
Qari terlonjak kaget ketika mengetahui bahwa Abang dan mamihnya masih menunggunya di ruang keluarga. Lalu apa gunanya ia berjalan dengan mengendap-endap seperti maling, kalo ternyata dari balik gelapnya ruangan itu dua pasang mata tengah memperhatikan gerak geriknya.
"E... Itu Bang, Qari kejebak di atap gedung," jawab Qari dengan terbata, tatapan abang dan mamihnya membuat mentalnya ciut dia tidak biasa di tatap seperti itu. Ini adalah kali pertama ia di perlakukan seolah-olah ia adalah seorang maling yang ketahuan telah mencuri.
"Alasan apa itu? Dengan entengnya mencari alasan yang sangat tidak masuk akal. Kamu pikir aku anak kecil yang bisa dengan mudah kamu bohongi dengan karanganmu. Sejak kapak kamu jadi kuli bangunan sehingga bisa terjebak di atap gedung?" tanya Naqi, tentu saja pertanyaan itu hanya ejekan semata. Naqi tidak percaya dengan ucapan Qari, Naqi mengira bahwa jawaban yang Qari ucapkan adalah karangan semata, agar mamih dan abangnya percaya.
"Tapi itu kenyataanya Bang, Qari tidak sengaja terkunci di atap gedung itu dan Naqi tidak bisa keluar," bela Qari dengan suara hampir mengimbangi Abangnya yang tengah emosi itu.
"Lalu ponsel kamu kenapa mati Qari, apa kamu tidak tahu gimana cemasnya mamih? Mamih khawatir sesuatu terjadi dengan kamu. Mamih takut kamu kenapa-kenapa. Kamu perempuan, mamih takut sesuatu hal buruk menimpa kamu," ucap mamih masih dengan posisi duduk di sova, seolah wanita paruh baya itu tidak kuat lagi untuk bediri. Naqi yang tengah berdiri berhadapan dengan Qari pun mencoba menenangkan mamih agar tidak terlalu kefikiran dengan kondisi Qari. "Sabar min, Qari pasti baik-baik saja kok. Naqi kan sudah janji sama mamih bakal menjaga Qari," ucap Naqi dengan memeluk mamih. Mamih pun diam dalam pelukan Naqi. Ia ingin menangis tetapi ini bukan tempat yang tepat untuk menangis. Tempat untuk menangis adalah di dalam kamarnya bukan di dekapan dada putranya.
"Maaf Qari Mih, Qari bahkan lupa untuk menyalakan ponsel lagi. Qari memang tadi pergi dalam keadaan marah, tapi sebenarnya Qari tidak marah sungguhan kok Mih, Qari hanya kesal sesaat dan ingin menenagkan diri di atap gedung itu, tetap malah ada yang enggak sengaja mengunci dari dalam, jadi Qari baru bisa pulang sekarang." Qari mendekat dan bersimpuh di hadapan mamih. Tanganya ia letakan di pangkuan wanita hebatnya. Rasanya ia ingin menuangkan semua sesaknya, sesak ketika mencintai laki-laki, tetapi laki-laki itu tidak mencintainya balik.
__ADS_1
Namun bukan itu saja yang membuat ia marah dan kesal. Laki-laki itu selalu manis dengan perempuan lain dan merasa jijik ketika dengan Qari, memang sebaiknya ia sadar diri ketika laki-laki sudah tidak mencintainya, maka langkah terbainya pergi dan mengamankan hatinya agar tidak terlalu sakit lagi, tetapi pada kenyataanya cinta tidak sesimpel itu. Justru seolah cinta terus membuat hatinya semakin berdarah. Cinta tidak bisa di bikin simpel karena rumus cinta memang rumit.
"Lain kali, tolong hubungi mamih, apapun itu beri tahu mamih. Agar mamih tidak terlalu khawatir. Mamih takut kamu kenapa-kenapa, kamu anak gadis sangat rawan kalo kamu pergi selarut ini," ucap mamih, berusaha berbicara sangat pelan agar Qari tidak merasa di hakimi dan terlalu di kekang.
Qari pun mengerti kecemasan mamih dan dia akui dia memang salah tidak mengabarkan di mana berada, padahal apa susahnya sih mengirimkan pesan agar mamih dan Abangnya tidak cemas.
