
Ipek setelah melewati perjalanan udara selama kurang lebih sebelas jam kini Cyra sudah tiba di Jeju Internasional Airport. Di sana juga Cyra sudah di tunggu oleh orang kepercayaan kakek, semua yang mengurus keperluan mommynya dan dirinya nanti adalah Mr Kim yah, beliau adalah orang yang akan sering bersama dengan Cyra karena memang Cyra yang tidak tahu daerah sini, dan juga semua keperluan akan di urus oleh beliau.
Ini adalah perjalanan pertama Cyra menggunkan pesawat, mabok, dan tidak nyaman Cyra rasakan selama berada di pesawat. Mungkin orang-orang yang di dalam persawat heran karena baru liat Cyra yang terlihat katro. untung ada Miss Hana yang bersedia mendampingi Cyra selama di pesawat, dan baru Cyra tahu juga ternyata miss Hana memang di minta oleh kakek untuk menemani Cyra melewati perjalanan yang cukup lama. Cyra sebelumnya tidak memikirkan bahwa perjalanan ke negara K akan selama ini.
Cyra pikir perjalanan akan di tempuh satu atau dua jam ternyata sampai lebih dari sebelas jam, dan mengerikanya pesawat yang Cyra tumpangi terjadi Tutrbulensi, Cyra akan ketakutan yang luar biasa untung Miss Hana bersedia mendamPingi Cyra dan menjelaskan bahwa hal itu wajar dan tidak berbahaya.
Cyra heran kenapa teman-teman yang lain di dalam pesawat bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan nikamat, sedangkan Cyra benar-benar tidak bisa tidur. Ia merasakan panik yang berlebih ketika pertama kali naik pesawat dan langsung dengan perjalanan yang tidak sebentar. Rasanya Cyra ingin melompat keluar dan terbang sendiri. Cyra bahkan tidak mempersiapkan sebelumnya bahwa perjalanan akan semengerikan ini. Cyra terlalu percaya diri sehingga ia lupa bahwa ini kali pertama ia mencoba transportasi udara itu.
Padahal Cyra belum sampai pada tempat tujuan, tetapi ia sudah memikirkan bagaimana nanti kalo dia pulang ke Indonesia. "Apa ini semua tidak ada perjalanan darat yah, aku rasanya tidak sanggup kalo harus naik pesawat lagi," gumam Cyra sembari memegangi perutnya yang kembali mual.
Cyra duduk di kelas bisnis di mana di dalam pesawat ia mendapatkan fasilitas yang terbaik, dari makanan dan lain sebagainya, tetapi karena ini Cyra pertama kali berada di dalam pesawat sehingga tidak ada rasa nikmat untuk makan atau yang lainya. Walaupun makanan yang ada di dalam presawat adalah makanan yang mungkin saja super enak dan penampilanya mewah, tetapi Cyra tidak bisa menikmaati semua itu, untuk mencicipinya saja Cyra tidak mengingikanya. Yang ia inginkan adalah buru-buru sampai tempat tujuan.
Perutnya payah dan ia tidak bisa merasakan nyamanya naik pesawat terbang biar pun berada di class bisnis yang digadang-gadang kelas ternyaman dan termahal dibanding yang lainya.
Cyra apabila bisa, akan memilih menggunakan perjalanan darat, karena menggunakan mobil atau ojek lebih nyaman.
__ADS_1
Begitu sampai di bandara Cyra yang sudah di tunggu oleh Mr Kim, dan Mis Hanna yang terus menemani Cyra, terlebih setelah Cyra yang mabok, selama perjalanan udara membuat Cyra benar-benar kacau.
Mr Kim pun memutuskan agar Cyra beristirahat lebih dulu di hotel, nanti apabila sudah mendingan dan kondisi tubuhnya sudah fresh akan dilanjutkan ke rumah sakit terbesar dan terbaik di kota itu.
Tuan Latif benar-benar sudah mempersiapkan kota itu untuk Cyra dan Mommy'nya melewati pengobatanya, karena menurut kakek kota yang terkenal keindahan alamya sangat bagus untuk proses penyembuhan mommy'nya Cyra dan juga Cyra yang hati dan perasaanya tengah tidak baik-baik sajah. Cyra yang dalam hatinya juga terluka karena ulah cucunya butuh mengunjungi tempat-tempat yang indah seperti di pulau ini yang terkenal detinasi wisata yang memukau.
Kita tinggalkan Cyra yang tengah berada di negara opa-opa tampan, kita balik lagi ke negara tercinta.
