Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Gunanya Tas Besar


__ADS_3

Naqi pun akhirnya mengikuti kemauan Cyra, ia ikut turun dan mengekor di belakang Cyra.


"Sore Pak, lagi cari apa?" tanya Cyra sembari menghapiri Bapak yang tengah duduk di tepi jalan sembari meminun air mineral yang botolnya bahkan sudah usang.


Bapak itu menyeka bekas air dibibirnya. "Eh Neng... biasa neng nyari rongsokan."


Setelah berbincang-bincang basa basi Cyra pun mengeluarkan uang sepuluh lembar berwarna merah.


"Bapa, maaf tanpa merendahkan dan bermaksud pamer, kami ada sedikit rezekin ingin membagi buat bapa. Semoga dengan sedikit rezeki dari kami bisa membantu bapak." Cyra meyodorkan uang kepada sang bapak.


Bapak pemulung pun tidak lantas mengambil uang tersebut, entah saking kaget atau gimana beliau justru terdiam... "Ini beneran Neng? Ini mah bukan sedikit, bahkan bapak satu bulan belum tentu dapat uang segini."


"Iya Pak, ini rezeki dari Mas itu, beliau tengah berulang tahun sehingga sekarang lagi berbagi," bisik Cyra agar Naqi tidak curiga.


"Ya Tuhan makasih Neng," ucap sang Bapa dengan gembira bahkan berkali-kali mencoba mencium tangan Cyra, tetapi Cyra menolak sebab ia tidak nyaman. Seharusnya ia yang mencium tangan orang yang lebih tua dari dirinya.


"Ini mau difoto dulu Neng?" tanya Bapak itu sembari memegang uang yang baru diberikan Cyra.


Cyra pun sempat kaget, tetapi beberapa detik kemudian dia mengerti maksud dari pertanyaan bapak tersebut.


"Enggak usah Pak, ini uang pribadi dari Mas itu, jadi nggak perlu foto-foto. Biasanya yang pake foto itu uang yayasan dan penyalur donasi sehingga membutuhkan bukti untuk laporan pengeluaran mereka. Sebab agar perencanaan uang mereka transparan, sehingga tidak ada yang menduga-duga bahwa uangnya mereka tilep." Cyra mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.


"Iya Neng, syukur kalo gitu. Semoga makin lancar yah Neng." Bapa itu pun berdiri dan menyalami Naqi serta memajatkan doa buat Naqi tak lupa bapak itu mengucapkan selamat ulang tahun.


Cyra kembali terkekeh, dan mereka pun melanjutkan perjalananya.


"Kamu itu jail banget sih Cyra, tapi jahilnya kamu unik beda kaya Qari." Naqi pun terhibur dengan keusilan Cyra.


"Hahaha... nggak apa-apa Mas kan mereka baik mendoakan Mas jadinya," bela Cyra.


"Iya-iya terserah kamu ajah lah, Mas udah mulai kebal dengan keisengan kamu! Terus kemana kita?" Naqi sebagai supir mengikuti arahan dari Cyra.


"Itu deh Mas kayaknya ada Kake-Kake kasian banget jualan pisang dipinggir jalan." Cyra menunjuk Kakek yang jual ngampar dengan beberpa buah pisang didepanya.


"Ya udah kita ke sana." Naqi memberhentikan mobilnya tidak jauh dari sang kakek.


"Jual pisang apa Kek?" tanya Cyra dengan antusias.


"Ada pisang, ambon, kepok, sama uli, Neng." Kakek menjelaskan pisang apa sajah yang dijual.


"Ini buat digoreng yah Kek? Kalo yang langsung dimakan ada nggak? Pengin nyobain," kekeh Cyra, yang mana anaknya slengean banget. Orang jualan dia minta coba...

__ADS_1


"Iya Neng kalo ini enak digoreng, dikukus juga enak, legit. Nah kalo Ambon ini enak kalo di makan langsung. Sok kalo mau mah Neng, coba ajah enak ko." Kakek mengodorkan pisang ambon dan Cyra pun mengambilnya satu dan memakanya.


"Wah enak ini, baunya wangi. Cobain deh Mas ini enak." Cyra menyodorkan satu buah pisang pada Naqi.


"Enggak ah kamu ajah, perut aku udah kenyang. Lagian kan perut kamu yang bentar-bentar laper. Emang tadi jajanan sebanyak itu disimpen di mana? Ko sekarang udah nodong pisang lagi," kekeh Naqi yang melihat Cyra udah makan dua buah pisang.


Cyra hanya menepuk pudak Naqi. "Ish... kamu mah kebiasaan ngeledek mulu," sungut Cyra.


Cyra pun berbincang-bincang dengan Kakek, sembari memakan pisang, tanpa terasa sudah habis lima buah pisang. Cyra pun iba mendengar penuturan sang Kakek yang rela berjualan buat biyaya istrinya yang tengah sakit. Cyra memborong dagangan Kakek dan mengantarkan Kakek kerumahnya. Sekalian melihat kondisi istrinya.


Begitu sampai di rumah beliau Cyra tercekik sesak dengan kondisi rumah sang Kakek. Setelah melihat kondisi Nenek Cyra pun memutuskan uang yang dari Naqi Cyra berikan untuk membantu pengobatan sang Nenek.


"Kek ini ada uang dari Mas itu buat bantu berobat Nenek. Mungkin tidak banyak tapi bisa membantu untuk Nenek berobat." Cyra menyerahkan uang senilai empat juta rupiah.


