Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kegundahan Cyra


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, kondisi Alzam kini semakin membaik. Begitu pun hubungan Naqi dan Cyra semakin banyak kemajuan. Bahkan Naqi tidak malu sering menggandeng tangan Cyra, dan juga tidak canggung dan malu mengucapkan sayang. Kakek dan Mamih pun sangat senang dengan perubahan ini.


"Hari ini pulang jam berapa? Bisa kan pulang lebih awal? Pengin ngajak kencan" ucap Naqi begitu Cyra aka turun untuk kerja.


Cyra nampak menimang-nimang, "Nanti dicoba izin deh, emang mau kencan kemana?" tanya Cyra penasaran.


"Ya kemana sajah, ke hotel juga boleh biar lebih romantis," canda Naqi. Sebenarnya Naqi pengin meminta haknya sebagai seorang suami, tetep ia kasihan karena memilihat Cyra yang masih sangat kecil dan lagi ia masih belum bisa menghapus bayang-bayang Rania. Naqi sulit menghapus Rania dari dalam hatinya meskipun ia sudah mencobanyan tetapi pada kenyataanya tidak semudah membalikan telapak tangan.


Cyra pun tahu bahwa suaminya masih belum sepenuhnha bisa menyingkirkan mantan kekasihnya, sehingga Cyra juga masih membatasi diri dengan Naqi.


Rumah tangganya masih hambar, Naqi yang mencoba untuk memperbaiki, tetapi seolah juga masih membatasi membuat hati Cyra sakit.


Cyra tersenyum getir mana kala Naqi bercanda seperti itu.


"Cyra berangkat dulu yah." Cyra mengulurkan tanganya ingin segera bersalaman dengan Naqi, karena ia ingin menghindar pembahasan pagi ini.


Naqi bukanya membalas tangan Cyra, justru menarik tubuh mungil Cyra ke dalam pelukanya. Pelukan yang selama satu minggu ini sering Naqi berikan pada Cyra, tetapi....


"Kamu merasakan kalo di fikiran Mas ada yang mengganggu? Kalo ada katakanlah jangan dipendam?" ucap Naqi membiarkan Cyra masih berada dalam pelukanya.


Cyra mengangguk lemah, dia memang merasakan itu semua.


"Apa yang kamu rasakan kira-kira biar Mas bisa memperbaiki," balas Naqi akan mencoba mendengarkan isi hati istrinya.


Cyar pun menarik diri untuk menlepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Cyra memainkan jari jemarinya dan menunduk. Ia mulai menetralkan perasaanya dan mulai menyusun kata agar tidak menyakiti perasaan Naqi nantinya.


"Cy...Cyra merasa mas Naqi baik dan mesra dengan Cyra itu hanya sebatas kewajiban, mungkin karena janji Mas pada Cyra. Sehingga Mas merasa bahwa itu semua wajib, tetapi hati dan perasaan Mas entah di mana." Cyra menjeda ucapanya. Hatinya sudah mulai panas, dan suaranya juga sudah mulai berat. Sebab Cyra masih sering tanpa sengaja mendengar Naqi mengigo nama Rania.

__ADS_1


"Di hati Mas, masih ada nama Mba Rania, Mas masih mencintai Mba Rania," isah Cyra tidak bisa menahanya Lagi.


"Mas akui, kenyataanya untuk menghapus nama orang yang kita sayang memang sulit Cyra, sangat sulit. Semakin Mas ingin melupakanya justru seolah semuanya malah berpihak pada Rania. Mas juga sering memimpikan hal buruk dengan Rania. Mas mohon mengertilah. Setidaknya Mas berusaha menghapus nama Rania, tapi butuh waktu." Naqi meminta Cyra menatapnya, tetapi Cyra membuang pandanganya keluar jendela mobil.


Hatinya hacur, ketika Naqi menarik hatinya untuk dilabuhkan di dalam hatinya, namun justru di dalam sana kehadiranya masih dianggap semu. Yang Cyra takuti cuma satu. Bagaimana kalo Cyra sudah benar-benar cinta dan menyerahkan semuanya pada Naqi. Namun hati Naqi masih ada nama Rania dan kepedulian denganya. Tiba-tiba Rania datang dan memintan semua berjalan seperti dulu dan Naqi menerima, memilih kembali dengan Rania dengan alasan ini itu. Gimana nasib Cyra?


"Tapi kenapa Mas meminta Cyra untuk terus bersama Mas Naqi, Cyra juga butuh kepastian Mas. Cyra juga sama dengan wanita lain rapuh hatinya apabila pasangan kita masih jelas-jelas memikirkan wanita lain." Cyra mencoba mengungkapkan semua kegundahanya mungkin sajah Naqi akan mengerti.


"Mas juga tidak bisa memungkiri Mas nyaman dengan kamu. Kehadiran kamu membuat Mas bahagia dan hangat karena sikap peduli kamu," jawab Naqi, mungkin kesanya seperti sebuah pembelaan.


