
Setalah satu minggu Niko bermalam di rumah Fifah, kini giliran Niko kembali lagi pada istri pertamanya. Fifah sangat lega sebab selama satu minggu Niko tinggal di rumahnya, justru membuat Fifah tambah setres. Niko seolah-olah justru seperti laki-laki yang kehausan ***. Entah Niko yang memang memiliki libido yang berlebih, entah Fifah yang memang sudah hilang rasa dengan Niko. Sehingga hubungan yang Fifah rasakan tidak menemukan titik kenikmatan. Hanya rasa sakit dan jijik. Hari-hari yang dilaluinya antara Fifah dan Niko tidak jauh dari ranjang. Sehingga membuat Fifah merasa dirinya sangat tidak dihargai, karean hanya sebagai pemuas ranjang Niko. Niko akan marah apabila Fifah menolak kemauan'nya. Sedang setiap mereka bercinta Niko seolah kesetanan. Main hantam dan tanpa mimikirkan lawanya menikmati atau tidak.
Semenjak kejadian malam itu Niko memang semakin hari semakin aneh. Dia selalu memaksa ketika dalam berhubungan, seolah dia menemukan kebahagiaan apabila melihat Fifah memringis, menahan sakit dalam bercinta. Fifah ingin protes dengan cara penyatuan Niko. Namun ia takut kalo Niko akan tersinggung dan marah. Malah akan bermain lebih brutal. Bagai mana mau menikmati permainan kalo lawanya seperti orang yang kesurupan.
Begitu Rio pergi kerja dan ia sebelumnya mengatakan akan langsung pulang ke rumah Zoya, hati Fifah terlonjak bahagia.
"Akhirnya aku terbebas dari laki-laki hiper *** itu. Ternyata aku bisa merasakan enaknya ketik suami memiliki istri dua. Apa Niko kalo bermain dengan Zoya juga kasar begitu. Pantas saja Zoya mengizinkan suaminya menikah lagi. Mungkin memag dia kewalahan melayani nafsu birahi Niko yang nggak ada habisnya." Fifah bermonolog dalam batinya.
Ia hari ini akan bebas dari hukuman duniawi, yang sering orang sebut surga dunia. Namun belakangan menjadi neraka dunia karena permainan Niko yang sangat kasar.
"Kenapa aku belum hamil yah?" gumam Fifah dengan mengusap perutnya datarnya padahal pernikahanya sudah lebih dari satu bulan. Fifah sangat berharap dirinya segera hamil.
Ia kan pergi kedokter kandungan untuk memeriksakan kondisi rahimnya, sekaligus ia akan meminta pil penyubur kandungan. Agar ia cepat hami dan berpisah dengan Niko.
Sore hari Niko pulang kerja dan sesuai dengan. jadwalnya ia langsung mengunjungi rumah Zoya. Seperti biasa Zoya selalu menyambutnya dan mengembangkan senyum manisnya di depan pintu rumah. Sebelumnya Niko pasti sudah mengirimkan pesan bahwa dirinya tengah dalam perjalanan menuju rumahnya.
Zoya merentangkan kedua tanganya, memberi kode agar Niko langsung menghambur ke dalam pelukanya di mana dia sudah benar-benar kangen.
"Hai... sayang." Niko langsung memeluk Zoya dan mengangkat tubuh mungilnya. Niko langsung membawa tubuh Zoya ke dalam kamarnya.
"Kangen banget sayang," ucap Zoya dengan menciumi wajah, bibir dan dada bidang Niko.
__ADS_1
Niko sangat menikmati itu. Tubuh capenya seolah langsung hilang dengan banyaknya ciuman yang Zoya berikan.
Rio merentangkan tanganya. "Udah lama sayang nggak di pijit, badah pada pegel semua." Niko memang biasanya akan di pijit oleh Zoya, tetapi belakangan Zoya tidak pernah melakukanya. Mungkin lupa atau memang dia juga tidak sempat.
"Mas, mau dipijit? Emang Fifah nggak pernah pijit Mas?" tanya Zoya dengan membuka pakaian suaminya satu persatu, agar dia bisa segera memijatnya. Tantunya pijat yang diakhiri dengan kringat kenikmatan.
