. Tentu saja aku tak mau terlambat.
__ADS_1
Seperti yang kuduga, wanita cantik janda baru netes itu tampak sumringah menyambut kedatanganku. Astaga … kenapa bunga yang sudah kusiapkan malah ketinggalan di rumah, sih? Ya Allah … bagaimana ini? Kacau, masak aku nggak bawa apa-apa untuk dipersembahkan pada Saras, dasar ceroboh!
“Malam, Bu Saras,” sapaku berbasa basi.
Tentu saja aku berucap begitu karena tidak mungkin aku menyapa dengan selamat siang kan, hahaha. kalimat selanjutnya harus bersifat baku. makanya banyak yang aku ubah.
“Malam, Pak, saya sudah pesan barusan, anda silahkan pesan juga,” jawab Saras membuat perasaanku langsung mencelos.
__ADS_1
“Iya Bu, waduh ini kan di luar kantor ya, masak kita masih formal aja sih, bukankah kita bisa saling mengubah sebutan di antara kita?” tanyaku sedikit meminta.
Sengaja ku buat kalimat dengan mode candaan tipis-tipis. Kode sih sebenarnya agar aku bisa memanggilnya dengan panggilan istimewa. Sebenarnya ini harapan entah bisa nyata ataukah hanya bakal sekedar khayalanku saja karena Saras termasuk wanita yang susah untuk ditebak.
“Saya tidak pantas untuk terlalu ngelunjak kepada anda, Pak, karena anda merupakan orang yang sangat terhormat dan sudah banyak membantu saya. Tolong jangan biarkan saya berlaku tidak sopan kepada Anda!” sahutnya langsung membuat nyaliku menciut seketika.
Waduuh, ternyata prinsipnya sangat kuat sekali, biasanya kalo cewek lain langsung mengangguk patuh dan menawarkan kalo panggil honey juga boleh? Tapi wanita yang satu ini rupanya sungguh berbeda, seperti batu karang yang ada di lautan dalam, bukan lagi es batu yang bisa meleleh setelah terkena cahaya.
__ADS_1
“Bu Saras ternyata sangat pandai merendah untuk meninggikan mutu, saya harus belajar lagi nih sama Bu Saras. Oh ya, kalau memang diijinkan … bolehkah saya meminta Ibu Saras untuk mengubah panggilan di antara kita? Sebenarnya sih hanya sekedar agar tidak kaku saja,” lanjutku masih meminta.
Aku harus berusaha sebatas kemampuan untuk membuat suasana yang tercipta, bisa menjadi jauh lebih romantis, Aku tidak akan pernah putus asa dalam melancarkan aksi, walau pun sepertinya harapan itu sangat sulit untuk diraih tapi aku harus percaya diri kalau tak ada yang namanya mustahil di dalam hidup ini asalkan mau berusaha.