"Kalo gitu Mas egois dong, Mas hanya akan menyakiti salah satu dari kami. Seolah aku hanya tinggal menunggu waktu kapan hal itu akan terjadi, Mas hanya akan membuat hati ini berongga." Tangis Cyra pecah seraya memegang dadanya dengan Keras seolah memang terdapat luka menganga di dalamnya.


Naqi menarik lagi Cyra dalam pelukanya. Hanya itu yang ia bisa lakukan dengan Cyra. Ia tidak bermaksud menyakiti siapa pun, tetapi ia juga tidak bisa tegas dengan hatinya. Ia lemah apabila sudah dipertemukan dengan hati.


Naqi mengusap Lelehan air mata di pipi Cyra. Bocil itu pun membiarkan saja apa yang akan Naqi lakukan. Cyra yang menggigit bibir bawa dan mata terpejam membuat Naqi ingin mencicipi bibir mungil istrinya. Timbul niat jahat di dalam dirinya....


"Mas kamu ngapain?" tanya Cyra dengan menutup bibirnya dengan tangan sebelah kananya.


"Manis," goda Naqi dengan mengu'lum bibirnya yang mana beberapa detik yang lalu ia gunakan untuk mencuri ciuman dari bibir mungil istrinya.


Ish...Cyra mendengus kesal dan hendak kenarik hendel pintu mobil dan melarikan diri keluar.


Namun, tanganya lebih dulu Naqi tahan, sehingga Cyra gagal membuka pintu mobil.


Kini kondisi Cyra benar-benar dalam posisi tidak menguntungkan.


"Ini masih pagi, kantor juga masih sepi, tunggu dulu saja di dalam mobil." Naqi melembutkan suaranya agar Cyra tidak merasa takut.

__ADS_1


Cyra mencoba mencari keseriusan dalam sorot mata Naqi, begitu pun Naqi menatap mata indah Cyra. Sehingga keduanya larut dalam tatapan yang dalam. Saling menatap....


Naqi mendorong tubuhnya sehingga tanpa Cyra sadar kedua bibirnya dan bibir Naqi telah menyatu. Naqi yang memang sudah lebih mahir dalam proses penya'tuan dua benda kenyal itu tentu menuntut lebih.


Berbeda dengan Cyra yang merupakan pertama kalinya ia melakukan hal itu, tentu desiran darah dingin menguasai dirinya.


Cyra akan melapaskan diri dari Naqi, tetapi ternyata tangan Naqi juga siaga menahan punggung kepala belakang Cyra sehinga tidak bisa berontak dan melepaskan diri dari Naqi.


Emmmmeeezzzzz... Cyra berusaha mengeluarkan erangan agar Naqi iba dan sadar lalu melepaskan cengramanya.


Namun, justru ketika kesempatan terbuka untuk menjelajahi rongga mulutnya Naqi langsung menggunakan lidahnya untuk mengabsen setiap inci dari barisan gigi-gigi Cyra yang rapih dan kecil-kecil.


Cyra sudah tidak bisa melakukan perlawanan. Cya sekarang bukan bocil yang polos, dirinya sering melihat kejadian yang ia alami dari ponselnya. Sehingga Cyra tau bahwa apa dilakuakn Naqi. Cyra akhirnya hanya pasrah menikmati ciuma padas dari Naqi di pagi hari yang masih sepi. Terakhir setelah lidahnya mengabsen di dalam ronga mulut Cyra, Naqi menikmati daging kenya'al itu dan mengulum'nya menarik dengan kuat. Lalu Naqi melepaskanya sampai Cyra merasakan aneh dengan bibir bawahnya terasa lebih besar dari biasanya.


Naqi tersenyum puas menatap wajah kebingungan Cyra, dan tangan Cyra memegang bibirnya yang sedikit membengkak karena ulah Naqi. Matanya bengong seolah belum begitu sadar dengan serentetan kejadian yang menimpanya.


"Kenapa dipegangin terus? Mau lagi," goda Naqi sembari menarik tangan Cyra, agar sadar dan berhenti memainkan bibir yang ia pegangi.


Begitu Naqi menarik tangannya, Cyra baru sadar.


"Mas Naqi kenapa ngelakuin ini?" tanya Cyra kaget dan bingung mau ngomong apa.


"Manis tau Ra, tapi kamu nikmatin kan. Nanti pulang kerja lagi yah. Udah sana kerja tuh Meta udah datang," Naqi menunjuk Meta yang kebetulan juga baru datang.


Cyra akhirnya turun karena ingin segera kabur dari suaminya yang berubah jadi aneh, tanpa salaman seperti biasanya, tapi nggak apa-apa sudah diberi salam dari bibir.


Naqi terkekeh melihat kelakuan Cyra yang sangat polos. "Cyra-Cyra kamu polos banget jadi pengin bermain-main yang lebih dengan kamu," gumam Naqi dengan wajah penuh bahagia.

__ADS_1


Niat hati Naqi pengin mengerjai Cyra, malah dirinya yang menikmati permainanya.


__ADS_2