
"Ya ampun Mas, padahal enggak usah repot-repot. Lagian ini itu bukan sedikit, tapi banyak banget," ucap Cyra, merasa tidak enak karena malah Naqi membelikan makanan untuk keluarganya juga.
"Kata orang sunda, pamali nolak rezeki. Alias enggak bolak rezeki," balas Naqi, biar Cyra tidak protes terus, lagian ini tidak seberapa di bandingkan nanti dapatnya kalo caranya berhasil. Dapatnya tentu berkali-kali lipat dari sogokan yang Naqi berikan saat ini tentunya.
"Kalo gitu makasih yah Mas, semoga perbuatan baik berbalas baik juga buat Mas Naqi." Doa Cyra, dengan tulus.
"Amin," balas Naqi.
****
"Aku ikut turun kan, buat jelaskan kalo tadi mampir buat isi tampungan bahan bakar dulu?" tanya Naqi begitu mereka sudah sampai di depan rumah Cyra. Lagian juga Naqi ingin bersilahturahmi dengan keluarga Cyra. Meskipun sepertinya apabila ada Meta dia harus siap dengan ocehanya yang bisa sajah mengetek kekuatan gendag telinganya.
Cyra nampak berfikir, di dalam hatinya masih belum siap dengan pertanyaan introgasi dari orang-orang di rumahnya. Tetapi juga rasanya lebih tidak sopan lagi kalo Naqi mengantar dan jemput kerja tanpa menyapa keluarganya, sopan santun yang terkenal dari negri ini seolah telah pudar dan digantikan dengan budaya barat.
"Kalo aku tidak mampir, enggak sopan Ra, boleh yah mampir. Setidaknya bantu kamu bawa makanan ini," ucap Naqi sembari melirik makanan yang ada di kursi belakang, fikiranya juga sama dengan yang difikirkan Cyra.
Cyra mengangguk menandakan bahwa ia juga setuju dengan apa yang Naqi katakan.
****
Di dalam rumah Meta yang sudah menunggu sejak tadi kepulangan Cyra, begitu mendengar suara mobil mewah langsung beranjak dari duduknya dengan menggendong Mesy. Wajah garang mengerikan Meta tunjukan terlebih ketika melihat wajah Naqi yang sedang tertawa bersama Cyra, sedang membawa makanan yang masih mengepul mengeluarkan asap dan aroma yang menggoda, bahkan rasanya Cyra sudah lapar lagi ketika mencium aroma makanan yang sangat lezat itu.
"Cuih... Sepertinya ada yang lagi berusaha membawa makanan untuk sogokan," gerutu meta dari balik kaca jendela, tapi tak ayal fikiranya girang juga dapat makanan geratis.
Naqi dan Cyra membawa makanan sembari bercerita ringan, tidak lupa juga sesekali tercipta senyum yang manis dari keduanya.
Ehem... Ehem... Deheman Meta yang berdiri di samping pintu, seketika mengagetkan Cyra dan Naqi. Langkah kaki mereka terhenti sejenak. Ada rasa yang aneh darahnya seolah berdesir, dan Meta hari ini benar-benar seperti monster sehingga membuat bulu kuduk Naqi dan Cyra berdiri.
"Dari mana ajah?" tanya Meta dengan dingin sementara tanganya masih menimang-nimang Mesy dan tangan satunya menepuk-nepuk bokong Mesy agar tidak menangis ketika Dadynya sedang berekting marah. Karena marahnya bukan sama anaknya tetapi sama Naqi dan Cyra.
"Kerja," jawab Cyra singkat.
__ADS_1
"Kerja? Tapi tadi enggak ada di tempat kerja?" tanya Meta dia hanya mengada-ada, tentu dia tidak mengecek. Buat apa juga lagian sudah ketahuan perginya sama N 4 QI kalau sampai Cyra pulang ada yang kurang, sudah jelas pelakunya pemilik kendaraan dengan plat nomor yang dibuat khusus tersebut.
"Emang ketempat kerja?" tanya Cyra wajahnya sudah mulai cemas, sementara Naqi lebih terlihat santai biarpun dalam hatinya tidak sesantai wajah yang ia tunjukan.
