
Deon kembali masuk ke dalam apartemenya di mana Qari ia tinggal untuk beristirahat dalam hatinya masih mengingat laporan yang orang suruhanya berikan. Laki-laki itu masuk ke kamarnya di mana Qari tengah tertidur dengan lelapnya. Deon menarik kursi yang ada di samping sova, ia duduk tepatĀ di hadapan Qari, mengamati setiap jengkal wajahnya. "Gadis yang polos, gadis yang malang," lirih Deon kembali tersenyum tanpa arti. Dia sudah merencanakan semua ini, tidak mungkin dia gagal hanya karena satu gadis, terlebih gadis itu adalah anak dari musuhnya.
Tangan kekarnya membuka dompet yang menyimpan foto kakak perempuanya dan juga papahnya, yang sudah lebih dulu meninggal. Kakaknya Diana adalah sodara satu-satunya Deon gadis itu harus meregang nyawa, karena tidak kuat menanggung malu, di mana dia dihamili oleh laki-laki berengsek yang tidak mau bertanggung jawab. Dan justru melempar semua kesalahanya kepada Diana. Papahnya meninggal tepat setelah pemakaman kakaknya. Serangan jantung, adalah penyebab papahnya meninggal. Entah bagai mana hancurnya Deon saat itu yang secara bersamaan harus kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya. Deon pun berjanji pada dirinya sendiri dan pada alamarhum papah dan kakaknya, ia akan membalas dendam pada keluarga dan laki-laki yang sudah membuat keluarganya meninggal dunia. Nyawa di balas dengan nyawa mungkin itu yang ingin Deon lakukan. Dan Deon juga akan melakukan cara yang sama dengan laki-laki itu lakukan ke pada kakaknya. Maka dari ini Deon akan memanfaat kan Qari sebagai alat untuknya membalas dendam.
Mata Deon kembali memerah dan kebencian kembali menghinggapi isi hatinya. Sikap Qari yang beberapa hari ini bisa menjadi penghibur buat Deon, kini kembali lagi dengan kebencian. Wajah polos Qari yang beberapa menit yang lalu mampu menggetarkan hati Deon, wajah deon kini kembali di selimuti dengan ke dendam dan amarah. Laki-laki itu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan kamar itu. Dia meminta asisten rumah tangga untuk membuatkan makanan untuk dirinya dan juga Qari.
Deon sudah yakin bahwa dia akan membalaskan dendamnya pada Qari, sehingga dia sudah ia memutuskan akan melakukanya saat ini juga. Yah laki-laki itu sudah sangat yakin bahwa ia akan membalaskan dendamnya dengan menggunakan Qari dan juga dia tidak akan memperlama rencanaya, karena dia sadar hatinya sudah terketuk oleh Qari. Dia tidak mau dendamnya di selimuti dengan rasa cinta, yang bisa saja justru berakhir dengan perdamaian. Dan kakak dan papahnya akan menagis sedih di atas sana.
__ADS_1
Deon mengambil obat yang sudah lama selalu ia bawa di dalam dompetnya. Bubuk yang akan membuat hidup Qari hancur mulai dari hari ini. Meskipun Deon tidak yakin bahwa laki-laki itu akan tobat dengan nasib buruk yang menimpa putrinya tetapi bagi Deon, Qari adalah darah daging dari pria bereng's*k itu sehingga Qari juga menjadi sasaran kemarahanya.
Deon berjalan mebawa nampan yang berisi piring makanan untuk Qari dan juga bibi membawa satu nampan makanan untuk dirinya. Ia kembali duduk di samping Qari kali ini ia akan membangunkan Qari, Deon heran sama gadis itu apa dia tidak cape sehari tidur. Bahkan saat ini sudah jam empat sore tetapi Qari nampaknya semakin betah berguling di bawah selimut tebalnya.
