
“Aku juga gak mungkin menolak persangkaan mereka atau menjelaskan segala, karena aku pikir itu semua juga nggak penting hanya karena status Saras yang dikatakan sebagai istriku. Malah dengan kejadian ini bisa membuatku lebih leluasa untuk menunggunya di sini, toh aku juga nggak ngapa-ngapain kan sama dia.”
Ravi menjawab panjang lebar dan kalimat terakhir membuat Nugroho merasa gemas dengan cucu nya, ternyata tidak hanya dia yang sering berpikiran aneh, bahkan ternyata cucunya juga mengikuti jejak gillanya.
Plak!
Nugroho memukul pundak Ravi dengan keras, dan ini sukses membuat sang cucu nya meringis karena merasa panas di bagian kulit pundaknya.
“Aaaawww! sakit kek, kakek ini kenapa sih, ini namanya penganiayaan kek!” pekik Ravi menuduh kakeknya dengan seenaknya.
__ADS_1
“Apa tadi kamu bilang? Kamu di sini nggak ngapa-ngapain sama Saras, somplak kamu, ya jelas aja kamu nggak bisa ngapa-ngapain, lah wong dia aja kayak mayat hidup gitu,” jawab Nugroho kesal dengan jawaban yang diberikan cucunya.
Saras tiba-tiba saja duduk dan menoleh seperti orang lagi bingung ke arah suara gaduh yang ada di sofa sudut ruangan karena barusan mendengar dua manusia yang sedang berdebat tak jelas. Tatapan wanita itu tajam dengan wajah pucat yang menambah kesan sedikit lebih horror.
“Saras, kamu sudah bangun Nak, ini kakek sudah bawakan kamu oleh-oleh,” ucap Nugroho yang langsung bergegas mendekati brankar, Ravi pun melangkah lebar menyusul sang kakek.
Dua laki-laki itu benar-benar tidak tahu aturan tanda kemah membahas sesuatu yang seharusnya tidak didengar oleh Saraswati tetapi keduanya memang sedikit beda dari orang lain. Mereka berdua bukannya langsung menanyakan bagaimana kondisi yang dirasakan Saras saat ini tetapi malah sibuk berdebat seperti Tom and Jerry.
Saras memang belum mengetahui jika dirinya sudah tertidur lebih dari sebulan lamanya sehingga dirinya hanya merasakan seperti orang yang baru saja bangun tidur dengan tubuh yang terasa remuk bagai habis dilindas buldoser besar.
__ADS_1
“Kakek baru saja pulang dari perjalanan dinas ke luar negeri, Saras. Selama kamu sakit, kakek dan Ravi saling bahu membahu untuk melakukan segala pekerjaan dan perusahaan kita. Kamu jangan khawatir ya, yang penting kamu cepat sehat,” jawab tuan Nugroho membanggakan diri, Ravi pun tersenyum bangga karena apa yang dia lakukan selama ini akan membuat Saras juga bakalan ikut merasa bangga.
“Baiklah, tuan besar. Kalau begitu … besok saya akan langsung masuk kantor dan memeriksa laporan pekerjaan serta laporan pengeluaran perjalanan yang anda lakukan. Saya harap kali ini Anda tidak menghambur-hamburkan uang perusahaan seperti yang pernah terjadi,” jawab Saras datar tanpa ekspresi.
Bisa-bisanya Gadis itu terbangun langsung membahas sesuatu yang membuat Tuan Nugroho terpaksa saling beradu pandang dengan cucunya. Bukankah nasihat dan segala kalimat yang tadi sempat disampaikannya terhadap Ravi langsung terlihat begitu nyata di hadapan cucunya saat ini? Inilah Saraswati yang sudah kembali dari tidur panjangnya tanpa mengalami sesuatu yang membuat mereka merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, karena yang lebih mencemaskan adalah sifat profesionalnya kembali tumbuh seperti sedia kala.
Glek!
“Masuk kerja?”
__ADS_1
Kedua pria beda generasi itu saling menatap dengan pandangan bingung. Bagaimana mungkin orang yang baru saja tersadar begitu langsung memikirkan pekerjaan. Memangnya terbuat dari apa tubuh wanita itu hingga tidak merasakan kesakitan yang telah membuatnya hanya terbujur kaku seperti mayat hidup selama ini?