"Sang Kakek langsung memeluk Cyra yang badanya lebih tinggi dari dia. "Makasih Neng, ini sangat berguna buat Kakek. Nanti Kakek bisa langsung nebus obat Nenek. Memang beberapa mari ini Kakek tidak bisa nebus obat karena belum punya uang." Kakek mengucapkan terima kasih juga pada Naqi. Namun kali ini tidak ada ucapan selamat ulang tahun, murni ucapan terima kasih karena bantuan Naqi dan Kakek pun mendoakan mereka berdoa agar berjodoh dunia, akhirat. Mereka pun serentak mengucapkan Amin.


Selanjutnya Cyra dan Naqi berpamitan.


"Abis ini berati langsung pulang?" tanya Naqi.


"Iya Mas, lagian uangnya udah habis. Cyra kasian loh sama Kakek tadi mereka buat makan ajah susah, tadi ajah di meja makanya hanya ada nasi satu piring, tanpa ada lauk. Cyra nanti kalo udah gajihan pengin balik lagi ke rumah Kakek. Buat belikan bahan-bahan untuk makan." Cyra merancau membayangkan kehidupan kakek dan nenek barusan.


"Emang kamu tadi kasih berapa Kakek itu?" tanya Naqi kepo.


"Kenapa tadi nggak minta uang ke Mas lagi kalo kamu kira masih kurang."


"Yah kan Mas nggak bilang boleh minta uang lagi," bela Cyra.


"Dasar Bocil, ya udah besok, atau lusa kita kerumah Kakek itu lagi. Belikan sekalian sekarung beras sama bahan pokok lainya." Naqi akhirnya pun mengajak Cyra mengunjungi kakek itu lagi.


"Seriuz Mas?"


Hemz... hanya deheman yang mewakilkan jawaban pertanyaan Cyra.


"Yeh.... makasih yah Mas, semoga kamu selalu bahagia dan rezekinya makin wah." Cyra merentangkan tanganya.


"Ngomong-ngomong kamu beli pisang sebanyak itu buat apa?" tanya Naqi sembari menunjuk dengan dagunya tumpukan pisang-pisang di sofa belakang.


"Paling bikin pisang goreng, sama bikin bolu deh, kan Mamih suka brownis dibikin brownis farian pisang. Pasti enak." Cyra membayangkan kreasi kue ala dia dengan rasa brownis pisang tabur keju.


"Terserah ajah yang penting enak." Naqi menyerahkan semua pada Cyra toh dia cuma tinggal makan.

__ADS_1


Tidak lama mereka sampai di rumah dan kebetulan Kakek dan Mamih tengah makan malam.


"Selamat malam semuanya." Cyra hari ini nampaknya lebih ceria setelan di ajak jajan cilok.


"Bi tolong keluarkan pisang di dalam mobil yah!" Naqi menyodorkan kunci mobil pada Bibi.


Kakek dan Mamih pun heran ketika Bibi membawa banyak pisang.


"Kalian abis dari mana? Ko sampe banyak bawa pisang gitu?" tanya Kakek heran.


"Tuh, si bocil katanya pengin bikin brownis dan pisang goreng," balas Naqi sembari menunjuk ke Cyra.


"Hehe nggak apa-apa Mas kalo nggak bisa kemakan semua sama kita kan bisa dibagi-bagi," bela Cyra sembari mengeluarkan oleh-oleh jajanan tadi. Yah tanpa sepengetahuan Naqi Cyra membeli aneka jajanan grobak buat dibagi-bagi kepekerja di rumah Kakek.


"Apa lagi itu?" tanya Naqi ketika Cyra mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya.


"Hehe banyak ada batagor, somay, cimol, tahu bulat, semua tadi Cyra beli juga buat dibungkus," balas Cyra dengan nyengir kuda.


"Astagah Cyra kelakuanmu, jadi tas gede itu isinya buat nyembunyiin makanan?" kekeh Naqi sembari menggeleng-gelengkan makanan.


Cyra mengeluarkan hasil berburunya satu persatu dijajar kan dimeja makan.


"Coba Ra, yang itu Mamih mau coba. Itu cimol kan? Kebetulan Mamih dari kapan tau pengin nyobain." Mamih minta satu bungkus Cimol.


"Kakek mau?" tanya Cyra.


"Cilok kayaknya enak Ra." Kakek pun ternyata sama penggemar Cilok.


"Mas ada mau lagi nggak? Kalo nggak Cyra mau bagi buat satpam dan yang lainya?" tanya Cyra setelah memisahkan satu bungkus tahu bulat hangat buat dia.


"Enggak deh, udah kenyang mau makan ajah." Naqi pun meminta Cyra mengambilkan makanan seperti biasa.


Cyra dengan telaten selalu melayani Naqi. Sejak saat ia melayani kebutihan Naqi. Dia jadi ketergantungan bahkan untuk makan sajah harus Cyra dulu yang menyiapkanya.


Setelah menyiapkan makan suaminya Cyra membawa jajanan kedapur memberikan pada Bibi agar dibagikan dengan yang lain.


"Kamu makan juga?" tanya Naqi pada Cyra yang justru ikut mengambil Nasi dan pelengkapnya.


"Lah, kalo nggak makan tenaganya dari mana?" balas Cyra cuek.


Naqi kembali dibuat aneh....

__ADS_1


Cyra yang tau maksud pertanyaan suaminya pun hanya melotot kearah Naqi, yang diikuti tawa renyah dari Naqi...


__ADS_2