
Cyra yang awalnya kaget ketika melihat Rania keluar dari rumah Tuan Latif, seperkian detik kemudia langsung menarik bibirnya mengembangkan senyum terbaiknya, sebagai sapaan dari jauh. Rania pun melakukan hal yang sama meskipun terlihat jelas di wajahnya ketegangan.
Mamih melepaskan pelukan dirinya dan Cyra. "Ayo masuk sayang!" ajak mamih yang saking bahagianya Cyra datang kerumah ini sampai lupa bahwa mereka berpelukan sudah terlalu lama. Cyra pun mengikuti kemauan mamih berjalan masuk kerumah.
"Astagah Mamih, Mas Naqi mana?" pekik Cyra yang sudah hampir sampai di depan rumah, tetapi ia baru sadar Naqi yang masih sakit mereka tinggalkan.
"Ya ampun Mamih juga sampai lupa sama anak sendiri. Dia bisa jalan kan?" tanya mamih masih dengan wajah cemasnya.
"Bisa dong Mih, kan yang sakit punggungnya," kekeh Cyra, sembari akan berbalik menghampiri Naqi yang masih tertinggal di belakangnya.
"Biar Naqi sama Mamih kamu masuk saja sayang, pasti kamu juga capek kan dari kemarin di rumah sakit, jagain anak mamih. Sekarang biarkan Naqi sama Mamih." Mamih pun langsung berbalik dan menghampiri Naqi yang masih tertinggal di belakang. Sedangkan Cyra menghampiri Rania yang masih berdiri di samping pintu guna menyambut Cyra dan Naqi.
"Mba, apa kabar? Sekarang kayaknya Mba Rania makin cantik," sapa Cyra sembari memeluk Rania.
Rania pun langsung membalas, memeluk Cyra dengan kencang. "Kamu bisa ajah Ra, maafkan Mba yah, Mba udah jahat banget sama kamu. Mba sebenarnya malu akan bertemu sama kamu. Malu karena Mba sudah sangat jahat sama kamu." Suara Rania sudah bergetar karena dirinya mencoba bertahan agar tangisnya tidak pecah.
Cyra mengelus punggu Rania. "Mba Rania tidak perlu meminta maaf, Cyra dari jauh-jauh hari sudah memaafkan Mba ko. Mba Rania tidak perlu merasa menyesal seperti itu, bukanya Mba Rania juga tidak tahu kalo Mba dan Mas Naqi sodara satu ayah. Semuanya terjadi sangat singkat sampai-sampai Cyra juga sempat bingung ini mimpi atau kenyataan, dan setelah di rasakan dengan sangat dalam ternyata ini kenyataan," kekeh Cyra, mencoba mencairkan suasana di mana Cyra sudah melihat Rania meneteskan air matanya.
Air mata Rania.jatuh ketika mendengar jawaban Cyra. Rania justru semakin bersalah ketika mendengar jawaban Cyra. "Kamu baik banget sih Ra, padahal aku sudah membuat impianmu hancur, tapi kamu sudah memaafkan aku sebelum aku sendiri yang datang kepadamu dan meminta maaf. Bagai mana caranya hatimu bisa ikhlas menerima takdir yang kejam ini," batin Rania sembari menatap Cyra.
"Hay ngobrolnya jangan di luar, masuk yuk! Kita lanjutkan obrolanya di dalam rumah saja yah. Biar enak sambil ngemil-ngemil di dalam." Mamih menghampiri Rania dan Cyra sembari menuntun Naqi yang jalanya bahkan sangat lamban karena punggungnya yang berdenyut-denyut seolah lukanya akan pecah.
__ADS_1
"Kita lanjut di dalam yah Ra ngobrolnya. Mba pengin banget ngobrol banyak hal sama kamu, sekalian Mba pengin belajar memiliki hati yang baik seperti kamu," ujar Rania sembari menggandeng tangan Cyra untuk masuk ke dalam rumah kakeknya.
Cyra justru menyipitkan kedua matanya sehinga alisnya berkerut. "Mba Rania jangan muji Cyra seperti itu, karena nanti nyesel kalo tahu hati Cyra sebenarnya di samping Cyra jahil juga Cyra itu bawel banget loh," balas Cyra sembari mengikuti langkah Rania yang menuju ke sova di ruangan keluarga.
"Tapi justru sifat seperti itu yang Naqi suka loh," bisik Rania tepat di balik daun telinga Cyra.
"Jangan bicara gitu Mba, karena aku dan Naqi sekarang hanya berteman. Kita ingin memperbaiki hubungan sebagai teman saja dulu agar tidak saling menyakiti. Biarkan hubungan ini berkembang sebagai mana mestinya tanpa harus memaksa perasaan," ujar Cyra agar tidak membahas hubungan apapun itu yang bersangkutan dengan Naqi.
