
Naqi setelah menetralkan perasaanya pun masuk ke dalam rumah keluarganya. Seolah kedatanganya yang tengah ditunggu tunggu, begitu masuk Naqi sudah disambut Kakek, mamih dan Qari, tapi tunggu di mana Cyra? Yah hanya Cyra yang tidak ada ikut menyambut kepulanganya.
Wajah-wajah penuh dengan marah dan kecewa terlihat jelas dari ketiga anggota keluarganya, terutama Kakeknya.
"Masih ingat pulang kamu? Kakek pikir kamu itu beda dengan Luson, tapi ternyata memang buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Apa yang kamu mau sekarang?" Kakek berdiri dan jalan ke arah Naqi.
Sementara Mamih mnunduk menggunakan tangan kanannya sebagai topangan kepalanya, rasanya ia ingin menghilang dari situasi seperti ini. Mungki itu yang mamih rasakan, ia tidak penah mengajari anaknya untuk mencontoh papahnya, tapi justru sepertinya mereka itu sebelas dua belas.
Qari justru terlihat lebih santai, mungkin ia pikir dihadapanya hanya ekting, atau latihan derama untuk sebuah pentas karya seni.
Cyra yang juga baru sampai rumah dan keluar dari dalam taxi pun kaget, ketika melihat mobil Naqi ada di halaman rumah.
"Mas Naqi sudah pulang." Cyra tidak memungkiri ada rasa bahagia di hatinya, ketika mengetahui suaminya kembali lagi ke rumah itu, setidaknya ada harapan untuk bertemu Naqi lagi, meskipun ia belum tau tujuan Naqi pulang untuk apa. Cyra melangkah lebih cepat agar segera sampai di dalam rumah untuk menemui Naqi, banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun belum sampai di dalam, Cyra sudah mendengar keributan. Ia memegangi dadanya, ia tahu bahwa penghuni rumah ini sedang tidak baik-baik saja, sedang terjadi perang di dalam sana. Terutama Tuan Latif terlihat sekali kemarahanya. Cyra melambatkan, jalanya bahkan mungkin jalanya Cyra lebih lambat dari seekor siput.
Di dalam rumah Naqi hanya diam, tidak menjawab pertanyaan kakeknya, entah lah ia terlalu takut, atau terlalu meremehkan kemarahan kakeknya.
"Apa maksud kamu, menemui wanita itu? Terus ternyata selama ini kamu tidak mengakhiri hubungan kalian? Kamu selalu menggunakan Cyra sebagai alat agar kamu tetap bisa menemui wanita itu, di mana hati kamu Naqi? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Cyra?" Kakek terus mencecar Naqi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memang Naqi sendiri sulit menjawabnya.
"Maaf kan Naqi, Kek. Naqi juga tidak mau ada di posisi ini." Naqi menjeda ucapanya, hal itu karena kakek yang semakin tesulut emosinya.
__ADS_1
"Maaf? Maaf katamu, setelah kamu mempermainkan pernikahan, kamu masih bisa bilang maaf? Kata maaf tidak pantas kamu dapatkan Naqi. Sekarang Kakek tanya mau kamu apa? Apa yang ada di otak kamu sampai kamu hilang akal seperti ini?" Suara kakek semakin meninggi.
"Naqi akan memilih Rania, karena sekarang dia lebih butuh Naqi....
Plak... plak... tamparan keras mendarat di pipi Naqi. Menyebabkan pipinya panas dan memerah.
Sementara Cyra di balik pintu tidak bisa membendung air matanya ia mematung bak sebuah manekin yang tidak sadar air matanya telah membanjiri pipinya. Hatinya telah hancur. Hancur tak berbentuk, ia pikir Naqi pulang akan memperbaiki hubunganya, walaupun hatinya telah retak, tetapi Cyra akan berusaha memaafkan dan melupakan kejadian yang telah berlalu, tetapi setelah mendengar penuturan Naqi barusan, dia sudah tidak tau harus memaafkan yang mana, ia sudah tidak bisa melupakan semuanya. Seketika itu ingatanya berputar dengan kesalan-kesalahan Naqi. Dadanya bergemuruh ingin ikut memakin suaminya. Namun Cyra tidak bisa melakukanya, bukan karena takut, tetapi bibirnya seketika kaku, tubuhnya pun tidak bisa bergerak saking syoknya mendengar penuturan Naqi. Ia pikir Naqi cinta denganya, ternyata dia tidak ada ubahnya hanya rumah singgah bagi Naqi.
Mamih pun hanya bisa menangis, ia tahu betul gimana perasaan Cyra. Karena nasib Cyra adalah gambaran dari dirinya, tapi bedanya Mamih sudah tidak peduli dengan suaminya, ia bertahan di rumah ini karena papah mertuanya dan anak-anaknya.
Qari dia tidak menangis, tetapi hatinya seketika itu membenci Abangnya. Abang yang di dalam hatinya ia jadikan contoh, tetapi malah mencontohkan hal yang menjijihkan. Mempermainkan jaji dengan Tuhanya.