"Kamu pikir aku bisa tahu kamu tidak ada dari mana, kalo tidak ke tempat kerja kamu?" tanya Meta semakin ketus nada bicaranya.
Sementara Mesy sejak tadi matanya menatap Meta tanpa kedip, mungkin anak bayi itu heran kenapa Dadynya marah-marah. Dan dia fikir tengah memarahi dia. Bibir bawahnya di maju-majukan seolah tangis anak kecil itu akan pecah. Ketika Meta diam bibir mungilnya kembali dimajukan dengan wajah dibikin sebegitu menyedihkanya. Eeeeaaaa... tangisan anak bayi itu benar-benar pecah nyaring membengkakan telingan yang ada disekitarnya. Namun anak bayi itu justru tertawa setelah Meta memarahin Cyra dan Naqi yang tengah menahan tawa karena kelamuan Mesy.
"Apa kalian ketawa-ketawa. Aku masih marah yah sama kalian yang pergi tanpa izin dari kami dan bahkan kamu Naqi itu bawa apa?" tanya Meta, hidungnya sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi. Sehingga emosinya kalah dengan aroma nasi liwet dan ikan asin yang tercium jelas diingatanya. Sambal terasi pun tidak mau kalam menggoda penciuman Meta.
"Ini ada nasi liwet, makanan khas sunda, tadi sempat mampir makan dan kayaknya kalo kalian makan malam pakek makanan khas sunda cocok. Jadi aku pesan juga buat makan malam kalian di rumah," jawab Naqi kali ini suaranya halus dan nada bicaranya sopan. Tidak seperti satu tahun lalu di mana ia mendatangi Meta guna mencari keberadaan Cyra. Kata demi kata yang keluar dari bibir Naqi seolah mengandung tantangan untuk mengajak du-el Meta.
"Sogokan?" tanya Meta, dengan nada jutek.
"Apaan sih Met ini itu murni Naqi hanya ingin memberi, tanpa mengharap apa-apa kok, kenapa kamu jadi sensi gitu sih." Cyra yang merasa semakin kelewatan, dan bukanya bersyukur, karena Naqi berbaik hati membelikan menu makan malam malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Kalo cinta emang gitu yah, baru di sogor nasi liwet sama ikan asih ajah udah luluh, padahal cinta tidak semurah itu," sindir Meta, tetapi rasa lapar karena aroma makanan yang mereka bawa membuat fokus marahnya semakin melemah. Wangi makanan yang Naqi bawa bener-benar jahanam banget, sampe-sampe fokusnya langsung menguai dan cacing-cacing di perutnya langsung berdemo ingin mencicipi makanan itu.
"Anakku sama Fifah," ucap Meta masih dengan Nada jutek, padahal Naqi tidak bertanya anak siapa yang tengah di gendong Meta.
"Hay cantik, kok kamu cantik sekali sih..." Sapa Naqi menyapa anak cantik itu yang tengah asik memasukan tangan kedalam mulutnya, seolah tangan itu adalah es cream dengan rasa paling enak.
"Maksud kamu apa, Mesy yang cantik kaya gini, terus kamu ragu kalo belum pasti anak gue, gitu?" tanya Meta dengan sensi ketika Naqi menyapa anaknya itu.
Naqi heran Meta itu marah-marah terus kayak wanita lagi datang bulan. Selanjutnya Naqi berjalan tidak menaggapi lagi Meta, karena hanya akan bikin semuanya runyam di mana Meta memang bawel banget.
Cyra pergi ke dapur guna memanggil mommy dan mamah Mia. Cyra juga memberi tahu bahwa malam ini tidak usah memasqk karena ia sudah membawa makanan untuk makan malam. Sementara Fifah dan Qila tengah bersih-bersih di kamar masing-masing jadi belum bisa bertemu dengan Naqi, mungki lain waktu.
Naqi pun terkejut ketika melihat perempuan sangat mirip dengan Cyra, mungkin yang membedakan hanya wajah yang nampak lebih berumur dibanding Cyra yang benar-benar masih kayak bocil.
"Itu mommy Cyra. Mas Naqi banyak melewatkan kisah yang Cyra alami sejak saat itu Mas Naqi memilih Mba Rania, dan meninggalkan Cyra. Dari situ fakta demi fakta terungkap sampai Cyra tahu bahwa mommy Cyra masih hidup." Jelas Cyra ketika melihat Naqi kebingungan.
