Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Perubahan


__ADS_3

Di dalam mobil...


"Masih marah?" tanya Cyra dengan menggoda Naqi yang wajahnya masih kusut.


"Marah mah tidak, hanya saja kesel sama adik ipar kamu," dengus Naqi.


"Kenapa kesal, yang dibilang Qari ada benarnya. Malah hampir semua benar jadi kenapa harus merasa tersinggung. Bawa santai saja. Persiapkan metal kalo memang hari itu sudah tiba kita harus punya alasan yang tepat." Cyra berusaha santai, tetapi tidak di dalam hatinya ia memohon agar hari itu tidak akan datang. Cyra sudah mulai nyaman dengan Naqi, walaupun dalam lisanya berkata bahwa ia siap untuk bercerai tetap dalam hatinya sakit. Cyra ingin tetap di samping Naqi, tetapi ia juga tidak mau kalo harus berbagi suami.


Naqi menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menatap Cyra. " Bagaimana kalau aku melepaskan Rania dan memilih kamu sebagai gantinya?" entah dari mana kata-kata itu datang, tatapi dalam fikiran Naqi juga ingin menunjukan pada Qari bahwa pernikahan mereka bukan pernikahan main-main.


Cyra menatap Naqi. "Mas yakin, di hati Mas sudah tidak ada lagi nama Mba Rania. Kalo Cyra mah terserah Mas saja, semua keputusan ada di tangan Mas. Cyra hanya pemain yang akan mengikuti arahan dari sang sutradara," jawab Cyra pasrah, tetapi berbeda dihatinya seolah tertaburi dengan begitu banyaknya kelopak bunga.


"Ya di coba donk, siapa tau seiring berjalanya waktu aku bisa melupakan Rania dan kita bisa bahagia dengan kehidupan kita, dan Rania dengan Adam, atau bahkan orang lain," balas Naqi dengan santai.


"Iya kalo bisa kalo tidak dan Mba Rania meminta Mas untuk balik padanya dan Mas belum bisa menghapus nama Mba Rania, lalu Mas kembali dengan Mba Rania. Aku gimana?" lirih Cyra hatinya selalu takut akan kejadian itu benar-benar terjadi sehingga hanya tinggal dia dengan luka dan kesendirianya.


"Mas, akan berusaha, berusaha konsisten dan akan melupakan Rania dan memulai hidup yang baru dengan kamu. Beri Mas waktu untuk mengganti posisi Rania di dalam hati Mas dengan nama kamu." Naqi menarik Cyra agar menatapnya.


Cyra pun menatap wajah Naqi dan mengembangkan senyum tipisnya dan Cyra memberikan jawaban dengan anggukan samar.

__ADS_1


Cyra berharap Naqi memang bisa konsisten dan bisa dipercaya dan tidak membuat Cyra kecewa. Bagi Cyra Naqi adalah segalanya. Orang pertama yang memberikan pelindungan pada dirinya dan juga orang pertama yang mengajarkan kebahagiaan, memberikan sebuah keluarga yang harmonis. Entah gimana jadinya andai tiba-tiba Naqi melepaskan dirinya ditengah-tengah harapan yang luas yang telah Cyra labuhkan kepada Naqi.


Naqi menarik tubuh mungil Cyra dalam pelukanya. Pagi yang Indah. Mungkin ini pelukan pertama kali antar Naqi dan Cyra dengan sadar setelah sekian bulan menjalin biduk rumah tangga.


"Ya Tuhan begini hangatnya ternyata berada dalam pelukan suamiku. Pantas sajah Mba Rania marah dan tidak mau melepaskan Mas Naqi ternyata dadanya sangat nyaman untuk sebuah pelukan," batin Cyra berbunga-bunga.


"Ya Tuhan semoga nanti aku bisa mengambil keputusan yang terbaik tanpa menyakiti siapa pun," lirih Naqi dalam batinya. Kebimbangan masih terdapat dalam hati Naqi, tetapi ia akan berusaha mengambil keputusan yang terbaik.


Naqi melepas pelukanya, "Yuk ah kita jalan lagi, nanti artis telat, sopir di potong gajinya," kelakar Naqi kembali ke mode gesreknya.


Cyra pun mengikuti saja, walaupun masih ingin menghabiskan waktu berpelukanya lebih lama lagi. "Ah tidak apa-apa masih banyak waktu untuk bermesraan, yang terpenting sekarang kerja," batin Cyra menghapus rasa kecewanya.


