Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 35. Cinta Oh Cinta


__ADS_3

‘Oh my God kenapa orang yang baru saja aku ceritakan sama Sari malah ada di sini?’ gumam Saras di dalam hati, wanita cantik itu sama sekali tidak menyangka pria yang meresahkan hatinya tiba-tiba saja ada di hadapannya. 


“Surya …!”


Refleks bibir indahnya menyeru nama lelaki yang baru beberapa detik lalu dibicarakannya bersama Sari, walau tanpa menyebutkan nama. Kenapa mereka harus kebetulan bertemu begini hingga sampai dua kali dalam 24 jam ini? 


Pria tampan yang berdandan sederhana tapi tetap mempesona itu menoleh, merasa namanya dipanggil oleh seseorang. Hanya dengan satu kali mengedarkan pandangan, pria itu cepat menemukan sumber suara yang tidak asing di indera pendengarannya. Walau pun terkejut dan kegirangan, Surya tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah menggerakkan langkah kakinya ke warung angkringan mas Pomo. 


'Terimakasih Tuhan, hanya engkau yang bisa mengabulkan permohonan hambamu. Ya, gadis itu, Sarasku ada di depan mataku saat ini,' gumam Surya dalam hati, senyum terukir tipis di bibir seksi nya. 


Surya mengerjap sekali lagi untuk memastikan apakah yang dia lihat barusan sungguh nyata atau hanya halusinasi belaka. Pria tampan dengan tubuh atletis itu kini yakin bahwa dia tidak salah mendengar dan tidak salah melihat, pemilik suara yang memanggilnya adalah Saras.


Refleks saja bibir manis milik lelaki yang bernama Surya  tersungging senyum begitu merekah melihat Siapa orang yang tanpa sengaja duduk di salah satu meja lesehan di angkringan mas Pomo. 


“Sa-saras …? Kamu —”


Mulut pria itu sampai tak mampu berucap lagi saking senangnya hingga dirinya bingung mau mengucapkan apa pada wanita yang sejak tadi siang mereka bertemu, mampu membuat pikiran Surya kalang kabut. Sempat terlintas di dalam pikirannya untuk menghubungi perusahaan Jamoe Jitoe hanya sekedar ingin mendapatkan nomor ponsel wanita dari masa lalunya itu. 


“Surya, kamu sudah sering ke sini?” sapa Saras menutupi kegugupan Surya, wanita cantik itu paling pintar mengolah situasi. Surya yang mendapati Saras biasa, kegugupannya pun mereda. 

__ADS_1


“Ya, aku salah satu langganan terbaiknya mas Pomo,” jawab Surya dengan senyum sumringah dan narsis. Dengan cepat dia mengambil posisi lesehan yang berseberangan dengan Saras Duduk dan kini mereka berdua berhadapan  


“Den bagus, malam ini mau makan apa?” tanya mas Pomo yang dengan gaya flash menghampiri meja Saras dan Sari. Seperti yang dikatakan Surya tadi, Saras bisa melihat seperti apa mas Pomo melayani Surya si pelanggan terbaiknya itu. 


“Tolong berikan saya seluruh apa yang dipesan sama mbak cantik ini ya, mas Pomo!” pinta Surya yang sudah tidak ingin pusing memilih menu, dan sudah pasti hal ini akan membuat Saras senang karena dirinya akan memakan menu yang sama. 


“Maksudnya Mas … menunya mau disamakan dengan mbak Saras?” tanya mas Pomo ingin memastikan apa yang barusan dia dengar dari den bagus nya. 


“Yes mister Pomo, cepet ya Mas, nggak pake lama!” pinta Surya dengan sedikit berkelakar. 


Mas Pomo langsung berdiri tegak dengan menghentakkan kaki dan menggoyangkan blangkonnya sedikit, lalu tanpa banyak bicara lagi, pria ramah dan lucu itu sudah melesat ke rombong angkringannya yang sudah di kerubuti oleh pelanggan. 


Surya kembali menghadap ke arah Saras yang menghentikan kunyahannya karena sedang menikmati keakraban mas Pomo dan Surya yang menurutnya sangat asik untuk di nikmati. Sungguh malam minggu yang menyenangkan, seperti itulah yang Saras pikirkan. 


