Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kemarahan Niko


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Niko bermalam di rumah Zoya, dan Fifah setiap malam hanya tidur seorang diri. Bahkan Fifah hampir setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, semua karena dalam otaknya membayangkan penyatuan suaminya dengan istri pertamanya.


Terlebih Niko pernah bilang bahwa istri pertamanya bisa melayaninya dengan sangat baik. Namun ketika pagi menyapa Niko sudah datang ke rumah Fifah, sehinga mau tidak mau Fifah juga harus melayaninya. Semuanya hanya Niko lakukan agar Fifah cepat hamil. Selama hampir satu minggu ini juga baik Niko dan Fifah hampir tidak ada komunikasi.


Rasanya perih, sesak dan sakit, Fifah tidak siap menjalani ini semua. Namun ia juga tidak bisa berontak dan pergi meninggalkan Niko. Pasalnya semua pengobatan Papahnya, Nikolah yang menanggungnya. Semua karena bisnis Tuan Kifayat yang secara tiba-tiba hancur lebur. Rumah yang megah pun telah berpindah tangan, tetapi semua uang tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, sehingga Niko yang mengambil alih biaya rumah sakit.


Bahkan Niko mengancam apabila Fifah tidak kunjung hamil. Ia harus mengembalikan uang yang pernah Niko berikan sebagai mahar sebesar 10 Miliar.


Fifah hanya bisa pasrah, dan berharap agar dirinya cepat hamil, dan bisa pergi dari neraka dunia ini.


Malam ini Fifah kembali tidur seorang diri. Air matanya jatuh. "Ya Tuhan apa kesalahku, sehingga aku terjebak dalam pernikahan ini." Fifah merintih, menahan sakit menjalani pernikahan dengan Niko. Mungkin kalo Fifah tidak mencintai Niko ia akan biasa sajah. Namun hal itu berbedak ketika Fifah sudah sangat mencintai laki-laki itu. Hatinya sakit, sesak, perih bagai teriris sembilu. Setiap membayangkan ada wanita lain yang memuaskan suaminya, menyentuh serta mencum bu di setiap jengkalnya.


Selama penyatuan hampir satu minggu ini Niko melakukanya dengan sangat agresif dan tanpa pemanasan langsung tancap dan cabut, setelah benihnya ia tanam di rahim Fifah. Tanpa peduli kan Fifah, yang merintih menahan sakit karena sisa percintaan yang seolah dilakukan karena kebencian. Setelah melakukan tugasnya Niko langsung bersih-bersih dan kembali pergi ke kantor. Mereka bagaikan seseorang yang tidak saling kenal begitu hubungan selama hampir satu minggu ini.


Malam ini adalah jatah malam terakhir Niko di rumah istri pertamanya. Zoya pun selama hampir satu minggu ini melihat perubahan di diri suaminya. Menjadi lebih pendiam dan sering melamun. Penyatuan antar mereka pun terasa hambar, karena Niko seolah tidak menikmati pelayanan yang Zoya berikan. Padahal Zoya sudah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.


"Mas, aku perhatikan kamu itu sekarang aneh, sering melamun dan juga seperti tidak menikmati penyatuan kita. Apa aku sudah tidak bisa memuaskan kamu?" Zoya mencoba mengungkapkan perasaanya. Hatinya sakit manakala melihat Niko yang seolah tidak menikmati pelayananya. Berbeda dengan dulu, di mana Niko selalu memuji pelayanan Zoya.


Niko langsung menarik tubuh polos Zoya, malam ini mereka melakukan peyatuan, tetapi lagi-lagi Zoya merasakan hambar dalam penyatuanya. Semuanya karena Niko yang bermain kasar dan tidak menikmati belaian lembut dari Zoya. "Apa Mas terlihat berbeda? Mas rasa sama saja. Apa mungkin karena akhir-akhir ini perusahaan tengah banyak masalah jadi terbawa sampai ke rumah. Mas minta maaf yah kalo kamu merasakan Mas yang berbeda, tapi percayalah. Mas itu sangat mencintai kamu. Mas takut kamu pergi dari Mas, tolong tetap di samping Mas, dan tegur Mas kalo memang Mas berubah." Niko mencoba menenangkan Zoya agar tidak berfikir macam-macam. Jujur Niko memang akhir-akhir ini tengah dibuat kesal oleh Fifah. Niko kesal karena Fifah berubah jadi dingin, bahkan Niko kesal karena Fifah yang tidak bisa melayaninya dengan baik, dan hanya menjadi istri yang pasif. Niko ingin Fifah kembali liar di atas ranjang. Bukan Fifah yang pasrah hanya diam sajah. Seolah Niko tengah bermain dengan sebongkah mayat.


Zoya pun sudah terlelap dalam pelukan Niko. Sementara Niko tidak bisa memejamkan matanya, entah memikirkan apa, Niko sudah berusaha memejamkan matanya, tetapi tidak juga berhasil. Padahal jarum jam sudah menunjukan pukul satu malam.


Niko meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia melihat Fifah masih online. "Ngapain dia masih online jam segini." geram Niko. Niko langsung menghubungi Fifah, tetapi tidak diangkat.

