Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Ide Alzam


__ADS_3

Alzam tentu kaget dengan pertanyaan bosnya itu, "Apa bos lupa kalo aku itu jomblo sejati dan juga mana tahu tempat nongkrong buat kencan, laagian aneh-aneh ajah udah kayak anak ABG ajah ngajak kencan segala. Lupa kalo mereka itu duda dan janda," batin Alzam yang merasa kalo Naqi itu sedang mengece dirinya malah.


"Kenapa malah bengong kan aku tanya tempat yang biasa buat kencan, yang romantis dan bisa membuat hati senang, kamu tahu nggak?" tanya ulang Naqi.


"Maaf Tuan, mungkin Anda lupa kalo saya belum pernah pacaran, jadi saya kurang tahu tempat yang Tuan maksud," jawab Alzam jujur se jujurnya.


"Ah iya, lagian kamu payah sekali kenapa tidak kamu terima saja lamaran Qari, pasti kamu bisa sering kencan dengan adikku itu," balas Naqi dengan nada yang kurang mengenakan, terlebih ada membawa nama Qari yang notabenya dia adalah wanita yang Al hindari sejak satu tahun lebih ini.


"Mohon maaf Tuan kalo sudah tidak ada obrolan yang lain, apa saya boleh izin keluar dari ruangan ini?" tanya Alzam dengan sangat sopan, dia tidik mau menanggapi obrolan apapun yang pada ujungnya menyangkutkan pada hubunganya dengan Qari. Alzam tetap dengan pendirinya tidak akan menikahi Qari karena dia hanya ingin mengabdikan dirinya buat Tantri, malah nantinya takut mengecewakan Qari, itu alasan satu-satunya Alzam, selalu menghindari Qari, yang entah sudah berapa kali wanita itu menyatakan cinta pada Alzam.


"Tunggu dulu, baper banget sih kamu itu," sungut Naqi. "Kalo kamu belum pernah punya pacar tapi bukanya suka ada tuh di feed instagram atau beranda fecebook kalo rekomendasi tempat buat liburan keluarga atau berkencan ala-ala anak muda gitu." Naqi terus memaksa Alzam untuk memberikan satu nama tempat wisata yang membuatnya bisa untuk berjalan-jalan bersama.


Alzam pun nampak berfikir dan padahal di otaknya benar-benar dia tidak tahu tempat mana yang sekiranya bagus buat berkencan ala-ala anak muda itu. "Huh... Nasib, mending ngerjain laporan satu tumpuk dah, dari pada harus cari tempat wisata buat anak muda," dengus Al di dalam hatinya. Namun selanjutnya di otaknya terlintas satu nama yang dari dulu ia ingin kunjungi bersama keluarganya, tetapi malah takdir berkata lain. Keluarganya meninggal satu persatu, sehingga ia sampai sekarang belum sempat mengunujungi tempat tersebut.


"Ah, kayaknya kalo ke RAGUNAN itu tempat yang cocok bos, selain teduh, di sana juga banyak mainannya," usul Alzam yang langsung saja Naqi melotot heran dengan asistenya itu kenapa ia malah mengusulkan diri ke kebun binatang itu.


"Al, aku tanya kamu itu serius yah, tapi kenapa kamu malah ajak aku bercanda," balas Naqi dengan wajah yang merah menahan marah.


Alzam hanya menunduk, dia hanya kefikiran nama kebun binatang itu sehingga Al tidak tahu kalo Naqi bakal marah.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ada rekomendasi tempat wisata yang lain?" tanya Naqi lagi, dia terus saja mencecar Alzam untuk mengatakan tempat wisata yang Alzam tahu, sudah di katakan bahwa laki-laki itu adalah jomblo sepanjang hidupnya, sehingga tidak akan tahu tempat buat kencan. Alzam dibuat pusing dengan pertanyaan bosnya itu.


"Kalo tidak Ragunan coba Bos ajah ke Ancol," usul Alzam matanya ia tutup soal ia takut bahwa Naqi akan meledak kemarahanya.


"Ancol, main ke Dufah yah." Naqi nampak menimang-nimang usul Alzam kali ini. Ia berfikir bahwa dufan tempat yang tidak terlalu buruk dan juga di dufan banyak wahana mainan, mungkin saja Cyra mau mencobanya.


