
"Kamu yakin tidak mau ikut pulang bareng mamih sayang? Mamih di rumah sendirian dong? Apa kamu tidak kasihan dengan mamih?" tanya mamih pada Qari yang tidak mau ikut pulang kerumah dulu, dengan alasan ingin menenangkan pikiran. Padahal wajah mamih sudah di buat sesedih mungkin, tetapi Qari tetap dengan keputusanya tidak mau ikut pulang dulu.
"Tidak Mamih, Qari masih pengin manjain badan ini di hotel, nanti kalo udah bosen di sini Qari pasti pulang kok. Kangen juga sama kamar di rumah," jawab Qari sembari tubuhnya menggeliat menandakan bahwa ia sangat menikmati kebebasanya itu.
"Tapi kamu jangan lama-lama di hotel ini yah sayang, mamih kehilangan kalo enggak diusilin sama kamu," imbuh mamih, memang benar ketika biasa ada yang jahilin dan tiba-tiba pergi bakal kehilangan banget sih. Pasti itu yang di rasakan mamih.
Qari tertawa renyah. Mamihnya memang paling bisa banget berdrama, kalo dirinya di rumah selalu jadi teman berantem, tapi baru satu malam nginap di hotel sudah di susulin agar cepat-cepat pulang. "Iya mamih, Qari janji cuma mau puasin tidur sama main game, setelah itu pulang lagi ke kandang," balas Qari masih tersenyum lebar.
"Ish... Kamu, ya udah mamih pulang, kamu jaga diri jangan kelayapan di dalam kamar ajah, kalo lapar pesan makanan," oceh mamih menasihati anak gadisnya.
Qari hanya siap-siap seperti seorang prajurit mendengarkan perintah sang komando.
Tidak lama mamih pun pulang dan Qari mengantarkanya sampai depan loby hotel. Setelah memastikan mamih sudah pergi Qari pun kembali tanpa ada curiga apapun ia berjalan dengan langkah centilnya, seolah ia tengah berbahagia sekali karena hari ini sampai esok ia akan bebas dari pekerjaan dan lain sebagainya.
"Ini adalah hari kebebasanku, aku akan puasin dengan bermain game dan juga tidur supuasku, tanpa mandi juga," lirih Qari sembari terkekeh samar. Perasaanya sungguh bahagia, karena sangat jarang abang dan mamihnya mengizinkan keinginanya.
Tentu Qari sebelumnya sudah izin sama bos besar, sekaligus abangnya untuk tidak masuk kerja selama tiga hari, dan Naqi yang mungkin sedang kesambet setan baik, abangnya pun mengizinkan Qari untuk mengambil cuti. Mamih pun yang biasanya Qari telat pulang sedikit sajah sudah di cari-cari, kali ini mengizinkan ia menginap di hotel. "Bahagia memang sedarhana," batin Qari, tetapi wajahnya tidak henti-hentinya tersenyum dengan tanpa beban.
__ADS_1
Titt... Pintu kamarnya Qari buka, brukkk... "Apa ini kenapa pintunya enggak bisa di tutup?" batin Qari. Ia pun membuka kembali pintu yang hampir tertutup itu.
Sosok laki-laki yang sangat Qari benci tiba-tiba ada di hadapanya dengan tangan melaimbai-lambai, seolah tengah mengucapkan salam pertemuan, dan senyum yang menjijihkan terbentuk di wajah aroganya.
Qari membuang pandangan dan menghembuskan nafasnya dengan jengah.
"Ap lagi? Kenapa loe terus ikutin gue sih. Baru ajah gue merasa terbebas dari rutinitas dunia yang kejam. Loe datang mau mengacaukan hari gue yang indah ini, oh tidak akan gue izinkan," oceh Qari malas sebenarnya berurusan dengan Deon. "Entah kutukan apa kenapa aku bisa bertemu dengan manusia menjijihkan seperti dia," batin Qari, benar-benar sebal dengan Deon.
"Eh... Jangan salah gue nggak ngikutin loe, tapi loe ajah yang ngikutin gue. Kebetulan gue udah tiga hari menginap di hotel ini dan kamar kita bersebelahan," ucap Deon dengan sok ganteng dan senyum menyebalkanya.
