
Kedua pemilik perusahan jamu nomor satu di tanah air itu sungguh dibuat kelimpungan, Saat mendengar keinginan Saras yang baru saja terjaga untuk melakukan pekerjaan di perusahaannya. Dengan cepat Ravi berusaha merebahkan tubuh wanita itu yang untungnya sama sekali tidak melakukan penolakan. Dengan pelan pria itu menarik selimut yang menutup tubuh wanitanya, berbahan lembut dengan serat yang tak akan pernah membuat Saras merasa kepanasan dan juga tidak nyaman.
Ravi bahkan tanpa segan membeli selimut khusus agar bisa membuat Saras merasa nyaman ketika tidur panjangnya sedang membuat perempuan itu berkelana di bawah alam bawah sadarnya.
Setelah Saras kembali menutup matanya karena pengaruh obat dari dokter hingga membuatnya mengantuk. Tidak membutuhkan waktu lama, wanita itu sudah menyeberang ke alam mimpi dengan senyum menggaris di bibirnya.
Tuan Nugroho memijat dahinya pelan, pria tua yang masih tampan itu kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Ravi menyusul dan mensejajarkan tubuhnya berhadapan langsung dengan sang kakek, sesaat mereka berdua bersilang pandang dengan tatapan yang saling melayang entah kemana.
"Kek, aku merasa bingung, sebenarnya yang punya perusahaan itu dia apa kita, ya?" tanya Ravi heran dengan kebingungannya selaras gelengan kepala.
__ADS_1
"Kakek suka gaya dia yang seperti ini, apa kau masih ingin terus maju untuk mengejarnya?" tanya kakek setelah memberikan pendapatnya.
Pria tua itu hanya tidak ingin suatu saat nanti Ravi merasa terabaikan karena sifat Saraswati yang begitu keras dan juga sangat bertolak belakang dengan tipe wanita yang selama ini disukai cucunya.
"Aku akan pikirkan lagi, tapi … dia itu wanita yang termasuk limited edition, Kek," ucap Ravi mengambang.
Dasar vokalis band yang tidak punya pendirian tetap padahal sebelumnya dirinya mati-matian untuk mengejar Saraswati bahkan sebelum perempuan itu mendapatkan gelar janda. Namun hanya karena mendapatkan sedikit provokasi dari sang kakek tiba-tiba saja ada sedikit keraguan yang meniru ke dalam jiwanya.
Semangatnya naik turun menghadapi Saras di saat sadar nanti. Keringat dingin mengucur deras dari kening licin Ravi. Tuan Nugroho yang melihat itu terkekeh geli melihat cucunya yang mulai ragu.
__ADS_1
"Kau ini ck ck ck, gunakan kesempatan yang ada untuk membuat dirimu menjadi singa sang penguasa bisnis di nusantara ini. Dengar ya, Ravi, kita harus bersyukur banyak-banyak karena Allah berikan Saras dengan segala kelebihan dan kekurangannya."
Tuan Nugroho menepuk pelan pundak cucunya dengan garis senyum yang melengkung ke atas, saat melihat tingkah cucunya yang ternyata masih mudah untuk dipengaruhi.
“Kalau kamu ragu-ragu seperti ini untuk melangkah menuju masa depan wanita yang kau cintai, maka kakek tidak akan memberikan restu untuk kalian berdua! Jadilah lelaki yang memiliki prinsip pasti, bukan pria manja yang hanya bisa mengejar tapi tak mampu bertanggung jawab dengan keputusan sendiri!” tegas Tuan Nugroho memberikan nasihat pada sang cucu yang teramat disayanginya tapi selalu saja suka membuat kesehatan jantungnya naik turun akibat ulah Ravi yang sering kali hampir mencemarkan reputasi keluarganya.
Ravi melangkah mendekati brankar Saras setelah kepergian kakeknya, Mematut dan memandangi wajah sarat yang terlihat masih sedikit pucat untuk mendapatkan jawaban atas seluruh perkataan kakeknya. Benarkah dirinya suatu saat akan menyesal jika sampai menikahi Saraswati?
Pria itu meraih jemari Saras yang sudah menutup mata dengan dengkuran halus diperdengarkan ke telinganya, menggenggam jari itu lalu menci-umnya dengan menutup mata. Dirinya berusaha merasakan bagaimana detak jantungnya saat ini sembari menyalurkan rasa hangat dari jari Saraswati.
__ADS_1
“Aku mencintaimu tanpa syarat, dan aku akan buktikan sama kakek kalau tak akan pernah ada sesal di kemudian hari setelah kita berumah tangga! Aku janji akan membuatmu selalu bahagia tanpa pernah lagi mengeluarkan air mata, I love you now and forever!”
Ravi berikrar sendu, di usianya yang sudah tidak muda lagi mau tak mau memaksanya harus membuat sebuah keputusan besar. Maju atau mundur sama sekali, sebelum janur kuning melambai mengundang para tamu untuk memberi restu.