"Apa kamu tidak bisa mencontoh Rania, dia bisa di nasehati. Tidak seperti kamu yang hidup semaunya." Suara berat mengagetkan Qari. Gadis dua puluh lima tahun itu baru tahu kalo papihnya ada di rumah ini. "Sejak kapan Luson datang? Apa begini kelakuanya datang dan pergi sesuka hati," batin Qari tidak ingin sebenarnya berurusan dengan pria itu.
Mamih yang memang sedikit pusing memilih mengikuti Naqi dan membiarkan suami dan anaknya. Mereka sudah besar jadi pasti tahu kapan harus pergi mengalah. Seperti itu kira-kira dugaan mamih.
"Rania? Di nasehati? Nasihat seperti apa yang dia dengar? Kalo dia dengar nasihat orang. Mana mungkin dia membuat pernikahan abangku dan kakak iparku hancur. Seperti itu yang kami sebut bisa si nasihati?" bentak Qari, mana terima dia di samakan dengan mak lampir. Duduk bersebelahan dengan Rania saja dia ogah apalagi harus di samakan dengan sifatnya. Tentu Qari tetap yang terbaik....
__ADS_1
"Itukan dulu, sekarang dia sudah berubah. Dia sekarang jauh lebih baik, dan kamu harusnya mencontoh dia," ucap Luson, suranya tetap keras. Menandakan bahwa ia terpancing dengan kata-kata Qari. Seharuanya ia tidak terpancing karena memang dia yang memulai duluan memancing pertengkaran ini.
"Sekarang tobat, setelah berhasil membuat Abangku bercerai dan hidup dengan kenestapaan. Lalu, coba tanya sama Rania, laki-laki mana yang sudah ia puaskan, atau jangan-jangan Anda juga sudah di puaskan oleh wanita yang mengaku darah daging Anda. Jangan-jangan dia mengaku anak dari Anda agar bisa bebas tinggal di rumah ini dan Anda kapan saja bisa menjamahnya," ucap Qari dengan kata-kata dan nanda bicara mengandung profokasi, yah tujuanya untuk membungkam mulut Luson, tetapi mungkin memang yang di bicarakan Qari ada benarnya. Terlalu mencolok, seorang papah keluar dari kamar anak perempuanya di jam selarut ini. Membicarakan apa mereka sampai lupa waktu, itu yang membuat Qari bertanya-tanya dan menebak-nebak sampai ke arah sana.
Plak... Plak... Tamparan keras dua kali Qari terima, matanya panas lebih panas dari pipinya yang di tampar oleh papahnya sendiri. Ini adalah tamparan pertama. Selama ia di besarkan oleh kakek dan mamihnya, senakal-nakalnya ia dulu saat sekolah tidak sekali pun mereka melayangkan tamparan. Qari memang di hukum di omelin tetapi bagi Qari hukuman dari mereka masih bisa di tolerin. Bukan seperti papihnya yang membela satu anaknya dengan cara menyakiti anak yang lain. Sangat di sanyangkan caranya tidak adil dalam meperlakukan anaknya.
Qari memegangi pipinya, matanya berkaca-kaca. "Kamu mungkin berhasil jadi papih buat anakmu Rania, tapi kamu gagal menjadi seorang papih buat aku," ucap Qari dengan nada sangat kecewa. Ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan rumah mewah itu. Hatinya terlalu sakit di perlakukan oleh papihnya seperti itu. Kalau memang memang itu kesalahan yang fatal dari Qari, dan papihnya menghukumnya dengan dua kali tamparan Qari akan terima, tetapi yang bikin Qari tidak terima adalah papihnya menampar demi membela anak lainya, dan bukan satu rahim dengan dirinya.
"Terima kasih Pih, papih sudah menyadarkan aku, bahwa aku memang sudah tidak memiliki papih," lirih Qari air matanya luluh seiring memorynya mengingat kebaikan mamihnya. Andai bukan karena mamihnya sejak dulu ia tidak mau menyapa pada pria itu. Karena mamih saja yang menasihati agar tetap sopan, tetapi rasanya mulai sekarang dia akan membangkang dengan ucapan mamihnya.
#Yang belum mampir ke Novel othor yang baru mampir yuk #CINTA Diambang DERITA#
__ADS_1
beri dukungan buat Zifa yah biar dia sekuat Cyra dalam menghadapi cobaan yang bertubi-tubi itu....🙏🙏