Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kecemasan Satu Keluarga


__ADS_3

Eeeuuu... Suara sendawa dari bibir Qari, sangat mengganngu Deon yang masih menikmati makananya. Sehingga laki-laki itu mendorong piring yang bahkan makananya belum habis. Selera makannya sudah hilang, itu semua karena Qari yang mengacaukan selera makanya.


Qari di balik wajah santainya, tertawa puas. pasalnya itu memang ide konyolnya, agar Deon tidak mengganggunya lagi. Yah, Qari tahu bahwa Deon memang ingin mengikutinya terus. Entah lah tapi Qari merasa tidak nyaman dengan sikap Deon yang seolah menginginkan dirinya secara terus menerus. Risih, itu lah yah Qari rasakan, sehingga Qari dengan sengaja membuat Deon ilfil.


"Sialan nih cewek, kayaknya dia sengaja banget bikin selera makan gue hilang begitu saja," umpat Deon dalam hatinya, matanya tajam menatap Qari yang seolah tidak menganggapnya ada di hadapan dirinya.


"Gue mau pulang sekarang, loe mau di sini ajah atau gimana?" tanya Qari nadanya tetap jutek padahal sudah diberi makan dengan harga delapan belas juta, dalam sekali makan. Memang Qari itu tidak tau diuntung, sudah dikasih makan mahal masih aja jutek. Bukanya mengucapkan terima kasih atau gimana gitu.


"Nebeng loe lah, mobil gue ada di kantor," jawab Deon dengan bersungut.


"Ya kirain loe mah nge-grab gitu biar nggak ngerepotin gue," jawab enteng Qari, "Ini kartu loe totalnya segini." Qari menyodolkan kartu sakti dan juga tagihan makan mereka yang sudah Deon ketahui jumlahnya berapa, pasalnya pelayan lestoran sudah menyebutkan nominalnya tadi, berhubung dia bukan penyandang tuna rungu, jadi dia masih bisa mendengar jumlah yang di bacakan petugas lestoran tersebut.


"Terima kasih telaktiranya," sindir Deon sembari meraih kartu berwarna gelap yang ada dihadapanya, dan kembali meletakan di dompetnya.


"Yah, anggap saja lunas dengan gue antar jempul loe, dari kantor ke lestoran," balas Qari dengan enteng.


Deon pun hanya menanggapinya dengan senyum masam. "Bagai mana bisa makan delapan belas juta, hanya dibayar dengan antar jemput dari lestoran ke kantor, bahkan kalau menggunakan grab car sajah lima ratus ribu tidak akan sampai, terlebih jarak lestroran dan gedung tempatnya bekerja tidak terlalu jauh.


Namun Deon tidak mau ambil pusing, yang terpenting Qari sudah mengenalnya, dan juga tadi tanpa sepengetahuan Qari, dia mengambil nomor ponselnya. Jadi dia akan mencoba mendekati Qari sampai misinya terselesaikan.


"Mau ikut ke kantor enggak, mumpung gue lagi baik. Biasanya gue jahat soalnya, jadi enggak akan ada tumpangan." Qari mengagetkan lamuna Deon.


"Jadi lah, masa gue di sini ajah, tanggung jawab lah, kan kamu yang makan paling banyak," ucap Deon sembari segera beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Lain kali kalo nggak ikhlas, enggak usah tlaktir. Bikin sakit perut nanti lagi," dengus Qari meninggalkan Deon mengekor di belakangnya.


"Siapa yang enggak ikhlas, gue ikhlas kok tlaktir loe, kenapa jadi ngomongnya ngelantur," ucap Deon, tetapi tak ayal ia selalu mengikuti Qari berjalan menuju mobilnya.


Qari tidak menanggapi obrolan Deon. Dia sudah tidak tenang pasalnya di jam tanganya sudah menunjukan pukul sembilan malah, pasti dia akan dimarahi keluarganya terutama Naqi. Qari memutar otak, alasan apa yang sekiranya bisa ia tunjukan agar Naqi percaya bahwa ia terjebak di gedung sialan itu.


Tit... tit... Qari selalu membunyikan klakson dan mengumpat siapa saja yang menghalangi jalanya. Bahkan untuk mengendarai mobil juga ugal-ugalan sangat tidak nyaman. "Qari, loe bisa enggak sih bawa mobil santai gitu, kayaknya loe mau membunuh gue yah?" ujar Deon ada rasa was-was, takutnya Qari tahu bahwa dirinya memang merencanakan hal yang jahat untuk dirinya.


"Kalo mau membunuh loe, bukan begini caranya. Kalo membunuh di mobil ini bukan hanya loe yang mati, gue juga ikutan mati." Qari membalasnya dengan nada jutexnya, dan lagi pandangan tidak lepas dari jalanan yang sedang ia belah.


"Kalo gitu bawa mobilnya lebih santai lagi!" Suara memerintah terdengar dengan jelas dari bibir tidak tau diuntung.