__ADS_1


Fifah disebrang sana yang belum bisa memejamkan matanya memang memutuskan untuk bermain dengan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhanya. Namun, justru tiba-tiba Niko meneleponya, sontak Fifah mendiamkan saja. Ia takut Niko marah.


Konnnntrang... sebuah pesan masuk, dan itu sudah pasti pesan dari Niko.


Fifah bingung mau membukanya atau tidak. Karena rasa penasaranya yang tinggi Fifah pun membuka pesan dari Niko.


[Ngapain kamu jam segini belum tidur? Apa jangan-jangan kamu memang tengah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, dan di malam-malam begini kesempatan kamu untuk berselingkuh dari ku? Kamu harus aku hukum!!!]


Begitu kira-kira pesan yang di kirim oleh Niko. Fifah tidak membalas pesan Niko, melainkan mengabaikanya. Fifah tidak mau memancing keributan dengan suaminya. Sejujurnya Fifah pun takut apabila Niko marah dan menghukumnya. Fifah ingin mencurahkan perasaanya dilaman media sosialnya, tetapi ia takut kalo-kalo Niko mengetahuinya dan justru memancing kemarahan Niko.


Fifah menatap langit-langit kamar, tubuhnya pun semakin kurus karena luka batin yang ia pikirkan, semakin hari hubungan dengan suaminya semakin tidak jelas. Bahkan Fifah merasa ia hanya sebagai pem uas nafsu Niko.


Niko kembali menghubungi Fifah, tetapi Fifah kembali tidak meresponya.


"Kamu yang mulai Fah, jangan nagis kalo aku berikan hukuman pada kamu." Niko beranjak dari tidurnya, ia masuk ke kamar untuk membersihkan badan bekas percintaanya dengan Zoya.


Selanjutnya Niko menulis note untuk Zoya.


(Sayang, Mas izin ke rumah Fifah yah. Tadi Bibi telpon mengabarkan kalo Fifah demam. Maaf Mas tidak bangunkan kamu, abis kasian kayaknya kamu pulas banget tidurnya, karena kecapean. Selamat tidur sayang. Mas sayang banget sama kamu. emot love banyak) Begitu kira-kira note yang Niko tulis untuk Zoya. Selanjutnya Note, Niko simpan di bawah ponsel Zoya sehingga kalo Zoya mencarinya bisa membaca Note dari suaminya itu.


Pukul dua lebih tiga puluh menit Niko melajukan mobilnya ke rumah Fifah. Karena jalanan yang senggang, sehinngga hanya butuh waktu setengah jam kini Niko sudah memalkirkan mobilnya di halaman rumah Fifah. Niko yang memang memiliki kunci cadangan rumah istri mudanya pun langsung masuk tanpa harus mengganggu asisten rumah tangganya yang tengah tertidur.


Niko langsung naik ke lantai dua di mana kamar Fifah berada.

__ADS_1


Braaakkk... suara pintu yang Niko buka dengan tiba-tiba dan kencang sehingga membentur dinding kamar dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Fifah yang memang masih bermain dengan ponselnya terlonjak kaget. "Astagah, Mas," lirih Fifah sembari menyembunyikan ponselnya yang mana Fifah tengah berjalan-jalan di instagram melihat-lihat postingan teman-teman kuliahnya dulu.


"Sini ponselnya!!" Niko menjulurkan tanganya. Fifah justru menyembunyika ponselnya di belakang tubuhnya sembari menggelengkan kepalanya, dengan wajah yang memucat.


"Sini!!!" bentak Rio, kini suaranya semakin meninggi dan mata yang melotot seolah biji matanya hendak loncat. Fifah pun yang takut dengan Rio akhirnya memberikan ponselnya dengan tangan bergetar, dan wajah menahan tangisnya.


Pyyyarrrr... Ponsel Fifah Niko lempar kedinding sehingga hancur lembur. Fifah yang melihat pun ketakutan, air matanya jatuh dan tubuhnya bergetar seketika. Ia tidak menyangka bahwa Niko akan melakukan hal itu. Ternyata Niko sangat mengerikan apabila tengah marah.


Hihihihi...Fifah menangis terisak, dan tubuh smakin bergetar ketika Niko mendekatinya.


Niko memegang dagu Fifah dengan tangan kananya agar menatapnya pada Niko. Namun Fifah masih ketakutan dan air matanya membajiri pipinya. Seumur hidup ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Bahkan ia sangat di manja oleh kedua orang tuanya. Sehingga ketika melihat kemaran Niko, Fifah sangat ketakuan luar biasa.


"Buka matamu!!" Suara bariton Niko berhasil membuat Fifah menurut dan membuka kedua matanya. Namun suara tangisan dan tubuh gemetar Fifah tidak bisa disembunyikan.


#Niko kamu jangan jahat-jahat nanti nyesel lagi.


...****************...


Hay... othor mau kasih rekomendasi bacaan lagi. Kali ini karya bestie othor namanya ka Dtyas, kuy langsung kopoin ajah ceritanya yang kece baday..


Like, comen. dan hadiah jangan lupa di tinggalkan yah, bair othornya seneng..

__ADS_1



__ADS_2