Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 50. Jadi Mata-mata


__ADS_3

“Pak Broto, apa kabar? Ayo ikut makan bareng kita aja, Pak,” jawab Saras berusaha untuk tetap tenang, walau di dalam hati ada gemuruh yang berkecamuk.


Pak Broto merupakan salah seorang petinggi yang sedikit banyaknya memahami kedekatan Saras dengan Ravi. Pria itu bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kedekatannya dengan Surya pada Tuan Nugroho, atau mungkin menyampaikan sesuatu yang tidak seharusnya terhadap Ravi itu sendiri.


Saras memahami arti dari tatapan pria matang itu, tapi dia berusaha untuk tidak peduli. Alih-alih menjawab pertanyaan pak Broto, Saras malah bertanya kabar dan mengajaknya untuk makan di meja yang sama. Di luar jam kantor Saras tidak akan memperdulikan tentang jabatan seseorang dan akan bersikap biasa saja.


Pembicaraan Saras dengan Surya harus mereka tahan dan kini berganti topik akibat kehadiran sosok pak Broto, entah apa yang ada dalam pikiran pria matang itu, sehingga dia pun betah duduk bersama karena tawaran sepele berbasa basi dari Saras tadi.


Setelah makan akhirnya mereka pun bubar, Surya dan Saras kembali melanjutkan perjalanan mereka. Surya mengantarkan wanita itu sampai ke rumah kontrakannya. Bahkan sebelum turun, Surya sengaja menyampaikan sedikit perasaan mengganjal di dalam hatinya yang tadi belum sempat diutarakan.


"Saras, aku harap kamu bisa untuk lebih berhati-hati dengan pria tadi! Ku lihat ada yang tidak beres dari cara nya memandangmu, entahlah kalau ini hanya perasaanku saja tapi biasanya aku masih bisa membedakan mana cara pandangan baik dan mana aura tatapan buruk dari seseorang,” jelasnya mengungkapkan dengan gamblang apa yang sempat dipikirkan.


Surya sedari tadi ternyata ikut memperhatikan dengan seksama bagaimana cara seorang Broto menatap wanita dari masa lalunya itu, bahkan dari sorot matanya saja, Surya sudah bisa menilai kalau Broto tampak mendamba Saras. Parahnya Saras malah tidak menyadarinya sama sekali, membuat tangan surya rasanya ingin Ingin sekali terkepal kuat dan dilepaskan pada wajah laki-laki yang sok akrab di hadapannya tadi. Pemandangan yang menjengkelkan itu benar-benar terasa sangat menyebalkan untuk seorang Surya, harus bersabar melihat laki-laki tidak tahu malu hanya dengan sedikit basa-basi dari Saras, langsung saja duduk dengan bangganya.


“Heem, masa sih, perasaanmu aja kali, gak?” tanya Saras seolah tak percaya.


Apa-apaan wanita itu mempertanyakan kepintarannya dalam mendeskripsikan cara pandang wajah seorang lelaki? Surya merasa sedikit kesal.

__ADS_1


“Percaya deh sama aku! Lagian nggak ada untungnya juga kalau aku harus berbohong tentang cara menilai dengan tatapan seorang pria terhadapmu, jangan lupa kalau aku ini juga pria, Saras!” Surya berdecak lidah mendapatkan pertanyaan balik dari Saraswati seolah-olah meragukan kemampuannya padahal dia pun pernah melakukan hal yang sama beberapa tahun yang lalu terhadap wanita itu.


“Maaf, Surya, aku nggak ada bilang tidak mempercayaimu loh! Aku hanya nggak mau berburuk sangka pada orang lain tanpa bukti. Lagian aku tadi ndak terlalu memperhatikan wajahnya sih, untuk apa juga menatap wajah seorang laki-laki yang bukan seleraku! Tenang aja, tanpa kamu suruh pun aku akan mendengarkan nasehatmu kok! Tapi jangan lupa bantu aku ya, tentang masalah yang kau ceritakan tadi!” jawab Saras dengan hati yang menghangat.


Surya masih sama saja seperti waktu mereka bersama dulu, selalu perhatian tanpa harus menguras emosi ketika hatinya sedang cemburu. Itulah salah satu kelebihan pria itu yang disukai Saras.