Yang Cyra inginkan obrolan kali ini benar-benar murni menceritakan hal yang seru-seru tanpa harus mengkuliti kejadian yang telah berlalu. Karena tidak memungkiri setiap membahas kisah yang sudah berlalu itu ada rasa sesak, dan perih di hati Cyra. Meskipun sudah belajar ikhlas dan berdamai dengan masa lalu, tetapi hati sulit untuk bekerja sama.
Cyra, Rania, Mamih dan Naqi pun akhirnya duduk di sova dan mengobrol ringan untuk salam pembuka.
Rania ingin ikut bergabung diantara obrolan mamih dan Cyra yang nampak asik mengobrol topik yang ada dikepalanya tidak menggibahkan siapa pun. Justru mereka mengobrol santai seperti membuat kue yang entah pembahasan apa saja yang ada diisi kepalanya langsung di tuangkan dan menjadi topik yang seru. Tidak jarang juga membahas A tetapi berakhir di C.
Namun biarpun pembahasan antara mamih dan Cyra seputar hal yang ringan tetapi mampu membuat obrolan mereka nampak seru dan akrab sekali. Rania akan tertawa ketika ada pembahasan yang lucu dan selebihnya hanya menyimak karena ia masih canggung dengan kebersamaan diantara keluarga barunya.
"Aku baru tahu ternyata mamih dan Cyra sedekat ini. Aku fikir hubungan mereka hanya terjalin antara mertua dan menantu, tetapi sepertinya Cyra dan mamih justru lebih terlihat seperti anak dan mamih kandungnya," gumam Naqi di dalam hatinya sembari kedua matanya mengawasi mamih dan Cyra dengan penuh perhatian.
"Naqi kenapa kamu pulang kerumah sedangkan dokter belum mengizinkan kamu pulang," tegor mamih. Ah dari tadi mamih lupa tidak berpidato pada anaknya itu. Padahal sebelum Naqi pulang mamih sudah merencanakan untuk menasihati anaknya yang bandel itu.
Cyra hanya menyimak mamih yang tengah menegor Naqi, yah memang sudah seharusnya Naqi di tegor agar tidak kebiasaan keras kepala.
__ADS_1
"Ya ampun Mih, orang tua di mana-mana akan merasa senang ketika anaknya pulang, kenapa mamih justru kebalikanya mengomelin Naqi yang baru pulang kerumah. Bahkan belum satu jam loh Naqi ada di rumah ini," protes Naqi, meskipun ia tahu bahwa mamih tidak marah sungguhan. Mamih hanya menegor agar Naqi jangan mengulang perbuatan yang buruk itu, tanpa menghakimi dan marah dengan sungguh-sungguh.
"Ya memang kamu itu pantas buat di omelin, masih mending mamih ngomel dari pada mamih cuekan kamu dan tidak peduli dengan kamu. Kamu itu keras kepala banget sih Naqi dokter itu tahu mana yang baik untuk pasienya. Tidak mungkin dokter menahan pasien yang sudah sembuh. Dokter juga sebenarnya malas punya pasien kaya kamu, udah takut jarum suntik susah juga minum obat. Kalo bukan Cyra nggak ada lagi yang mau merawat kamu. Mamih aja malas kalo ngurusin kamu yang sedang sakit. Bawelnya minta ampun," ujar Mamih membuka kartu keburukan anaknya.
Sementara Cyra menunduk menahan tawanya, memang benar yang di katakan mantan mamih mertuanya, Cyra juga paling malas kalo merawat Naqi yang sedang sakit sulut sekali untuk menelan obat. Tetapi ada rasa puas ketika berhasil mengerjai Naqi dengan benda kecil berasa pahit itu.
"Iya maaf Mih, tapi beneran deh Naqi itu bosen di rumah sakit, Naqi akan lebih cepat sembuh kalo di rawat di rumah, apalagi ada suster istimewa," oceh Naqi, dan hal itu memancing mamih untuk melebarkan kedua matanya.
"Jangan macam-macam kamu yah sama anak menantu mamih. Kalo kamu mau deketin Cyra lagi kamu harus rayu hati mamih mertuanya dulu," ucap Mamih dengan nada membunuh dan kedua mata melebar.
Nah loh Naqi kamu harus ngambil hati mamihmu sendiri. Sulit kan tantanganya?.... Kamu memang sepertinya anak pungut Naqi, mamih kamu ajah nggak berpihak sama kamu...
...****************...
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Cyra dan yang lainya. Mampir yah kekarya temen othor.
Kalian wajib banget mampir karena ceritany seru abis, jangan lupa sebelum membaca tekan fav, biar nggak ketinggalan kisahnya dan like komen jangan lupa tinggalkan yah. Yuk mampir bawa bunga atau kopi biar othornya semangat buat upnya...
Selamat membaca yah teman-teman..
__ADS_1