Rio menggeleng, "Fifah tidak sepandai kamu dalam urusan pijit memijit," ucap Niko. Walaupun pada kenyataanya Fifah sudah berusaha memberika pelayanan terbaik, tetap saja bagi Niko masih kurang. Niko suka dengan pelayanan yang ero'tis dan mampu menciptakan pelayanan yang berfariasi bukan monoton hanya itu-itu saja. Fifah tipe orang yang tidak mau mencari tahu dengan permainan yang baru sehingga hasrat yang Niko sudah terbayangkan dengan petmainan yang panas sering berakhir dengan kekecewaan.
Berbeda dengan Zoya walaupun badanya yang lebih kurus dan aset-asetnya tidak sebesar milik Fifat, tetapi Zoya selalu membuat permainan yang baru dan tidak selalu berakhir buru-buru kadang malam lembut tetapi bisa memanjakan lawanya.
"Sayang kenapa kamu selalu ngertiin aku sih. Kamu itu wanita satu-satunya yang bisa membuat aku selalu bergaira. Cara kamu memberikan pelayanan padaku tidak pernah ada yang bisa menandingi," bisik Niko di telinga Zoya, sengaja tentunya agar Zoya mulai terangsang.
"Apa Fifah tidak bisa memberika pelayanan yang memuaskan buat kamu?" tanya Zoya ingin tahu.
"Bukan gitu, hanya sajah kamu dan dia berbeda cara memeberikan pelayanan pada aku. Kalian seperti dua orang yang sangat berbeda," lirih Niko sembati menikmati pijatan yang Zoya berikan.
"Tapi lebih nikmat yang mana?" tanya Zoya dengan penasaran, ia ingin tahu Niko lebih menyukai permaian siapa
"Dua-duanya enak, dan memiliki kelebihan masing-masing. Tidak ada yang lebih diantara kalian. Karena kalian dua orang yang berbeda pasti berbeda juga cara memberikan pelayanan, tetapi aku menikmati semuanya." Niko mencoba bersika netral. Ia tahu bahwa Zoya tengah menyelidik tentang hatinya pada Fifah. Niko harus berhati-hati untuk mengucapkan sesuatu jangan sampai Zoya atau Fifah merasa tersisihkan karena menjadi yang nomer dua atau merasa besar kepala karena dijadikan nomor satu.
Zoya pun tidak membahas lagi tetapi melanjutkan memijit suaminya.
__ADS_1
"Mas mau mandi sekarang?" tanya Zoya setelah hampir satu jam ia memijatnya.
"Ya udah, tapi mandi bareng yah?" Niko memainkan alisnya naik turun.
Karena tidak mau dicap sebagai istri durhaka Zoya pun mengikuti kemauan suami mandi bareng.
Mandi bareng mereka pasti dengan bonus lain. Selama pernikahanya dengan Zoya dan Fifah Niko masih bisa membagi waktunya. Niko merasa bahwa ia sudah menjadi suami yang adil dan bisa memnuhi semua kebuthanya. Niko salah tangkap, ia mungkin berfikir bahwa menikah adalah urusanya dengan ranjang dan uang.
Tugasnya hanya memberi nafkah batin, dan lahir. Niko bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya curhat dengan Zoya maupun Fifah.
Berbagi cerita yang mungkin hanya sekedar bercerita sekedarnya sudah tidak pernah Niko lalukan. Kegiatanya setiap bergiliran dengan istri-istrinya hanya berakhir dengan penyatuan.
"Mas Fifah belum hamil yah?" tanya Zoya yang dia sajah sudah ingin mendengar kabar bahagia itu.
"Belum kayaknya sayang, Mas juga belum tanya. Nanti deh Mas tanya sama Fifah." Rio juga sampai lupa menanyakan Fifah sudah hamil atau belum.
Niko jadi tidak sabar ingin segera bertanya mengenai kabar bahagia itu. Terlebih ia menyirami ladang Fifah hampir setiap hari, kecuali kalo Fifah tengah berhalangan sih.
Terkembang senyum di wajah Niko, ia membayangkan kalo Fifah memang hamil. Namun, itu baru bayang-bayangnya belum jelas kebenaranya.
Cie yang udah kebelet pengin punya Baby...
__ADS_1