"Lalu, buat apa loe datang ke kamar gue, balik ke kamar loe sanah. Gue empet banget mata liat loe mulu, mana jelek lagi mukanya," umpat Qari, wajah tampan seperti Deon di katain jelek. Jelas, karena bagi Qari yang paling tampan adalah Alzam seorang.
"Deon, loe apa-apaan sih. Gue enggak pernah suka sama loe dan loe jangan macem-macem karena gue bisa hancurin masa depan loe sekali tendang barang pusaka loe yah," bentak Qari tubuhnya sudah masuk kedalam kamarnya dan mengambil kuda-kuda agar Deon tidak macam-macam.
"Santai nona, gue juga enggak nafsu sama badan datar begini. Gue kesini cuma pengin kenal lebih dekat sama loe dan bisa mengobrol layaknya seorang teman. Bukan berdebat terus tidak ada ujungnya," ucap Deon. Laki-laki itu yang melihat ada kesempatan untuk merangsak masuk ke dalam kamar pun akhirnya bisa masuk ke dalam kamar Qari dan duduk di sova tanpa dosa.
Di mana seharusnya laki-laki itu ada perasaan sesal karena sudah masuk ke kamar wanita tanpa izin.
__ADS_1
Qari yang kesal langsung berjalan dengan menghentakan kakinya, sebagai tanda bahwa wanita itu tengah marah.
"Keluar...!! Loe di sini itu terlalu berbahaya nanti kalo ada abang atau mamih gue bahaya, takutya kita bakal...(Tidak dilanjutkan lagi, karena keburu di potong oleh Deon)
"Kawinin... kita bakal dikawinin kan?" tanya Deon. "Kalo gitu, ayo kita berdua-duaan terus biar mereka tau dan kita dikawinin. Aku jadi tidak harus bermimpikan kamu karena kamu sudah menjadi miliku dalam dunia nyata," goda Deon dengan memegang pergelangan tangan Qari dan menatap kedua bola mata Qari dengan tajam.
Qari berusaha menepis fikiran kotornya dan tidak terbawa dengan permainan Deon yang gila itu. Qari menarik tanganya, mencoba melepaskan dari cengkraman kuat Deon.
Sakit, dan pegal tidak lagi Qari pedulikan ketika ia mencoba menarik tanganya dengan kuat, sedangkan Deon juga menggenggamnya dengan kuat juga.
Auw... pekik Qari ketika tanganya terasa sedikit sakit karena aksinya itu.
"Loe itu keras kepala banget yah, gue juga enggak bakal nyakitin loe. Gue cuma iseng ngomong kaya gitu. Enggak mungkin gue akan bikin loe susah. Semua yang gue omongin itu adalah cuma candaan Qari," bentak Deon yang kaget ketika melihat Qari meringis karena tangan yang ia tarik tiba-tiba dan mungkin terkilir atau kenapa Qari meringis dan memegangi tanganya.
"Abisan loe itu misterius banget, gue takut loe ada maksud lain untuk mencelakai gue," dengus Qari melakukan pembelaan diri.
"Emang anak ini instingnya enggak main-main buktinya ia merasakan kalo aku deketin dia ada maksud lain dan akan membuatnya menderita sepanjang hidupnya," batin Deon sembari memprihatinkan Qari dengan teliti.
__ADS_1
"Mana mungkin gue sejahat itu. Lagian kalo loe, gue aneh-anehin kan loe bisa lapor polisi. Kayaknya loe orang tajir pasti bisa lah bayar pengacara kondang buat narik gue ke penjara," balas Deon dengan santai. "Duduk sini! Biar gue urut tangan loe, kayaknya loe terkilir deh tanganya. Kalo enggak buru-buru di urut bisa bengkak. Nanti malah enggak bisa main game. Bukan katanya loe mau main game sepuasnya," ujar Deon sembari menepuk sisi sofanya yang kosong.
Qari pun sepertinya percaya dengan omongan Deon dia berjalan perlahan dan duduk di sova samping Deon.