
"Aduh... duh... enggak mau minum obat yang itu Mih. Itu pait banget mamih," protes Naqi setiap minum obat, padahal sudah mamih ancam-ancam dengan segala ancaman paling mematikan, tetapi tetap sajah dia apabila di minta minum obat akan merengek melebihi anak kecil.
"Kamu sebenarnya mau sembuh enggak sih Naqi? Kalau tidak mau sembuh setidaknya kamu malu lah sama Cyra dia setiap kamu minum obat itu dalam hatinya tertawa ngejek, apa enggak malu?" cicit mamih, ujian besar banget ketika memiliki anak seperti Naqi yang takut sama pait. Malah mungkin kalau mamihnya tidak sebawel itu ia akan membuang obat-obatnya dan berkata sudah meminumnya. Untungnya mamih sabar menunggu sampai anaknya benar-benar menelam obat-obat itu, meskipun taruhanya telinganya Naqi bakal berdenyut nyeri karena nyanyian merdu dari mamih tercintanya.
Ini adalah hari ke tujuh Naqi di rawat di rumahnya, tetapi walaupun Naqi tidak masuk kerja, setiap hari ia akan duduk bersandar di dashboard tempat tidur untuk menyelesaikan pekerjaanya dari rumah. Dan sudah dua hari ini Cyra tidak datang mengunjungi Naqi. Sementara perawatan Naqi benar-benar diambil alih oleh nyonyah besar. Cyra datang hanya untuk mengunjungi Mamih dan Naqi sebentar kemudian ia akan kembali pulang. Cyra juga sudah sedikit-sedikit kembali bekerja meniti karir seperti dulu hanya saja tidak bersama Meta. Meta ia tugasnya untuk mengurus perusahaanya. Sementara dirinya bekerja sesuai apa yang menurut hati nuraninya nyaman untuk di kerjakan.
****
"Ya Tuhan, kerjaan hari ini padet banget, badan pada pegal-pegal," adu Cyra pada Qila yang tegah duduk di ujung Sova.
"Aduh... Ra, sakit tau. Lagian kenapa sih duduk harus mepet kaya gini, udah kayak pasangan pengantin baru ajah penginya mepet-mepet terus," protes Qila sembari mendorong pundang Cyra dengan kedua tanganya agar Cyra bergeser ke samping. Sova panjang yang bahkan kalo di tempatin muat sampai lima orang itu pun ketika Cyra datang seolah menjadi mengecil sehingga harus duduk berhimpitan.
"Auw...Auw... Tidak bisa bergeser sudah kena lem mager ini pantatnya," elak Cyra sembari dengan sengaja justru mendorong tubuhnya seolaha hendak menindih Qila.
"Ra, aku jatuh nanti," cicit Qila sembari memegang sisi sova dan tubuhnya terhimpit oleh tubuh Cyra, di mana tubuh mereka sama-sama kecil. Qila yang hatinya sedang tidak baik-baik saja pun memberikan seulas senyum. Karena ulah sahabatnya itu, seolah memang Cyra tau bahwa di dalam hati terdalamnya Qila ia sedang menangis, tetapi ia pandai menyembunyikan kesedihanya sehingga tidak tampak apabila dilihat sekilas.
__ADS_1
"Jatuh cuma kebawah jaraknya paling tiga puluh senti dan kalo kamu jatuh aku ngejungel juga," jawab Cyra dengan isengnya meperagakan gaya apabila mereka jatuh benaran.
Qila terkekeh tetapi bersamaan dengan tawanya air mata pun jatuh, membuat pipinya terasa hangat oleh air matanya sendir. Cyra semakin yakin bahwa sahabatnya memang tidak sedang baik-baik saja. Qila sedang ada masalah.
"La, ada apa?" lirih Cyra, sementara Qila menundukan badanya dan kedua telapak tanganya di letakan di wajahnya. Gadis yang terlahir dari keluarga sedehana itu terisak tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihanya. Tubuhnya di biarkan bertumpu diatas kedua pahanya. Cyra mengelus punggung sahabatnya dengan sangat lembut, seolah ia sedang melakukan ritual mentransfer kekuatan untuk Qila.
