Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kartu Sakti Berbicara


__ADS_3

Kotrak... Kotrak... Suara pintu besi di buka dari dalam. Kedua mata Qari langsung mengalihkan pandanganya ke pintu besi berwara gelap itu. "Alhamdulillah, akhirnya aku akan bebas dari penjara ini, mana laper banget ya Allah rasanya mau pingsan haus, laper," ucap Qari dengan polosnya. Deon yang tengah mengerjakan laporan dari laptopnya pun tanpa sadar mengembangkan senyumnya. Kekonyolan Qari dan kata-kata frontal yang seolah tanpa saring sebenarnya membuat hati Deon sedikit dendamnya menguai. Tetapi sesaat kemudian ia akan kembali mengingat keburukan orang tua Qari, hingga tubuh kaku sang kakak dan papahnya berhasil melintas diingatanya dan memunculkan kembali dendam yang membuatnya menjebak gadis bar-bar itu di atap gedung ini. Andai Qari bukan anak dari musuh terbesarnya, mungkin dia adalah gadis yang dia cari selama ini. Deon tidak terlalu suka dengan gadis gemuli dengan pakaian dan perhiasan menunjukan bahwa ialah gadis terbaik dari kalangan terbaik. Wajah dengan solekan mencolok, membuat matanya sakit.


"Fokus Deon, tujuanmu hanya dendam jangan libatkan perasaan yang malah akan membuatmu hancur," bisikan dari hati gelapnya.


Qari buru-buru merapihkan ponsel dan juga beberapa buku bacaanya yang memang ia sering bawa. Deon pun mengikuti langkah Qari memasukan laptop ketas kerjanya dan juga mengampil jas yang tadi ia lepas karena gerah itu. Jas berwana hitam yang wanginya tidak ada tandinganya ia sampirkan di tangan kirinya dan juga tangan kiri membawa tas kerjanya.


Langkah kaki Deon semakin cepat menyusul Qari yang lebih dulu berjalan kearah pintu. "Yuk!" ucap Deon sembari tangan kanannya menggandeng Qari. Tadi memang beberapa kali terlibat obrolan basa basi dengan Qari sehingga hubungan mereka sedikit melunak. Qari tidak terlalu jutek seperti awal ia mengenal Deon.


"Apa? Ini lagi ngapain gandeng-gandeng," dengus Qari kembali ke mode juteknya, sembari mencoba melepas tangan Deon dan mengangkat tangan yang Deon gandeng.


"Makan lah, katanya tadi kamu lapar makanya ayok makan!" ujar Deon menyengir kuda Kalo buka karena misinya mana mungkin Deon mau melakukan hal semacam itu apalagi harus mengajak Qari makan malas banget. Begitu kira-kira pikiran Deon.


"Dih, kePDan banget sih kamu Bambang, gue makan sendiri lah. Emangnya gue miskin banget apa sampe enggak mampu beli makanan sendiri," sungut Qari, tau lah yah Deon kalo Qari tidak mau makan bareng laki-laki kepo maksimal itu. Gimana enggak di sebut kepo maksimal. Dari tadi kerjaanya nanya terus. Sampai Qari menduga bahwa dia itu wartawan warta berita. Nanya nama lengkap, sekolah dan kuliah, kerja sampai alamat ditanyakanya.


Flashback on.


"Eh... Ngomong-ngomong nama panjang kamu siapa sih Qari?" tanya Deon benar-benar sok akrab banget.


"Qari ayam, kalo mau Qari sapi juga boleh, bebas" ucap Qari yang malas menanggapi pertanyaan Deon itu. Lagian buat apa juga tanya nama-nama segala udah sih tinggal duduk fokus ajah sama laptoplnya. Dari pada buang-buang energi buat tanya-tanya tidak penting itu.


Deon terkekeh setiap mendengar jawaban dari Qari, yang sekenanya.


"Kalo sekolah atau kuliah gitu di mana?" tanya Deon lagi, bener-bener mancing emosi Qari yang tengah bermain game di ponsel pintarnya.


"Ish... Kenapa enggak sekalian ditanya nama kakek sam nama nenek terus sodara jauh sodara sepupu atau siapapun itu. Kepo banget yah." Lagi, Qari lagi-lagi menjawab dengan dongkol, bahkan rasanya di dalam tenggorokanya biji kedongdong sudah singgah karena Deon yang enggak bisa diam.

__ADS_1


Deon pun kembali tertawa, ok dua pertanyaanya tidak ada yang dijawab oleh Qari, tetapi setidaknya Deon sudah sedikit senang karena dia sudah berhasil membuat Qari emosi dengan kejahilanya.


Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing. Deon dengan pekerjaanya dan Qari dengan gamesnya.


"Qari kalo alamat kamu kira-kira di mana?" Rasanya Deon kalo tidak membuat Qari kesal kurang gereget. Sehingga otaknya kembali memutar apa gerangan yang membuat Qari bisa marah.