"Kek, aku memilih Rania ada alasanya, dia sakit. Dia nggak ada siapa pun lagi yang perduli dengan dia. Dia hanya butuh aku sekarang. Aku tidak tega meninggalkan dia Kek." Naqi berusaha meminta pengertian pada Kakek setidaknya agar kakek tau alasnya memilih Rania.
"Alasan apa ini Naqi. Kamu tidak tega meninggalkan Rania karena sakit? Tapi kamu tega meninggalkan istrimu dan membuat ia sakit? Kamu gila memang yah. Kamu gila. Udah lebih baik kamu pergi dari sini. Aku nggak butuh cucu gila di rumah ini." Kakek sudah benar-benar kecewa dengan Naqi. Memang pada dasarnya Luson pun pergi karena kakek yang mengusirnya, maka Naqi pun akan mendapatkan perlakuan yang sama, apabila membuatnya kecewa. Hal itu sudah berhasil Naqi lakukan, jadi sangat wajar kakek melakukan itu juga pada cucunya.
Naqi pun tidak bisa membela diri lagi akhirnya ia pun naik ke kamarnya guna mengambil pakaiannya dan beberapa barang berharga yang ia bisa gunakan untuk memenuhi kebutuhanya. Sementara Cyra di luar duduk dilantai menangis dengan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kakinya. Ia tidak berani masuk ke dalam rumah itu, sehingga Cyra memilih menunggu di luar rumah.
Tidak memakan waktu lama Naqi kembali turun dengan tas berisi pakaianya.
__ADS_1
"Mih maafkan Naqi, kalo Naqi membuat Mamih kecewa, Naqi akan selalu sayang sama Mamih." Naqi berjongkok di lantai sementara Mamih duduk di sofa.
Mamih tidak menjawab apa pun. Mamih hanya bisa menangis dan menyembunyikan wajahnya, kekecewaanya sudah sangat mendalam. Ia berfikir bahwa ia telah gagal mendidik putranya.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Mamih kini Naqi beralih pada Qari.
"De, Abang titip keluarga, terutama Mamih, jaga Mamih. Maaf Abang mengecewakan kamu. Abang tidak bisa memberi contoh yang baik dengan pernikahan Abang. Kamu benar pernikahan Abang dan Cyra hanya permainan, yang kapan saja bisa diakhiri." Naqi mengingat semua ucapan adiknya.
"Hemzzz...." Hanya deheman yang keluar dari bibir Qari entahlah artinya apa.
"Jangan lupa kamu ceraikan Cyra, dia juga butuh kepastian. Dia butuh kehidupan yang baru." Sebelum pergi keruang kerjanya Kakek mengingatkan Naqi agar menceraikan Cyra.
Setelah itu kakek pergi meinggalkan Naqi, pikiranya terlalu pusing menghadapi cucu laki-lakinya. Ia heran kenapa anak dan cucunya bisa-bisanya memiliki sifat menjijihkan seperti itu. Sementara ia sendiri jangankan memiliki kekasih lain selain istrinya. Dia ditinggal meninggal sejak muda saja tidak bisa melupakan kisa cinta mereka. Bahkan Kakek berjanji tidak akan menikah lagi sampai maut datang menghampirinya. Tak lupa ia juga berdoa bisa bertemu lagi di surganya Allah kelak.
Namun justru hal itu berbanding terbalik dengan anak, cucunya. Seolah mereka bukan dilahirkan dari seorang perempuan, yang dengan mudah mereka menyakiti hati perempuan demi perempuan lain.
Naqi pun akhirnya melangkah keluar rumah Cyra kini di luar sudah menghwpus air matanya dan berdiri seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi ia lupa matanya yang sembab tidak bisa bohong bahwa ia sejak tadi menangisi nasibnya.
Naqi yang menegtahui bahwa Cyra ada diluar pun kaget. Naqi mendekat pada Cyra. Ia seketika memeluk Cyra. Cyra hanya mematung tidak bisa menghindar lagi, tetapi juga bukan karena senang dipeluk sama laki-laki yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku, akhirnya aku mewujudkan mimpi terburuk kamu. Aku orang paling jahat yang pernah kamu kenal. Aku melakukan ini semu karena Rania yang tengah sakit, dia sakit parah dan tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya aku yang dia punya. Dia tidak sekuat kamu. Dia hati dan fisiknya sangat lemah aku tidak tega meninggalkanya. Aku melepaskanmu bukan karena aku tidak sayang sama kamu. Kamu wanita yang aku sayang, bahkan kamu sudah membuat aku mencintai kamu. Tapi aku tidak bisa memiliki kamu juga, karena kamu pasti akan sakit dengan keputusan aku. Kamu pantas bahagia, dengan orang yang bisa membuat kamu bahagia, dan menerima kamu apa adanya. Berjanjilah Cyra kamu akan bahagia dengan siapapun itu. Maaf selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik. Aku selalu menyakiti kamu." Naqi menahan sesaknya. Lalu ia melepas pelukanya pada Cyra. Ketika tahu bahwa Cyra tidak merespon apapun. Bahkan air mata tidak lagi keluar dari sudut matanya.