Mereka berbincang singkat sebelum akhirnya berpisah dan Saras kini sudah berada di dalam rumah kontrakannya. Ritual membersihkan diri sebelum tidur dia lakukan dengan begitu santai. Pikirannya lelah seharian, siang bekerja dan malam malah terpaksa menjalankan misi yang jauh dari konsentrasi ilmu yang dia miliki selama ini. Itu semua juga terpaksa dilakukannya karena terlalu menghormati Tuan Nugroho yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri.


Untuk menunggu matanya merasa lelah dan mengantuk, Saras menyempatkan diri untuk menonton film bergenre action yang menceritakan tentang kehidupan mafia dan agen mata-mata, dengan tokoh utama seorang wanita cantik. Dari film yang ditontonnya, Saras berharap mendapatkan sedikit pengetahuan tentang Organisasi yang terkenal dengan sebutan kaum bawah tanah itu.


Wanita itu terus saja menonton dengan fokus film yang sedang ditayangkan di saluran dunia paling disukai warganet, alur ceritanya yang begitu bagus mampu menghipnotis pikirannya sendiri hingga tanpa sadar tangannya mulai mencari kertas dan juga pulpen untuk dijadikan bahan coretan tentang apa saja yang dianggapnya penting untuk dicatat. Dengan cepat wanita itu mencatat beberapa bagian penting dari film untuk dijadikannya sebagai salah satu panduan atas kasus yang digelutinya sekarang.


“Ternyata film yang berkualitas bisa membuat kita pintar, dan parahnya aku sangat cupu sekali selama ini. Hehehe, ternyata kasus Ravi membuat aku jadi punya keahlian lain. Alhamdulillah. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa,” gumam Sars semakin bersemangat. sesekali dia tertawa dan berkhayal jika dirinya yang menjadi tokoh wanita yang ada di dalam film, betapa kerennya Jika sampai halu itu menjadi kenyataan, rasanya Saras sudah seperti anak kecil yang menghayal sesuatu hal berlebihan di dalam mimpi.


Saras sedang melihat dirinya di depan cermin, menggunakan pakaian serba hitam yang sangat pas di tubuhnya. Tidak ketinggalan kerudung hitam dan juga kacamata hitam yang super canggih, sepatu boot yang lengkap dengan senjata rahasia. Di kedua pahanya sudah terselip dua buah senjata api canggih. Coat hitam menyempurnakan penampilannya malam ini. Benar-benar performanya akan terlihat begitu keren, apalagi wajahnya yang sering kali terlihat datar dan jarang tersenyum, kecuali hanya pada orang-orang yang terdekat saja. Bukankah dirinya akan semakin terlihat sempurna seperti seorang mata-mata sungguhan?


Saras siap menumpas kejahatan para manusia buas yang tidak memiliki hati nurani, sebelum meninggalkan cermin, wanita itu tidak lupa memoleskan lipstik warna merah maroon glossy, senyum kejam pun terukir di bibirnya.

__ADS_1


“Habislah kalian semuanya malam ini, aku tidak akan memberi ampun satupun dari kalian!” monolog Saras meninggalkan rumahnya. Dengan langkah sombong yang arogan Saras menuju mobil hitam metalik yang sudah dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan sensor detector yang bisa memberikan informasi di mana saja musuh berada.


Di sebuah rumah yang di dominasi warna merah, wanita itu berdiri tegak dengan gagahnya. Mobil hitam Saras di hadang oleh entah berapa pria berbaju hitam, dengan cepat Saras melumpuhkan mereka semua menggunakan senjata yang bisa di keluarkan oleh mobilnya.


Kacamata super canggihnya memindai semua yang ada dihadapan Saras, dilihat aman, wanita itu berlari dengan gagah menerjang pintu berwarna merah menyala itu.


Braakkk!


Semua orang yang berada di ruangan itu ternyata sedang asik berjudi, kaget dan tidak sedikit dari mereka yang pingsan karena serangan jantung, serta beberapa wanita pelayan lainnya lari terbirit-birit mencari selamat.


Saras menodongkan senjata laras pendek yang berada di kedua tangannya, dengan senyuman iblis wanita itu berteriak lantang.


“Matilah kalian semua! Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan kesusahan, tapi kalian dengan santainya bermain di atas bara api neraka!” Seringaian mengerikan terpapar jelas dari bibirnya.


Dor!


Dor!

__ADS_1


Dor!


Bugh!


__ADS_2