"Cuih... Dia tidak tau gue lagi takut bakal di marahin sama Abang gue, gara-gara harus ngantar dia. Mana jalanan tumben macet gini lagi, sial banget sih gue," batin Qari, ia yang tengah cemas, malas menanggapi ocehan Deon yang tidak ada faedahnya.


Deon pun sama tidak melanjutkan protesnya yang terpenting nyawanya masih aman, dan sepertinya Qari tahu batas mengemudi yang benar.


****


Mamih bahkan sudah berencana melapor ke polisi dengan kehilangan anaknya itu. "Naqi juga tidak tahu Mih, ponsel Qari tidak dapat dihubungi," balas Naqi, dan memang pada kenyataanya ponsel kentang Qari sengaja di matikan, dan parahnya lagi dia lupa tidak menyalakanya lagi. Hal itu yang membuat keluarganya cemas memikirkan dia ada di mana.


Bukan hanya mamih dan Naqi yang cemas dengan kepergian tiba-tiba Qari, di balik sifat acuh dan dinginya. Tuan Latif juga sama sedang cemas memikirkan nasib cucunya. Bahkan dia juga memerintahkan anak buatnya untuk mencari keberadaan Qari, bagai mana pun Qari adalah cucu kesayangan beliau. Sifatnya yang mirip dengan Qanita, mamihnya. Membuat kakek bangga dengan anak itu.


*****

__ADS_1


"Terimakasih yah Qari, atas tumpanganya," ucap Qari tentu hal itu hanya sindiran belaka buat Deon, ketika laki-laki itu hendak membuka mobilnya, tetapi tidak ada basa-basi ucapa terima kasih atau apa gitu.


Deon pun kembali menolek ke arah Qari, di mana Qari menatap kedepan dengan wajah masam. "Oh, sorry gue lupa. Terima kasih yah Deon, atas telaktiran makanan lezatnya," balas Deon, sama-sama mengeluarkan sindiran, karena Qari yang tidak kunjung mengucapkan terima kasih, padahal ia juga sudah mengeluarkan uang tidak sedikit untuk semakli makan wanita yang ada di sampingnya itu.


"Cih, disindir malah balas sindir," umpat Qari di dalam hatinya, entah bawaanya dengan Deon itu pengin marah-marah terus. Padahal Qari sudah berusaha menekan kemarahan hatinya, dan coba menerima Deon, yang bisa dibilang sama sifatnya kaya gia. Tapi hati seolah dibuat enggan berbaikan dengan manusia itu.


"Mana nomer rekening loe, biar gue teransfer biaya makan gue!" ucap Qari kali ini dengan menatap nyalang ke wajah Deon. Dia tidak mau kalo gara-gara makananya Deon akan menganggapnya memeras.


Deon hanya tertawa renyah dengan kesombongan Qari. " Lupakan, bahkan uang buat makan tidak ada bandinganya dengan kekayaanku. Uang segitu hanya receh buat aku," balas Deon sebelum langsung melesat keluar mobil. Membiarkan Qari yang mungkin saja tengah mengumpat di dalam mobil sanah.


Yah, benar saja Qari di dalam hatinya mengumpat kesombongan Naqi..Qari yang perasaanya sudah tidak tenang pun langsung kembali menginjak pedal gasnya dengan dalam. Perasaanya sudah benar-benar tidak karuan. Untungnya jalanan tidak sepadat tadi ketika Qari bersama Deon, sehingga Qari pulang masih di bawah jam dua belas malam.


Langkah kaki mengendap-endap dengan berjinjit, seolah tengah melakukan jurus ringan tubuh, agar suara kakinya tidak terdengar penghuni rumah yang ia duga sudah tidur, pasalnya lampu di rumah ini sudah pada mati.


Pyarrrt... Cahaya lampu tiba-tiba menyala dan jantung Qari seketika itu juga mau copot. Terlebih ia melihat dua orang paling mengerikan malam ini. Naqi dan mamih memberikan tatapan seolah mereka tengah meminta penjelasan.


"Dari mana kamu Qari? Apa kamu tidak berfikir kami di rumah di buat cemas dengan kelakuanmu?" tanya Naqi, nada bicaranya benar-benar mengerikan, bahkan sepertinya ini adalah kemarahan Abangnya termenyeramkan sepanjang hidupnya.


#Please jangan ada yang komen, kok kisahnya Qari terus? Iya othor lagi kejar kisah Qari sampai ke konflik, karena biar nyambung dengan novel dia, yang othor bikin di awal pembukaan dari konflik. Berhubung Cyra akhir bulan ini TAMAT othor harus buka novel baru....🙏🙏🙏 dan kisah Cyra tinggal Otw bahagia.


...****************...


Teman-teman aku bawa rekomendasi novel yang bagus baget, karya teman othor...

__ADS_1


Mampir yuk...



__ADS_2