Buuuhhh... Buuhhh... Buhhhh... Deon meniupkan nafasnya tepat di wajah Qari, sampai Qari menggerak-gerakan kelopak matanya sebagai tanda bahwa ia sudah mau bangun, Deon kembali meniup wajah cantik Qari, bahkan bisa di bilang Qari itu memiliki wajah yang cantik dan imut sangat mirip dengan mamihnya.
Ahahhhha... Qari kembali menjerit ketika lagi-lagi wajah Deon tepat berada di depan wajahnya. Tangan Qari langsung mencoba meraih bantal, dan melemparkanya tepat di wajah Deon. "Aduh, kenapa sih tangan loe itu kebiasaan banget sih, kasar," sungut Deon setelah satu tamparan medarat tepat di pipinya. Karena lemparan bantal ternyata tidak bisa membuat wajah Deon beranjak dari hadapanya, justru wajah itu seolah di buat sengaja untuk mendekatinya. Sehingga Qari yang panik langsung melayangkan tangan ya untuk mengampar wajah tampan Deon.
__ADS_1
"Gue cuma mau bangunin loe, karena loe dari tadi tidur kayak ******. Gue fikir loe udah almarhum, makanya mau gue buatkan nafas buatan taunya loe udah bangun," ucap Deon dengan ketus dan tangan yang masih memegangi pipinya yang terasa panas sekali di wajahnya itu.
"Iya maaf Deon, gue tidur enak banget jadi tidak tahu kalo loe membangunkan gue," balas Qari, ada rasa menyesal karena tangan besinya berhasil membuat pipi Deon memerah. Qari sadar dan tahu pasti, bahwa pipi Deon sedikit panas dan pegal karena di tampar oleh Qari, sebab tadi Qari menggunakan kekuatannya penuh dia ingin membaut perhitungan buat Deon sehingga tangan yang biasa meninju samsak langsung memberi hadiah untuk Deon tepat di pipinya.
"Ayo bangun, udah gue siapin makan buat loe! Gue enggak mau nanti loe mati di apartemen gue karena kelaparan." Deon meninggalkan Qari yang masih duduk di atas kasur empuknya. Qari pun menyimpakan selimutnya dan dia akan makan bersama dengan Deon
"Bukanya tadi loe itu bilang kalo mau kerja, kok kayaknya cepat banget kerjanya, kerja apa memang loe itu?" tanya Qari curiga dong, kenapa Deon yang masih muda tetapi asetnya banyak dan tidak ada yang harga murah. Semua yang Deon miliki adalah barang dengan kualitas terbaik yang sudah jelas harganya tidak main-main.
__ADS_1
Laki-laki itu menatap tajam kearah Qari. "Kerjaan gue itu sebagai hecker, dan bukan hanya itu gue juga ketua mafia yang di segani. banyak penyelundupan narkoba yang gue tangani berhasil lolos, dan tidak tercium oleh kepolisian, sehingga sekali melakukan penyelundupan itu gue dapat untung tidak main-main satu triliun bisa gue kantongin. Dan juga setiap gue beraksi di hacker, gue selalu menyerang bank-bank yang sistem keamanan kemputernya lemah, sehingga sekali beraksi gue paling sedikit lima ratus miliar, ucap Deon dan hal itu membuat Qari langsung tersedak ketika makan,"
Uhu... uhu... Qari tersedak dan Deon langsung menyodorkan air minum yang sudah ia campur dengan obat rahasia yang selalu ia simpan di dalam dompetnya itu. Wanita itu terus menepuk-nepuk dadanya ketika dia sudah tidak terbatuk lagi. "Apa yang loe katakan itu benar?" tanya Qari dengan wajah ketakutanya. Deon tersenyum menyeringai. Dalam hatinya mengutuk kebodohan Qari, mana mungkin dia melakukan pekerjaan kotor itu semua, lagian kalo pun benar tidak mungkin kan dia menceritakan semuanya pada Qari. "Dasar gadis bodoh," batin Deon mengutuki kebodohan Qari.