"Kalo gitu udah kamu balik kerja ajah sanah, kerjaann kamu sudah banyak menumpuk," ujar Naqi dengan mengusir Alzam, yang sudah di peras otaknya untuk mencari tempat untuk kencan ala anak muda itu.


Alzam mengelus dadanya sebagai tanda bahwa ia sudah lega dengan hukuman Naqi. Yah dia menganggap ini hukuman dari bosnya itu, karena otaknya di paksa berfikir keras, sehingga yang ada perutnya lapar lagi.


*****


Rania lagi-lagi hanya menunduk dan tidak menjawab sepatah kata pun ucapan Adam.


"Liat aku Rania! Tatap aku! Kalau kamu tidak mau berbicara juga aku hitung sampai tiga. Anggap saja kita tidak pernah membahas pernikahan," ucap Adam dengan tegas.


Rania pun mengangkat wajahnya dengan sigap, dan langsung menatap Adam meskipun Adam tahu tatapanya tetap kosong tanpa rasa.


"Aku ingin keluar dari rumah itu, tapi sekali lagi tolong rahasianakan keinginanku ini. Kamu jangan sampai mengatakan pada siapa pun karena aku tidak lagi ingin membuat kekacauan di rumah itu. Cukup kepergian Qari sebagai akhir dari masalah yang aku timbulkan," ucap Rania bola matanya merah dan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Alasan detainya apa ada yang lain, yang membuat kamu tidak betah di rumah itu?" tanya Adam matanya masih saling menatap tajam.


"Tidak, aku hanya ingin pergi dari rumah itu dan tidak terjadi salah paham lagi terutama kalau Luson sudah datang, dia selalu pergi meninggalkan masalah bagi aku. Sehingga aku selalu terperosok kedalam masalah-masalah yang baru lagi. Aku lelah, aku hanya ingin tenang dalam hidup ini," jawab Rania, kali ini pandanganya sudah ia alihkan ke dalam tangan yang ia letakan di atas meja kerja Alzam.


"Ada alasan lain lagi?" tanya Alzam memastikan bahwa yang membuat Rania ingin menikah dengannya hanya masalah perlakuan ayah yang menjadi kecemburuan antara anak yang lain.


Rania lagi-lagi menggeleng, dia memang tidak ada alasan lain yang membuat dia ingin keluar dari rumah mewah itu.


"Jadi hanya itu alasanya? Kalau kaya gitu kamu memanfaatkan aku?" tanya Adam, kecewa dengan jalan fikiran Rania. Laki-laki yang berproesi sebagai sebagai dokter itu bahkan hatinya sudah berbunga-bunga karena mengira bahwa Rania membalas cintanya tetapi lagi-lagi ia menelan pil pahit, bahkan sepertinya ia justru menelan racun.


Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Adam wajahnya langsung murung begitu mendengar jawaban Rania.


Rania pun yang merasa perubahan di diri Adam langsung memutar ingatanya mungkin saja ada ucapan yang membuat Adam kecewa. Sampai Rania sadar pertanyaan terakhir.


"Oh ya Tuhan," batin Rania, rasanya ia merasa sangat bersalah dengan apa yang ia katakan. Dan buru-buru ia mencari kata-kata yang bisa membuat Adam bahagia lagi.


"Kamu, laki-laki yang selama ini ada di hatiku, tetapi aku takut mengecewakan kamu karena kondisi fisiki. Jujur aku suka kamu sejak pertama kamu mendekati aku. Meskipun aku mencoa membenci kamu, tapi aku tidak bisa. Kamu terlalu sempurna sehingga aku tidak menemukan satu titik keburukan pun dari diri kamu. Maka dari itu aku memberanikan diri menemui kamu, selain kamu bisa bantu aku. Aku juga berharap bahwa aku dan kamu bisa saling mencintai untuk selamanya," ucap Rania dengan jujur. Malu sih tapi dari pada tidak jujur yang ada Adam marah dan tidak jadi menikahi dia.


Seulas senyum kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Adam. "Kalo begitu nanti malam aku akan datang menemui keluargamu. Kamu share lock sajah biar aku tidak bingung nyari alamat ruahmu."

__ADS_1


#Cie... Cie...dokter Adam bahagia bener, yang mau kawin gas Bang...


__ADS_2