Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 53. Penantang Sepadan


__ADS_3

“Apa anda sedang cari mati, Nyonya Yo?” tanya Ravi dengan nada kesal.


“Haiiyaa, tuan muda Ravi, anda sudah terlalu lama duduk di singgasana itu, ayolah berikan kesempatan padaku untuk merasakan nikmatnya menjadi seorang pemimpin sesaat saja, jangan terlalu serakah! Bukankah Anda telah menduduki tahta beberapa periode? Mengalah untuk wanita tua yang sebentar lagi akan pulang ini tidak akan membuatmu rugi kan, Tuan Muda,” kekeh nyonya Yo terdengar dengan gelak tawa yang terdengar sumbang di telinga Ravi, tentu saja semua itu semakin membuat kesal pria gagah itu saja saat mengetahui apa yang diincar oleh wanita di hadapannya.


Apa kata dunia jika Ravi lengser ke prabon, hal itu sungguh membuatnya malu dan bakal kehilangan harga diri. Selama ini pencapaian yang sudah diraih nya hingga menjadi raja judi bukan perkara mudah, tapi kini seorang wanita tua yang sudah bau tanah, menjadikannya sebuah taruhan sepele bagai kartu yang mereka liat di atas meja.


“Apa kau sudah gila, Nyonya? Tahta itu bukan lah sesuatu yang bisa dengan gamblang untuk dipertaruhkan, tapi berjuanglah sekuat tenagamu untuk mendapatkannya dengan cara adil! Apakah kamu masih mau bermain atau mau mengalah saja?” tanya Ravi kesal, tidak lupa pria itu menyatakan keberatannya untuk mempertaruhkan tahta raja judi dalam permainannya kali ini.


“Hmmm oke lah ini merupakan putaran terakhir, aku akan bertaruh senilai perusahaanmu,” jawab Nyonya Yo dengan tenang.


Ravi juga sebenarnya sudah tidak sabar untuk melayani kekonyolan Nyonya Yo, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Jika itu dia berikan itu sama saja wanita itu meminta tahta miliknya yang kedua, dan itu semua belum sah sebagai punya seorang Ravi melainkan masih atas nama kakeknya. Ravi membayangkan saat ini kakeknya sedang memanggangnya hidup-hidup seperti kambing guling hingga gosong dan berasap.


“Kakek …!”

__ADS_1


Tanpa sadar pria itu bergumam dengan memanggil nama kakeknya, kesadarannya terkumpul. Nyonya Yo sudah tidak sabar dengan jawaban Ravi yang kini melihatnya sedang melamun. Kemungkinan besar pewaris tunggal dari tuan Nugroho itu merasa ragu untuk menjadikan perusahaan sang kakek sebagai taruhan yang bukan main-main.


“Maaf, kalau anda mengharapkan perusahaan itu maka anda terpaksa kecewa karena perusahaan Jamoe Jitoe bukan milikku nyonya, kita sudah berjanji kan, barang yang kita pertaruhkan hanya milik kita saja, apa kau ingat itu?” tanya Ravi yang berusaha lolos dari cengkraman nyonya Yo – wanita yang menuntut lebih untuk apa yang mereka pertaruhkan.


Bukan suatu rahasia lagi kalau seorang miliarder bisa Jatuh Miskin hanya dalam satu putaran permainan di atas meja judi dan Ravi masih memiliki sedikit kewarasan Di dalam jiwanya yang tidak akan pernah mengganggu gugat sedikit pun harta kekayaan sang kakek.


“Kita bisa impas, jika kau menang maka Aku akan memberikan anak gadis ku yang masih perawan kepadamu, apa yang akan kau berikan dengan nilai yang sepadan sebagai gantinya, hem?” tanya nyonya Yo yang sudah mulai terlihat kehilangan kesabaran, hingga menyebutkan taruhan nya terlebih dulu, sementara Ravi hanya dibuat melongo saat mendengar ucapan wanita paruh baya yang tadi mengaku sudah bau tanah itu.