Di rumah sakit tempat Rania dirawat
"Tapi itu kenyataanya Pih, bukanya kamu yang bilang bahwa anak Nasila adalah anak kamu, berati Rania adalah sodara aku, karena Ibu Rania namanya juga Nasila. Kenapa malah papih berkata seolah aku yang mengada-ngada dengan semua yang terjadi. Padahal semua karena ulah kamu. Kamu adalah orang yang telah menghancutkan semua impian anak-anakmu. Kamu tahu Pih, karena kesalahan papih, aku hampir menikahi kakak'ku sendiri. Aku juga meninggalkan istriku yang aku cintai demi Rania tetapi kenyataanya Rania adalah kakak aku Pih. Apa papih masih terus mau melakukan kesalah yang sama. Membiarkan anak-anak lahir tanpa tahu siapa ayahnya? Mau berapa lagi anak yang bernasib seperti Rania?" bentak Naqi dengan suara yang menggema di ruangan yang tidak seberapa luas itu.
Bahkan kalo Naqi tidak ingat kalo ini ruangan orang lain pasti dia sudah gebrak meja. Untung dia setidaknya sadar bahwa barang-barang disini jangan sampai rusak karena ini kantor orang lain.
Luson begitu Naqi membentak di depan wajahnya tentu tahu bahwa putranya berbicara sesuai fakta dan tidak mungkin Naqi berbohong. "Di mana Rania sekarang?" tanya Papih dengan lirih.
__ADS_1
"Ikut aku!" ujar Naqi sembari berdiri menuju ruangan Rania. Setidaknya biarkan Rania tahu dulu bagaimana wajah papahnya yang selama ini dia ingin temuai. Apakan Luson setelah tahu kenyataan tentang Rania bisa merubah tabiat buruknya. Semoga sajah ia sadar karena kelakuanya banyak anak-anak yang menderita salah satunya mungkin Rania. Yang Naqi takutkan akan ada Rania lain.
Luson pun mengekor di belakang Naqi, padahal wajahnya masih babak belur.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Naqi sudah ada diruangan Rania. Ia membuka ruangan itu di mana Rania tengah meringkuk, wajar sajah dia tidak sembuh-sembuh fikiranya setres terus dengan kelakuan papah'nya. Naqi masuk menghampiri Rania.
"Kamu pengin tahu siapa Papah'mu kan? Ini aku bawa buat kamu, tapi tolong nasihati dia agar dia segera bertaubat. Ketika dia tua nanti yang dia cari adalah keluarganya mau sampai mana ia menyakiti keluarganya," ucap Naqi sengaja dengan suara di buat lantang agar Luson mendengarnya. Tapi walaupun berbicara pelan pun Luson akan mendengarnya itu semua karena ruangan rawat Rania tidak besar sehingga pasti berkata pelan saja sudah terdengar.
Rania berbalik badan, di mana wajahnya terlihat sembab pasti ia telah menangis.
Luson mendekat, "Maafkan Papah, sudah membuat kamu seperti ini. Papah banyak salah dengan kamu dan Ibu kamu. Papah seharusnya tidak melakukan ini semua, pasti kamu marah sekali sama Papah yah?" ucap Luson dengan suara lirih, tetapi Naqi bisa mendengarnya padahal Naqi berdiri di balik sendela menatap keluar rumah sakit. Ia sengaja tidak keluar ingin tahu apa yang akan Luson katakan dengan kakaknya. Biar kalo ada kata-kata yang tidak sesuai dengan yang Naqi suka bisa langsung mebalikanya.
"Maafin dari yang mana? Anda meninggalkan Ibu saya? Anda menelantarkan kami atau dari yang mana Tuan? Aku pernah berdoa sebelum saya menyusul Ibu, saya ingin bertemu dengan papah kandung saya tetapi setelah doa itu di kabulkan kenapa saya menyesal telah berdoa seperti itu, kenapa saya tidak berdoa biarkan saja saya cepat menyusl Ibu. Karena di dunia ini tidak ada yang menginginkan keberadaan saya. Saya seolah menjadi manusia yang tidak diharapkan keberadaanya. Bahkan sama Papah sendiri pun seolah kehadiran saya tidak diinginkan. Begitu bukan Tuan. Anda tidak menginginkan kehadiran saya?" tanya Rania dengan kedua bola mata menatap tajam ke arah Luson.
Bahkan Naqi yang melihat pun tidak menyangka bahwa Rania akan berkata demikian. Naqi mengira Rania akan memaafkan Luson. Yah, setidaknya Naqi ada rasa lega Rania cukup tegas dengan Luson, biarkan laki-laki itu tahu bagaimana rasanya dibenci oleh anak-anaknya. Segitu Qari belum ikut bertindak bagaimana jadinya apabila Qari ikut membenci Luson, pada siapa nanti ia akan berlindung ketika usia senja. Mungkin saat ini ketika tenaganya masih kuat dan ia masih bisa menikmati keindahan dunia ia lupa dengan anak dan istrinya, tetapi ketika dia suda senja, tenaga sudah berkurang, keluarga adalah tempat pulangnya juga kan. Lalu kenapa Luson tidak mau memihak keluarga dan meninggalkan dunia yang sesaat itu, tetapi justru meninggalkan dosa yang besar.
__ADS_1