"Di pelanet Mars, jalan kenangan no 01," jawab Qari singkat, tidak bakal ia mau menyebutkan alamatnya sama laki-laki aneh itu.


Hahahaha... Deon tertawa renyah, tetapi Qari justru tetap cuek dengan tawa renyah Deon itu.


"Dasar orang aneh," dengus Qari samar.


Flashback off...


"Tapi gue enggak mau makan sama loe Bambang," jawab Qari dengan halus dan penuh penekanan, bahwa ia memang sangat malas dengan apa yang dilakukan Deon. Risih rasanya di ikutin sama laki-laki aneh itu.


"Qari please, kali ini ajah, gue yang telaktir buat salam pertemuan kita. Siapa tau the next kita akan menjadi teman atu malah pasangan," ujar Deon yang terlalu kePDan itu.


Qari lagi-lagi membuang nafas kasar setiap dengar gomblan garing Deon. "Ya udah loe yang telaktir. Pokoknya gue mau makan apa ajah tidak akan jadi masalah," ucap Qari dengan santai.


Deon pun menyanggupi, lagian hanya sekedar makanan. Itu sangat gampang bagi Deon. Mereka pun kembali berjalan dengan Qari yang ada di depan dan Deon ada di belakang.


"Loh ngapain loe ikuti aku?" tanya Qari heran dong kenapa malah Deon mengikuti dirinya.


"Mau nebeng mobil loe lah, biar loe enggak bohong, kita kayaknya harus jalan satu mobil," ucap Deon dengan bibir santainya. Sementara Qari akui sangat malas harus satu mobil dengan laki-laki bawel ini. Namun Qari sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia tidak bisa menghindar lagi, apa lagi Deon sudah berada di depan pintu mobilnya. Mau tidak mau Qari pun harus mengangkut si mulut berisik ini.

__ADS_1


Qari tidak mau rugi, ia memilih sebuah lestoran dengan harga yang terkenal mahal, tetapi pasti ada uang ada harga. Memang lestoran itu terkenal mahal bahkan sekali makan bisa sampai puluhan juta tetapi tentu menu yang ditawarkan pun sangat memanjakan lidah.


"Sepertinya cewek ini lagi ngerjain gue deh," batin Deon setelah sampai di depan lestoran mahal tersebut. Sepanjang jalan bahkan mereka tidak terlibat obrolan. Deon diam dengan fikiranya sendiri, begitu pun Qari diam dengan fikiranya juga.


"Loe bukan orang kere kan? Bisa dong bayar makan di sini?" tanya Qari dengan jutek begitu mobil terpalkir di halaman palkir lestoran mewah itu.


Deon terkekeh mendengar pertanyaan Qari, pertanyaan sih biasa tetapi harga dirinya seolah diinjak-injak. Dia mengambil dompetnya. Dan mengambil kartu sakti berwarna gelap. "Ambil ajah! Makan sepuasnya, enggak akan di minta cuci piring." Deon menyodorkan kartu gelap itu. Qari pun langsung menyambarnya.


"Jangan protes kalo aku bakal banyak," ucap Qari sembari turun dari mobil mewahnya.


Deon pun mengikuti Qari turun, ia pengin tahu segimana Qari mengerjainya. Yah Deon tahu kelakuan apa yang akan Qari tunjukan selanjutnya kepada dirinya.


Benar dugaan Deon, Qari memesan makanan gila-gilaan. "Kamu yakin akan makan sebanyak ini?" tanya Deon heran. Mungkin ini adalah wanita dengan kelakuan paling gila di muka bumi yang pernah ia lihat. Di mana perempuan di luaran sana akan jaga image di depan laki-laki dan makan pun selalu diatur porsinya agar tidak overcalori dan menyebabkan tubuh menyimpan cadangan lemak. Bahkan termasuk dirinya, yang selalu protektif dengan makanan yang masuk ke tubuhnya.


Namun justru Qari sangat cuek dengan jumlah calorie yang masuk ke tubuhnya.


"Yakin lah, gue udah melewatkan enggak makan dari siang hari. Laper tau," jawab Qila dengan jutek.


Sepertinya Qari memang sengaja membuat dirinya ilfil dengan kelakuan nyelenehnya. Buktinya gaya makanya saja, seolah ia tidak memiliki sopan santu. Sementara kalo dilihat dari silsilah keluarganya, tentu Qari dibesarkan dengan sopan santun yang tinggi. Namun dihadapan Deon, Qari bertingkah seperti gadis bar-bar. Tujuanya mungkin saja agar Deon tidak mengikutinya terus.


...****************...


Temen-temen othor bawa rekomendasi novel keche karya bestie othor, kalian ikutin ya...


__ADS_1


__ADS_2