Isakan Qila terdengar sangat pilu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Qila? Entah lah Cyra juga akan melemparkan pertanyaan yang sama ketika Qila sudah sedikit tenang. Semenjak Cyra mengenal Qila ini adalah kali pertama ia sesedih ini. Qila seolah kehilangan jati dirinya, gadis ceria dan cenderung pendiam itu telah berganti menjadi gadis yang penuh luka.
Cukup lama Cyra mendiamkan Qila, agar perasaanya sedikit membaik, mungkin saja setelah air matanya jatuh, kesedihanya akan ikut luluh bersama air mata yang jatuh di atas pipinya seolah tengah membuat aliran anak sungai yang deras.
"Aku tidak akan bertemu lagi dengan dokter Sam," jelasnya dengan suara serak dan setegah berbisik sisa tangisnya.
"Apa maksud kamu? Apa dokter Sam sudah meninggal?" tanya Cyra terus tanpa mengsengsor pertanyaanya. Apa yang ada di otaknya dia utarakan langsung. Qila ketika mendengar pertanyaan Cyra justru kembali menumpahkan air mata kesedihanya. Ia membayangkan apabila mantanya itu bernasib seperti yang Cyra katakan pasti sangat menyedihkan sekali, lebih menyedihkan dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Cyra semakin di buat bingung dengan keadaan Qila, apa sebenarnya terjadi pada gadis yang duduh masih berhimpit dengannya, kenapa bisa semelow ini? Seperti itu kira-kira yang ada di pikiran Cyra. Cemas, Cyra tentu sangat mencemaskan Qila. Tetapi sangat mungkin bukan kalo Cyra menebak kalo dokter Sam meninggal. Mengingat hari terakhir mereka menjenguk dokter tampan itu kondisinya sangat parah. Bahkan sepertinya untuk bernafas sajah Sam tersenggal-senggal seolah kesulitan untuk mengambil udara yang berjibun mengelilinginya.
__ADS_1
Qila mendengar pertanyaan seperti itu menjadi sedikit kesal, Cyra sangat tidak berperasaan bertanya dengan pertanyaan yang horor itu. Baru membayangkanya saja sudah sangat sedih apalagi kalo benar-benar terjadi? Oh tidak mungkin langit benar-benar sudah runtuh dan menindihnya. Qila berusaha mengatur nafasnya agar tidak bersedih terus menerus. Air matanya justru malah memperlihatkan betapa lemahnya dia tanpa Sam, sedangkan ia sudah berjanji bahwa akan move on dari Sam. Lalu kenapa baru mendengar kabar seperti ini dan pertanyaan dari sahabatnya ia sudah sangat bersedih seolah ia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Sam.
Lagian Cyra juga hanya mengutarakan pertanyaan yang mengganjal di dirinya, lalu apa pertanyaan Cyra ada yang salah? Tidak kan itu karena ia terlalu kaget dan otaknya langsung kenuju ke kemungkinan pertama itu. Jadi Qila jangan bersedih lagi, karena semuanya akan baik-baik saja apabila ia bercerita terus terang, tidak setengah-setengah sehingga membuat spekulasi yang aneh-aneh pada Cyra.
Setelah kesedihanya bisa di kontrolnya Qila menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Lalu? Ke mana Sam? Atau dia sudah menikah dengan rekan yang kecelakanan bareng Sam?" 'tapi rasanya tidak mungkin Sam dengan luka parah itu dan sang pasangan wanitanya juga separah itu lukanya bisa dengan cepat sembuh dan melangsungkan pernikahan' batin Qila menepis dugaanya sendiri.
Lagi, Qila mengelengkan kepalanya kali ini dengan bibir manyun dan seolah tengah kesal dengan Cyra yang dugaanya horor-horor sekali melebihi horornya malam jumat.
"Terus ajah enggak mau jujur, nanti aku pecat," ancam Cyra dengan nada dibikin seketus mungkin.
Qila menarik bibirnya menahan tawanya. Bos itu kali ini memang beda, gaya nya sudah berani songong.
Nah loh kan La, Cyra ngamook, kamu sih enggak mau jujur juga...
__ADS_1