‘Ternyata ada seorang ibu yang lebih kejam dari iblis hingga mau menjadikan Putri kandungnya sendiri sebagai barang taruhan di meja judi, benar-benar sangat menarik dan begitu kejam.’


Ravi mengusap wajahnya kasar, dia melihat dalam ke arah sepasang netra sipit milik nyonya Yo, wajah yang tenang dan damai terpampang jelas. Ravi bingung harus menjawab apa, seorang ibu tega menjual anak gadis nya sendiri, dan dia bisa tetap tenang seperti ini?


Apakah orang yang sedang menantangnya saat ini merupakan wanita yang masih waras atau jangan-jangan seorang perempuan yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa? Jika dia seorang ibu yang masih waras dan juga merupakan wanita yang telah melahirkan putrinya maka tidak akan mungkin memiliki hati yang begitu sadis untuk menjual anaknya sendiri sebagai Barang Taruhan yang menjijikan di atas meja judi.

__ADS_1


“Bagaimana, Tuan muda? haiyaaa ayolah tuan, jaman sekarang susah lo cari anak perempuan yang masih perawan, dan ini saya tawarkan dengan penuh pertimbangan. Hehehe, saya sangat menjaganya selama ini, jadi anda boleh test dulu keperawanannya pada dokter kandungan, sebelum saya berubah pikiran. Ayo cepatlah jawab karena kali ini merupakan putaran terakhir permainan kita.”


Dari semua penantang nya di meja berwarna merah itu, baru kali ini Ravi menemukan manusia tanpa hati. Ravi tidak kunjung menjawab pertanyaan nyonya Yo, dia terus menimbang dan memikirkan baik buruknya jika sampai menerima tantangan penuh godaan itu. Tiba-tiba saja sekelebatan bayangan orang-orang yang dia sayangi dan ribuan karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan Jamoe Jitoe langsung bermain dalam pikirannya.


‘Saras, andai suatu saat nanti kita punya seorang anak perempuan, entah bagaimana nasibnya?’ gumam Ravi dalam hati. ‘tidak-tidak … permainan ini sudah terlalu jauh melenceng. Sepertinya wanita ini bukan dari jenis manusia tapi jenis iblis dari klan tertinggi, jika aku meladeninya bisa saja seluruh keluarga besarku akan mengutukku menjadi batu atau bisa saja aku akan mendapatkan sumpah serapah menjadi orang susah sampai mati!’


Beruntung masih ada sedikit cahaya kebaikan yang masuk ke dalam relung hatinya hingga membuat pria itu segera menemukan jawaban yang harus dikatakannya pada wanita tak punya hati di hadapannya sekarang.


“Nyonya Yo, saya tidak ingin melanjutkan permainan ini lagi! Mari kita tutup saja putaran permainan ini sekarang. Saya tidak keberatan dengan apa yang sudah kau dapatkan dari harta saya. Pulanglah dan tolong jaga putrimu, nikahkan dia dengan seorang lelaki baik, jangan sampai anda menyesal setelah melakukan pertukaran perawan anak gadismu dengan hasil di atas meja judi!” ucap Ravi tiba-tiba dengan kata pemuh penekanan.


Sontak saja semua kalimat yang meluncur dari bibir dewa judi itu membuat semua yang ada di ruangan menjadi riuh, merasa tidak puas namun ada sebagian dari mereka yang mendukung keputusan Ravi dan memujinya sebagai raja judi yang berhati malaikat. Hmm, mana ada malaikat main judi.


Nyonya Yo berdiri merasa tidak puas, wajah yang sedari tadi tenang dan ramah tiba-tiba saja berubah memperlihatkan keasliannya dengan tatapan nyalang. Wanita itu ternyata merasa terhina karena impiannya untuk menjadi seorang ratu judi penguasa singgasana naga itu gagal total yang berakhir dengan sesuatu tak terduga oleh mereka semua.

__ADS_1


Braaak!


__ADS_2