"Ra... buru-buru banget, mau ngapain emang?" tanya Naqi sembari mengulurkan tangan kananya.


"Kerja lah. Ini kurang lima belas menit lagi, makanya buru-buru biar Meta nggak marah, kalo mepet datangnya Meta suka marah," jawab Cyra tanpa tau kode dari Naqi yang mengulurkan tanganya.


"Hus... nggak mau cium tangan suami dulu, biar berkah," ucap Naqi sembari menggerakan-gerakan tangan kananya sebagai kode agar Cyra menciumnya layaknya pasangan suami istri diluaran sanah.


Cyra menyipitkan kedua matanya. "Aneh banget Mas, tumben pengin Cyra cium tangan, biasanya sajah cuek-cuek sajah kok." ucap Cyra, tetapi ia tetap menuruti kemauan Naqi. Cyra mencium tangan Naqi dengan takzim, selanjutnya Cyra kembali bergegas hendak turun.

__ADS_1


"Hati-hati kerjanya," ucap Naqi sentengah berteriak hal itu berhasil membuat langkah Cyra yang telah hampir menjauh dari mobil Naqi berbalik badan dan mengembangkan senyumnya, tetapi setelahnya Cyra menggelengak kepalanya. "Aneh banget Mas Naqi pagi ini," batin Cyra ia segera melangkahkan kakinya setengah berlari agar tidak kena ceramah dari Mpok Meta.


Setelah memastikan Cyra telah masuk, Naqi pun berjingkrak gembira, rasanya ia terlalu senang. Entah lah hatinya bahagia luar biasa setelah bisa mencoba berdamai dengan pernikahanya. Naqi merasa bahagia ketika bisa jujur dengan perasaanya. Ia ingin memulai kehidupanya yang baru dengan Cyra, mungkin saja jodoh yang kakek berikan lebih baik dari pada yang ia pilih sendiri.


Naqi kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ia akan segera menyelesaikan kekacauan laporan hari kemarin.


Sementar di rumah sakit Qari pun nampak serius dengan tumpukan map yang bahkan hampir menutupi tubuhnya yang tengah duduk di sofa. Alzam pun menunjukan perubaan yang semakin baik.


****


Satu minggu telah dilewati kini Alzam sudah diizinkan pulang. Qari dan Naqi pun sudah sejak lima hari yang lalu mulai kembali ke kantor, tetapi mereka akan menyempatkan diri mengunjungi Alzam, terlebih Qari mengunjungi Alzam tiga kali sehari seperti jam minum obat pagi hari sebelum berangkat ke kantor, siang hari di jam istirahat Qari akan kembali mengunjungi Alzam, dan sore hari setelah pulang kerja Qari kembali mengunjungi Alzam. Qari juga nampaknya tidak main-main menunjukan kesungguhan hatinya ia selalu berusaha menjaga lisanya, dengan Naqi pun kini Qari sudah sedikit lebih sopan.


Namun Alzam masih belum mau begitu saja menerima tawaran Qari, yaitu.menikahi tuan putri dari keluarga Ralf. Alzam tetap pada pendirianya ia belum mau memikirkan pernikahan, dan ia juga masih memikirkan nasib Qari yang mungkin sajah akan menyesal nantinya.


Mulai besok Alzam akan kembali ke kantor. "Al kamu besok udah mulai kerja kamu aku jemput yah," ucap Qari yang sejak pulang kerja langsung mendatangi rumah Alzam.


Alzam hanya mengangguk pasrah walaupun dalam hatinya tidak ingin merepotkan Qari.


Sedangkan Tantri, dia tetap dengan sifatnya jarang mau berbicara dengan Qari, tetapi Qari selalu mengalah dan mencoba pendekatan pada satpam kecil Alzam. Sungguh perjuangan buat Qari yang tidak main-main. Pasalnya nampaknya Tantri benar-benar tidak setuju Abangnya menikah dengan Qari. Yang Tantri cap sebagai anak manja. Namun Qari akan selalu berusaha menunjukan keseriusanya bahwa ia bisa menjadi istri dan kakak ipar yang baik. Qari berjanji tidak akan malu memiliki suami yang cacat. Yang terpenting hatinya dan kebaikanya, dan terpenting bisa membuat dia menyayangi Qari dan menghargai usahanya.

__ADS_1


#Semangat berjuang untuk Qari, dan untu Naqi jangan bikin Cyra patah hati yah Bang...


__ADS_2