Bahkan alam semesta pun seolah sedang merestuinya untuk kembali merajuk asa yang dulu sempat hilang dan tak pernah ditemukannya. Pikirannya sekarang tidak menentu dengan melirik sedikit ke kiri dan ke kanan, lalu telapak tangannya tiap sebentar mengusap wajah seolah-olah tidak percaya jika orang yang dilihatnya itu adalah Saraswati wanita impiannya di masa lalu hingga sekarang.


Saras sibuk dengan pesona seorang Surya, beberapa detik atau mungkin menit mereka lewatkan dengan saling pandang dan sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Sari. 


Janda genit itu merasa diabaikan, eksistensinya tidak diakui oleh kedua makhluk yang saat ini sama-sama terpesona. Sari sedikit merubah posisinya, mulutnya sudah gatal ingin menyemprot dua insan yang sedang tidak tau diri itu. Tapi Sari harus menekan emosi demi image yang harus dia jaga di hadapan makhluk tampan impiannya itu. 

__ADS_1


“Ekhem, maaf bu Saras dan pak Surya, apa kalian lupa kalau ada saya di sini?” ucap Sari yang sontak membuat keduanya kaget dan menoleh berbarengan ke arah Sari. Senyum ala iklan odol di tampilkan Sari demi menebar pesona kepada cowok ganteng di hadapan Saras. 


“Ya Allah Ri! Maafkan aku, maaf ya bebeb jangan ngambek ya, aku tadi kaget aja kok ada Surya di sini, hehehe,” jawab Saras dengan tampang di buat memelas namun masih bisa tertawa memohon ampunan dari kekesalan Sari. 


“Santai aja Bu, syukurlah ibu sudah kembali ke alam sadar, yuk lanjut makan,” ajak Sari dengan mata sedikit melirik ke arah Surya, inginnya Sari pria tampan itu akan merasa tidak enak kepadanya lalu menyapa dan berkenalan dengannya. 


Tapi semua sepertinya di luar khayalan Sari, cowok ganteng itu anteng aja tanpa terusik sedikit pun dengan deheman Sari dan sahutan Saras yang merasa tidak enak dengan temannya.   


‘Apa Lelaki ini tidak punya telinga, ya? Aku tegur gitu dia nggak noleh blas! Oohh abang ganteng tegur sapalah diriku ini bang,’ rintih Sari di dalam hati, Surya sungguh tidak terusik sedikit pun. 


“Ini pesanannya den bagus, monggo dinikmati, selamat malam mingguan ya mbak-mbak dan den bagus.” Mas Pomo datang dengan hidangan di nampan yang penuh dengan pesanan Surya barusan. 


“Tengkiu mister Pomo,” jawab Surya Ramah, dan jelas saja hal itu membuat Sari bersungut-sungut, giliran mas kumis tebal itu menyapa, Surya akan membalasnya dengan ramah, sementara Sari yang sudah jelas menginterupsi aksi tatapan mata mereka berdua, tidak di gubrisnya sama sekali. 


Mas Pomo tidak langsung melesat, kali ini dia memilih gerakan slow motion demi bisa memperhatikan ketiga pelanggan istimewanya itu. 


“Apa den bagus teman sesama kerjanya Mbak Saraswati dan juga ikut-ikutan meliburkan niatnya untuk diet?” gumam mas Pomo lirih nyaris tak terdengar, tidak biasanya den bagusnya itu makan dengan porsi melimpah seperti itu. 


‘Kenapa banyak sekali orang zaman sekarang melakukan sesuatu yang mengerikan, makan berlebihan, sementara masih banyak manusia yang membutuhkan sesuap nasi untuk mengganjal perut. Dunia memang tidak sesuai dengan orang kecil sepertiku ini.’ Mas Pomo bergumam sendiri di dalam hatinya. 

__ADS_1


Itulah sudut pandang mas Pomo yang selalu memperhatikan pelanggan-pelanggannya dan mengambil hikmah dari apa yang dia lihat dan dia dengar sebagai pelajaran dalam hidupnya yang merantau ke kota besar ini. 


“Cinta oh cinta, entah kapan bisa mengubah sosok dingin jadi ceria, ahaiii … aku pintar nyanyi juga nih.” Bicara sendiri sekaligus memberikan sindiran pada sosok yang baru dilayaninya. Jangan lupakan lirikan jailnya.


__ADS_2