__ADS_1
"Maaf yah Ra, aku tidak ada disaat kamu membutuhkan aku," lirih Naqi dengan rasa sangat bersalah.
"Semuanya sudah berlalu dan kini saatnya kita menata hidup ke jalan yang lebih baik lagi," jawab Cyra tidak mau terus terjebak dengan kenangan buruk di masa lalunya.
Naqi setidaknya sedikit lega karena itu tandanya Cyra tidak menyalahkanya terus menerus.
"Mommy, mamah. Kenalin ini Naqi." Cyra memperkenalkan Naqi ke kedua ibunya. Naqi pun setelah meletakan makananya di atas meja tidak lupa memberikan salam dengan taksim. Mommy bahkan baru tahu bagai mana wajah mantan suami Cyra, yang ternyata sangat tampan. Pantas saja anaknya susah move on.
Cyra dan Naqi beserta mamah dan mommy pun mengobrol bersama di ruang keluarga. Mereka mengobrol santai tanpa membahas semua yang sudah terjadi. Sementara Meta yang masih mengayun ayun Mesy di gendonganya pun kembali melirik-lirik kearah meja makan. Perutnya lapar, tapi gengsi kalo masih ada Naqi di sini. Tak henti-hentinya Meta mengumpat Naqi yang tak kunjung pamit pulang, terlebih ketika laki-laki itu terus mengobrol bahkan sesekali terdengar canda tawa dari keempat orang yang sedang mengobrol hangat.
"Ehem... Mesy, nanti kalo kamu punya temen laki-laki di bawa kekeluargamu untuk kenalan, bilangin kalo udah mau magrib pulang. Tau waktu yah kalo berkunjung kerumah orang," sindir Meta, dengan suara kencangnya, kebangetan kalo Naqi tidak tersindir pikir Meta. Perutnya sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi. Jadi dia harus memutar otaknya untuk mengusir Naqi.
Benar saja setelah mendengar sindiran Meta pun Naqi akhirnya berpamitan dengan semuanya.
Tidak lupa Naqi berpamitan dengan Meta. "Met, gue pulang yah terima kasih buat sambutanya," ucap Naqi dia juga tidak lupa mengeluarkan sindiran buat Meta. Naqi tahu bahwa Meta memang tidak benar-benar marah.
Hemz... hanya deheman yang Meta berikan sebagai jawabanya. Naqi diantar oleh Cyra berjalan bersamaan, setidaknya Cyra mengantar sampai depan rumahnya.
"Qi.." Namun belum sempat Naqi benar-benar keluar, laki-laki itu sudah dipanggil lagi oleh Meta, nadanya sih masih jutek.
Naqi dan Cyra berbalik arah menatap dengan penuh pertanyaan, ada apa gerangan Meta memanggil dirinya.
"Enggak, cuma mau kasih tau. Martabak terang bulan yang berada di bertigaan mau masuk komplek, itu martabak terenak di daerah sini, apa lagi martabak telor sebelah yang sepesial rasanya paling mantul. Bebek bakar khas Jogja sebelahnya lagi juga belum ada tandinganya tuh rasanya masih tetap juara. Sebelumnya juga suka ada durian Montong laris terus tuh. Teh tarik juara juga teh tarik paling cocok rasanya sama selera orang di rumah ini," ucap Meta, kode biar kalo mampir kesini tidak tangan kosong gitu.
Naqi terkekeh samar.
"Met, kamu mah malu-maluin ajah," ucap Cyra gemas kalo dia sedang berdekatan pasti sudah kena cubit tuh si Meta.
Sementara Meta tetap gayanya sok jaim. "Udah enggak apa-apa. Santai ajah," ucap Naqi menengkan Cyra agar tidak marah pada Meta. Lagian makanan-makanan itu masih tergolong sangat murah bagi Naqi.
Cyra pun dengan tatapan membunuh meninggalkan Meta yang tetap santai dengan Mesy digendonganya. "good job Dadymu itu Mey, kalo mau nyogok jangan tanggung-tanggung yah Met."
__ADS_1